« Kembali

Nilai Suatu Artefak adalah Nilai Sejarahnya

Tanggal : Kamis, 28 Juni 2018 Dilihat : 502 kali

Nilai suatu artefak adalah nilai sejarah (historis)-nya, bukan nilai bahannya. Sebuah benda bersejarah yang tidak diketahui sejarahnya, tidak punya nilai sejarah, ungkap Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Sejarah itu bukan hanya deskripsi suatu objek, melainkan juga cara membuat benda temuan ’bisa bercerita’.

Arkeologi bisa bercerita sejarah, dengan tidak mengesampingkan peran geologi. Misalnya, terhadap candi yang ditemukan, arkeologi membacanya sebagai candi hindu buddha, dan geologi melengkapinya dengan mengungkap sebab rusak atau runtuhnya, karena tindakan manusia atau peristiwa alam. Yang dibutuhkan geologi agar bisa membuat benda temuan ’bisa bercerita’ adalah keadaan sebelum diapa-apakan, yaitu keadaan suatu benda di tempat ditemukannya, dan belum ada tindakan apapun. Bila bukan demikian, rawan kehilangan cerita (data) masa lalu yang mungkin tersimpan. Dibandingkan dengan bahasa ilmu kepolisian, geologi (paleontologi) itu ahli forensiknya. Di sini dicoba mereka ulang masa lalu, dari keadaan di tempat temuan.

Nilai historis suatu artefak dapat diketahui dari tempat ditemukan. Jika ditemukan di pasar dibandingkan dengan yang ditemukan dari penggalian di sungai, tentu berbeda nilainya. Mungkin ada juga dari menggali di sawah, ditemukan patung, kemudian dijual di pasar. Orang lain bisa saja tidak percaya, karena diduga dibeli di Muntilan. Ada lagi, misalnya, orang membeli patung di Muntilan, kemudian dipendam, dan berpura-pura mengaku telah menemukan dari hasil menggali. Dengan ilmu geologi, keaslian bahan bisa diketahui. Sayang, seandainya sudah diambil dari tempat asalnya, sehingga tidak diketahui lagi tempat pastinya, sebelum sempat diperiksa ahlinya, segala informasi pada benda menjadi hilang. Dari segi ilmu geologi, benda itu kurang bermanfaat, namun dari segi arkeologi masih bisa dimanfaatkan, sekurang-kurangnya ditempatkan di museum.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Sep 2018

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungny

...
09 Sep 2018

Sabtu (8/9) desa Gilangharjobekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan sosialisasiUU Desa dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SDI).  Muhammad Eko Atmojo, S. IP, M. IP selaku narasumber memaparkan, “Program ini termasuk pada k

07 Sep 2018

Belajar bermain musik (memainkan nada) secara tertata (sistematis) ala Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dimulai dari mengolah dan mengasah kepekaan akan bunyi. Bahan bakunya tersedia berlimpah di lingkungan sekitar kita. Bunyi yang alami bersumber dari per

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta