« Kembali

Menyikapi Bahasa Tutur dan Bahasa Baku dalam Bahasa Jawa

Tanggal : Sabtu, 30 Desember 2017 Dilihat : 1220 kali

Bahasa Jawa sebagai bahasa tutur (bahasa percakapan sehari-hari), diungkap pemerhati bahasa Jawa, Paksi Raras Alit, memang berbeda dengan bahasa bakunya. Semua bahasa punya gejala seperti itu. Kita belajar bahasa Inggris, sebagaimana bahasa Jepang, bahasa Indonesia, dan lain-lain, kalau dalam bertutur (percakapan), tidak mungkin baku. Kalau percakapan dalam bahasa Inggris, ada menyingkat-nyingkat, atau slang-nya, bahasa Jawa juga begitu, ngokonya juga, seperti luweh (dibiarkan demikian).

Kalau bahasa yang baku, memang harus dipelajari, karena pada bahasa yang lain, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahasa tersebut sudah dikembangkan sedemikian rupa dan punya kurikulum yang tepat, misalnya ada TOEFL (bahasa Inggris Amerika), atau ujian negara (bahasa Indonesia). Sedangkan bahasa Jawa, belum sampai pada taraf seperti itu.

Menurut Raras Alit, instansi pendidikan-lah yang paling bertanggung jawab untuk membetulkan bahasa Jawa yang baku atau yang benar. Kalau bahasa sehari-harinya, biarkan saja dengan keadaannya seperti sekarang, karena perkembangan bahasa tutur (percakapan) memang seperti itu, dan pasti akan mengalami perubahan yang bermacam-macam gejalanya.

Terkait dengan aksara Jawa, dia menyampaikan keinginannya mengenai perbaikan penulisan aksara Jawa pada papan nama jalan. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama, agar tidak berlarut-larut, dan menimbulkan polemik. Sebagai tindak lanjutnya nanti, disepakati semacam aturan penuntun, yaitu paugeran Sriwedari dan paugeran dari kongres bahasa Jawa 1996, 2000 dan 2016.

Kalau mau nguri-uri aksara Jawa, sudah cukup dengan belajar baca tulis dan diterapkan dalam kehidupan. Justru kultus dan mitologi yang menyelubungi aksara Jawa yang selama ini menjadi semacam senjata makan tuan terhadap gejala kepunahan aksara Jawa. Predikat klenik, mistis, magis itulah penghambat lestarinya aksara Jawa, bahkan demikian parahnya, masih ada orang yang dicap klenik, kejawen, ghoib, karena menyimpan dan mempelajari kitab kuno dengan tulisan aksara Jawa.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

24 Mei 2018

Terlepas dari pesan lain yang tersirat, seperti perbedaan pemahaman antarmanusia, perubahan dalam hubungan kemasyarakatan, pada pementasan monolog ”Baitarengka” (arti harfiahnya adalah kapal retak), yang ditulisnya sendiri, terbersit keprihatinan Tr

22 Mei 2018

Khidmatnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, gubahan Wage Rudolf Soepratman, dapat mempersatukan jiwa rakyat Indonesia di mana pun mereka berada. Lagu tersebut pertama kali diperdengarkan WR Soepratman secara instrumental dengan biola di hadapan peserta

...
21 Mei 2018

Ngayogjazz di Petilasan Selo Gilang Ngayogjazz yang merupakanfestival musik jazz tahunan Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakanoleh para seniman dan komunitas musik jazz lokal Yogyakarta sejak 2007. Pada tahunini Ngayogjazz akan menjalin kerja s

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta