« Kembali

Polemik Tanggal dan Tempat Lahir Wage Rudolf Soepratman, Usik Upaya Pelurusan Sejarahnya

Tanggal : Selasa, 22 Mei 2018 Dilihat : 1340 kali

Khidmatnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, gubahan Wage Rudolf Soepratman, dapat mempersatukan jiwa rakyat Indonesia di mana pun mereka berada. Lagu tersebut pertama kali diperdengarkan WR Soepratman secara instrumental dengan biola di hadapan peserta Kongres Pemuda kedua pada Oktober 1928 di Jakarta (Batavia, pada waktu itu).

Siapa sangka, sesuatu hal yang juga terkait dengan WR Soepratman, justru membuat bangsa ini tidak bersatu. Keterangan mengenai tempat dan tanggal lahirnya dipermasalahkan (menjadi polemik) sejumlah pihak. Mereka mempertahankan pendapatnya masing-masing, walaupun sebenarnya sudah ada upaya pelurusan sejarah.

Dokumen resmi pertama yang memuat keterangan tentang kelahiran Wage Rudolf Soepratman (diungkap Momon Abdul Rahman, kurator Museum Sumpah Pemuda, yang juga anggota panitia penulisan biografi singkat Wage Rudolf Soepratman, terbitan Museum Sumpah Pemuda) adalah putusan Pengadilan Negeri Surabaya atas perkara No. 1560/1958 SP, tanggal 12 Agustus 1958. Dalam putusan tersebut, disebutkan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada 1903 (tanggal dan bulan tidak ada), di Jatinegara.

Dokumen resmi kedua yang memuat tentang kelahiran Wage Rudolf Soepratman adalah Keputusan Presiden RI No. 016/TK/1971, tanggal 20 Mei 1971, tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Pergerakan Nasional kepada Wage Rudolf Soepratman. Dalam keppres tersebut dan piagam Bintang Mahaputera Kelas III, disebutkan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir di Jatinegara pada 9 Maret 1903. Pada dokumen ini, sudah ada tanggal dan bulan kelahiran Wage Rudolf Soepratman, yaitu 9 Maret.

Meskipun demikian, keberadaan dokumen resmi tentang kelahiran Wage Rudolf Soepratman tidak lantas menjamin bahwa yang tertulis di dalamnya sesuai dengan kenyataan, apalagi dokumen itu dibuat jauh setelah Wage Rudolf Soepratman meninggal.

Putusan pengadilan negeri Surabaya yang menyatakan bahwa WR Soepratman dilahirkan di Jatinegara, hanya untuk kepentingan legalitas formal. Putusan tersebut menunjukkan sifat subjektif sesuai dengan kepentingannya. Sejarah selalu untuk, bukan sejarah dari (history is alwais for, not history of).

Sampai dengan 1975, Wage Rudolf Soepratman diyakini lahir di Jatinegara. Hal ini dapat dimengerti, karena pada saat Wage Rudolf Soepratman lahir, ayahnya, Senen Sastrodihardjo, berdinas di Jatinegara.

Keberatan terhadap tempat kelahiran Wage Rudolf Soepratman di Jatinegara mulai muncul pada 1975, ketika bupati Purworejo, Kolonel (Inf.) Soepanto, berkunjung di Somongari yang dilanda longsor pada 1 Oktober 1975. Bupati mendapat laporan dari lurah Somongari bahwa Wage Rudolf Soepratman dilahirkan di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Keterangan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir di Purworejo, dilaporkan Martono, [sesepuh mantan anggota Brigade 17 TNI (tentara pelajar), Detasemen III (Yogyakarta, Kedu, Banyumas, Pekalongan dan sekitarnya)], kepada Presiden Soeharto pada 12 Oktober 1976. Kemudian keluar surat dari Sekretaris Militer Presiden, Letnan Jenderal Tjokropranolo, kepada Kepala Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, No. B. 1540/Setmil/C/X/76, tanggal 30 Oktober 1976, sebagai perintah untuk melakukan penelitian terhadap tempat kelahiran Wage Rudolf Soepratman. Drs. Sunjoto Kartadarmadja ditugasi untuk melakukan penelitian di Purworejo. Hasil penelitian disimpulkan bahwa Purworejo adalah tempat lahir Wage Rudolf Soepratman.

Kelahiran Wage Rudolf Soepratman pada hari pasaran “Wage”, tampaknya sudah dapat diterima semua pihak. Ada dua hari pasaran Wage yang dapat ditelaah lebih lanjut, Jumat Wage dan Kamis Wage. Kedua hari ini didapat dari dua sumber yang memberi keterangan tentang kelahiran Wage Rudolf Soepratman, yaitu Roekijem Soepratijah (kakak kandung WR Soepratman), dan Martowidjojo alias Tepok, serta Amatredjo alias Kasoem.

Ny. Roekijem Soepratijah dengan jelas menyatakan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada Jumat Wage, 9 Maret 1903 (Surabaya Post, 28 Juli 1977). Ternyata, keterangan tersebut mengandung kekeliruan. Tanggal 9 Maret 1903 jatuh pada hari Senin, bukan Jumat. Seandainya Wage Rudolf Soepratman lahir pada 9 Maret 1903, itu hari Senin, bukan hari Jumat. Sebaliknya, jika lahir pada Jumat Wage, tentunya Wage Rudolf Soepratman lahir bukan pada 9 Maret 1903.

Berbeda dengan Ny. Roekijem Soepratijah yang menyebut tanggal dengan jelas, Pak Martowidjojo alias Tepok, dan Pak Tjitroatmo alias Amatredjo alias Kasoem, tidak menyebut tanggal. Keduanya hanya menyatakan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada hari Kamis Wage, setelah Gunung Kelud meletus. Ia ingat terus peristiwa itu, karena malamnya adalah malam Jumat Kliwon. Bagi sebagian masyarakat, malam Jumat Kliwon adalah malam yang mengandung makna (lebih) dan dikramatkan, bahkan ada yang melek semalam suntuk. Tanggal lahir Wage Rudolf Soepratman harus dicari pada Kamis Wage terdekat, setelah Gunung Kelud meletus. Karena 9 Maret bukan Kamis Wage, maka dapat diperhitungkan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada 19 Maret 1903.

Martowijono dan Tjitroatmo alias Amatredjo alias Kasoem hanya tetangga, dan bukan saudara WR Soepratman, namun keduanya menyaksikan langsung kelahiran Wage Rudolf Soepratman. Martowidjojo alias Tepok, bahkan ikut selamatan selapanan (35 hari), acara potong rambut, dan pemberian nama bayi, Wage. Dipandang dari ilmu sejarah, kesaksian mereka lebih dihargai, walaupun mereka bukan saudara kandung. Mengenai tanggal kelahiran, tanggal pastinya tidak disebut, tetapi mereka dapat memberi ancar-ancar mengenai hari lahir Wage Rudolf Soepratman, yaitu Kamis Wage, setelah hujan abu Gunung Kelud.

Dengan mempertimbangkan keterangan saksi-saksi atas kelahiran Wage Rudolf Soepratman, Museum Sumpah Pemuda mengambil simpulan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada 19 Maret 1903, di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

Pencantuman tempat lahir Wage Rudolf Soepratman di Jatinegara, dalam Geboorte Acte−seandainya ada, dan nanti ditemukan−tidak dapat menghapus fakta sejarah bahwa Wage Rudolf Soepratman dilahirkan di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah.

Sebenarnya, Pemerintah Kabupaten Purworejo telah berupaya melakukan pelurusan sejarah tempat dan tanggal lahir WR Soepratman sejak 1978 (tulisan pada laman resminya, Selasa, 17 November 2009), namun saat itu hanya diperlukan tempat kelahirannya saja, dengan mendengarkan keterangan sejumlah saksi.

Pada 18 Juli 2006, diadakan seminar yang diikuti ahli sejarah, pemerhati, peneliti, dan lain-lain. Dari seminar ini disimpulkan bahwa WR Soepratman lahir di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, pada hari Kamis Wage, 19 Maret 1903. Berdasarkan hasil seminar itu, Pemerintah Kabupaten Purworejo mengajukan permohonan penetapan kepada Pengadilan Negeri Purworejo.

Kemudian, melalui Putusan Pengadilan Negeri Purworejo Nomer 04/Pdt/P/2007/PN.Pwr, tanggal 29 Maret 2007, diputuskan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir pada 19 Maret 1903, di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Putusan tersebut  telah ditindaklanjuti Pemerintah Kabupaten Purworejo (Wakil Bupati Purworejo Mahsun Zain) dengan mengajukan surat permohonan perubahan tempat dan tanggal lahir Wage Rudolf Supratman kepada pemerintah pusat, melalui sekretariat negara, pada 2008.

Keberatan masyarakat terhadap rencana penetapan tanggal peringatan hari musik, yang ”katanya” didasarkan pada tanggal lahir Wage Rudolf Soepratman, yaitu 9 Maret 1903, padahal sebenarnya adalah 19 Maret 1903, ungkap Momon Abdul Rahman, juga pernah dipertanyakan asisten deputi urusan sejarah nasional (sekarang direktorat nilai sejarah), Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, (saat itu) Prof. Dr. Susanto Zuhdi, pada semacam rapat kecil pada 14 April 2005, Toh, hari musik diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 Maret 2013, melalui Keputusan Presiden Nomer 10 Tahun 2013.

Sejarahwan dan budayawan Purworejo, Soekoso DM, mengemukakan bahwa sebagai upaya pelurusan sejarah terhadap perbedaan penetapan tempat dan tanggal lahir WR Soepratman, ada iktikad masyarakat sejarah Indonesia untuk melakukan kajian secara ilmiah. Selain itu, sesuai dengan putusan pengadilan negeri Purworejo, Soekoso juga memberi gambaran bahwa secara umum, sekarang masyarakat Purworejo telah mengetahui bahwa WR Soepratman lahir di Purworejo pada 19 Maret 1903.

Pemerintah Kota Surabaya pun, melalui Badan Arsip dan Perpustakaan (sekarang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan), mendukung upaya pelurusan tersebut, dengan mengadakan seminar, menghadirkan pakar sejarah dan kerabat, serta sejarahwan dari Purworejo. Masyarakat Kota Surabaya khususnya, dan Jawa Timur pada umumnya, diharapkan ikut andil mencari fakta mengenai kelahiran Wage Rudolf Soepratman.

Dulu, William Shakespeare pernah mengungkap melalui naskah drama ”Romeo and Juliet”, ”Apalah arti sebuah nama (what is in a name)?” Kini, tampaknya banyak orang Indonesia yang perhatiannya tidak lagi tertuju, dan tidak peduli pada tanggal lahir Wage Rudolf Soepratman, serta menganggap, ”Apalah arti sebuah tanggal?” Ironis, hingar-bingar industri musik Indonesia cenderung dipandang mata. Sedangkan upaya pelurusan sejarah mengenai tempat dan tanggal lahir Wage Rudolf Soepratman, dipandang sebelah mata. Sampai kini, hari musik nasional masih diperingati setiap 9 Maret, sejak 2013.

Pada sisi lain, diungkap Dr. Bambang Sutiyoso, S.H., M.Hum., dosen pada fakultas hukum,  Universitas Islam Indonesia, baru-baru ini (5/5/2018), bahwa walaupun normatifnya (keputusan presiden tentang hari musik) berlaku, namun pada hakikatnya, secara sosiologis sudah kehilangan maknanya. Lebih lanjut ditegaskan Bambang bahwa putusan hakim juga hukum. Karena itu, pemerintah daerah (Kabupaten Purworejo) bisa mengambil tindakan (opsi) yang tepat, disesuaikan dengan nilai sosiologis yang diyakininya.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

16 Okt 2018

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asia (Asia City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pemacu semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara

09 Okt 2018

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun de

01 Okt 2018

Berkesenian merupakan upaya masyarakat melestarikan bentuk kesenian yang dilakukan secara alami, tanpa paksaan, tidak mengejar atau mengharapkan perhatian orang, bahkan menumbuhkan semangat berkesenian secara mandiri. Masyarakat jejaring musik yang dibin

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta