« Kembali

Menekuni dan Menyebarkan Musik, Semangat Pengabdian Agus ’Patub’ kepada Negeri

Tanggal : Senin, 12 November 2018 Dilihat : 1945 kali

Sikap seniman sebangsanya yang tidak menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sebangsa sendiri, membuat prihatin Agus ’Patub’. Banyak seniman yang mendamparkan diri mereka di luar negeri. Mereka bangga mengajar kesenian nusantara kepada orang-orang mancanegara di sana. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan sampai menetap di sana. ”Kini Ibu Pertiwi sedang lara, merintih, dan berdoa,” bunyi sebuah lagu. Para seniman diingatkan harus imbang, mengajar orang mancanegara dengan orang negeri sendiri.

Keadaan tersebut seakan-akan diperbandingkan Agus secara langsung dengan peserta latihan dari desa/kampung jejaring musik yang dirintis dan dibina secara mandiri, yang 'membayar'-nya dengan ketekunan, kesabaran, dan kedisiplinan latihan. Hal ini sudah cukup sebagai pondasi pembangunan manusia Indonesia yang berkebudayaan seutuhnya, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, seniman musik dan ilustrator musik Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan mencontohkan masyarakat (perkumpulan) suling bambu nusantara, dia ingin menyebarkan, menyadarkan, dan mengajarkan bahwa betapa suling bambu lebih merdu suaranya dan ramah lingkungan, dibandingkan dengan suling plastik yang hanya impor.

Setelah berlatih musik, otak menjadi tenang (rileks), dan hati terasa nyaman. Dengan demikian, kita cenderung mudah menerima dan memberi ilmu baru, misal tentang budi pekerti, cepat masuk pada alam bawah sadar, sehingga bisa meresap pada otak.

Latihan di desa/kampung-kampung, semua digratiskan, karena dia dapat ilmunya juga gratis langsung dari Tuhan. Rezeki dari pintu lain kemudian datang berlipat-lipat tidak terduga-duga dari pintu-pintu rezeki lainnya, aku Agus ’Patub’.

Bukan bermain dan berbicara mengenai musik saja, disempatkan juga melakukan diskusi ringan tentang budi pekerti, peka terhadap lingkungan, dan berbagi cerita mengenai permasalahan hubungan dengan orang tua masing-masing, umpamanya. Kelompok lain yang tidak suka kedamaian−mungkin mengganggu diskusi, misalnya, satu yang berbuat, semua kena getahnya, apalagi karena kepentingan tertentu, tersingkir dengan sendirinya. Beberapa kali mereka pernah teruji soal itu.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan frak

...
12 Des 2018

Sesuatu yang luar biasa terjadi di Kedewaguruan Mahameru (Gunung Semeru). Awan melingkar menutupi puncaknya. Peristiwa ini disebut caping gunung atau gunung yang bertopi. Konon, pada saat peristiwa itu terjadi, para dewa dan arwah leluhur turun ke bumi.

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta