« Kembali

Nilai Suatu Artefak adalah Nilai Sejarahnya

Tanggal : Kamis, 28 Juni 2018 Dilihat : 3163 kali

Nilai suatu artefak adalah nilai sejarah (historis)-nya, bukan nilai bahannya. Sebuah benda bersejarah yang tidak diketahui sejarahnya, tidak punya nilai sejarah, ungkap Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Sejarah itu bukan hanya deskripsi suatu objek, melainkan juga cara membuat benda temuan ’bisa bercerita’.

Arkeologi bisa bercerita sejarah, dengan tidak mengesampingkan peran geologi. Misalnya, terhadap candi yang ditemukan, arkeologi membacanya sebagai candi hindu buddha, dan geologi melengkapinya dengan mengungkap sebab rusak atau runtuhnya, karena tindakan manusia atau peristiwa alam. Yang dibutuhkan geologi agar bisa membuat benda temuan ’bisa bercerita’ adalah keadaan sebelum diapa-apakan, yaitu keadaan suatu benda di tempat ditemukannya, dan belum ada tindakan apapun. Bila bukan demikian, rawan kehilangan cerita (data) masa lalu yang mungkin tersimpan. Dibandingkan dengan bahasa ilmu kepolisian, geologi (paleontologi) itu ahli forensiknya. Di sini dicoba mereka ulang masa lalu, dari keadaan di tempat temuan.

Nilai historis suatu artefak dapat diketahui dari tempat ditemukan. Jika ditemukan di pasar dibandingkan dengan yang ditemukan dari penggalian di sungai, tentu berbeda nilainya. Mungkin ada juga dari menggali di sawah, ditemukan patung, kemudian dijual di pasar. Orang lain bisa saja tidak percaya, karena diduga dibeli di Muntilan. Ada lagi, misalnya, orang membeli patung di Muntilan, kemudian dipendam, dan berpura-pura mengaku telah menemukan dari hasil menggali. Dengan ilmu geologi, keaslian bahan bisa diketahui. Sayang, seandainya sudah diambil dari tempat asalnya, sehingga tidak diketahui lagi tempat pastinya, sebelum sempat diperiksa ahlinya, segala informasi pada benda menjadi hilang. Dari segi ilmu geologi, benda itu kurang bermanfaat, namun dari segi arkeologi masih bisa dimanfaatkan, sekurang-kurangnya ditempatkan di museum.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Nov 2018

Lukisan kuno yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain laya

12 Nov 2018

Sikap seniman sebangsanya yang tidak menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sebangsa sendiri, membuat prihatin Agus ’Patub’. Banyak seniman yang mendamparkan diri mereka di luar negeri. Mereka bangga mengajar kesenian nusantara kepada orang-orang ma

...
05 Nov 2018

Macapat Massal Non Stop Selama 72 Jam Kabupaten Bantul M ACAPAT merupakan seni Tradisiyang berkembang di Bantul. Gawe ataupun Hajatan itu bertemakan ‘’ MacapatMassal Non Stop Selama 72 Jam”, rangkaian acara tersebut berjalan lancar dansukses.

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta