« Kembali

Menyikapi Bahasa Tutur dan Bahasa Baku dalam Bahasa Jawa

Tanggal : Sabtu, 30 Desember 2017 Dilihat : 798 kali

Bahasa Jawa sebagai bahasa tutur (bahasa percakapan sehari-hari), diungkap pemerhati bahasa Jawa, Paksi Raras Alit, memang berbeda dengan bahasa bakunya. Semua bahasa punya gejala seperti itu. Kita belajar bahasa Inggris, sebagaimana bahasa Jepang, bahasa Indonesia, dan lain-lain, kalau dalam bertutur (percakapan), tidak mungkin baku. Kalau percakapan dalam bahasa Inggris, ada menyingkat-nyingkat, atau slang-nya, bahasa Jawa juga begitu, ngokonya juga, seperti luweh (dibiarkan demikian).

Kalau bahasa yang baku, memang harus dipelajari, karena pada bahasa yang lain, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, bahasa tersebut sudah dikembangkan sedemikian rupa dan punya kurikulum yang tepat, misalnya ada TOEFL (bahasa Inggris Amerika), atau ujian negara (bahasa Indonesia). Sedangkan bahasa Jawa, belum sampai pada taraf seperti itu.

Menurut Raras Alit, instansi pendidikan-lah yang paling bertanggung jawab untuk membetulkan bahasa Jawa yang baku atau yang benar. Kalau bahasa sehari-harinya, biarkan saja dengan keadaannya seperti sekarang, karena perkembangan bahasa tutur (percakapan) memang seperti itu, dan pasti akan mengalami perubahan yang bermacam-macam gejalanya.

Terkait dengan aksara Jawa, dia menyampaikan keinginannya mengenai perbaikan penulisan aksara Jawa pada papan nama jalan. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama, agar tidak berlarut-larut, dan menimbulkan polemik. Sebagai tindak lanjutnya nanti, disepakati semacam aturan penuntun, yaitu paugeran Sriwedari dan paugeran dari kongres bahasa Jawa 1996, 2000 dan 2016.

Kalau mau nguri-uri aksara Jawa, sudah cukup dengan belajar baca tulis dan diterapkan dalam kehidupan. Justru kultus dan mitologi yang menyelubungi aksara Jawa yang selama ini menjadi semacam senjata makan tuan terhadap gejala kepunahan aksara Jawa. Predikat klenik, mistis, magis itulah penghambat lestarinya aksara Jawa, bahkan demikian parahnya, masih ada orang yang dicap klenik, kejawen, ghoib, karena menyimpan dan mempelajari kitab kuno dengan tulisan aksara Jawa.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
14 Feb 2018

Kegiatan pemutaran film di desa yang dirancang Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin semarak dengan pengadaan sarana berupa otomobil film. Warna yang cerah dan hiasan gambar dengan corak khas Yogyakarta, cukup menarik perhatian. Keberada

14 Feb 2018

Membuka kembali rekam jejak masa lalu wayang wong sebagai seni komersial-populer (k-pop), terutama pada bagian yang membeberkan keadaan para pelakunya, yang sekuat tenaga berusaha menyambung hidup dari menekuni seni wayang wong, merupakan pelajaran ber

...
10 Feb 2018

Pameran Seni Rupa UNY yang digagas oleh mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa dan Kriya UNY angakatan 2016, pameran bertakjub “Nyawiji Ing Kluwung” .Langkah awal angkatan 2016 untuk menunjukan karya sebagai diplomasi: Srawung budaya, srawung ilmiah

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta