« Kembali

Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar

Tanggal : Kamis, 1 November 2018 Dilihat : 7694 kali

Sekira tahun 1965−1970-an, di Yogyakarta dan Surakarta pernah horeg (sering orang bilang geger, terdengar banyak orang), persangkaan bahwa wayang kulit bakal punah, ungkap Trisno Santoso, yang sering dipercaya sebagai juri wayang tingkat regional dan nasional. Dilihat dari gelagatnya pada waktu itu, akan kalah dari wayang kaset yang banyak diperdagangkan, produksi Irama Record, Singa Barong Record, Lokananta Record, Borobudur Record, dan lain-lain. Cukup dengan tape recorder, dilengkapi Toa (pengeras suara), yang ditali pada pohon kelapa atau pohon yang tinggi.

Pada waktu itu, masih jamak wayang dipertunjukkan semalam suntuk. Anak kecil yang gemar wayang, mencuri-curi kesempatan, bahkan sering membolos, agar bisa mendalang, atau sekadar ikut membantu dalang. Tidak mengherankan bahwa guru-guru menemukan anak yang mengantuk di kelas.

Trisno ’Pelog’ (sapaan akrab Trisno Santoso sejak giat di teater), dosen ISI Surakarta, yang pernah mengalami sendiri masa sulit ketika anak-anak ingin menonton wayang, mengungkap bahwa ketika beranjak remaja, anak diperbolehkan orang tua untuk menonton pertunjukan wayang, namun pada malam minggu saja. Meskipun demikian, sekali-sekali sang anak mencuri waktu menonton wayang, memanfaatkan kelengahan orang tua ketika mereka tertidur. Sekali waktu, dengan ngincang-inceng (melihat dari jauh) si anak mengetahui bahwa orang tuanya ikut menonton di tempat yang sama. Sebelum pertunjukan selesai, sang anak segera kembali ke rumah.

Ketika ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah pedalangan pun, anak tidak direstui kedua orang tuanya, karena dianggap tidak menguntungkan bagi masa depan. Dalam bayangan orang tua yang demikian, kalau dalang disenangi orang, bisa hidup enak seperti bangsawan, namun jika tidak kesampaian, paling hanya memelihara bebek.

Sekarang, terbukti bahwa wayangan tetap bertahan. Meskipun demikian, kalangan dalang merasa khawatir, karena sudah sulit bersambung rasa dengan pemuda masa kini. Trisno ’Pelog’ menganggap bahwa yang dimaksud pemuda masa kini oleh para dalang adalah anak-anak yang masih duduk di sekolah menengah atas kebawah. Diperkirakan bahwa setelah menginjak perguruan tinggi, mereka bisa dekat, karena menemukan sesuatu pada wayang.

Penonton wayang sekarang ini adalah mahasiswa keatas. Siswa sekolah menengah atas belum mau membaca Anak Bajang Menggiring Angin misalnya, tulisan Rama Sindunata, yang malah dicari-cari mahasiswa.

Merosotnya perhatian terhadap wayang, juga dirasakan Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Harus dicari resep yang jitu untuk mengurai kesulitan yang dialami dunia pewayangan masa kini, kemuka Ki Edi. Para pihak diajak untuk ikut memiliki, bertanggung jawab, dan berani melakukan perbaikan untuk kebaikan bersama. Selain perbaikan sistem, kemasan dalam pertunjukan, diperlukan juga sikap bermawas diri dalang beserta kelompoknya, serta menyikapi kebanyakan orang yang awam atau tidak paham akan kebiasaan (attitude) pedalangan. Bila tidak ditindaklanjuti, hal ini rawan memperlebar dan mempertajam geseh di dalam (konflik internal).(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Des 2018

Sekarang ini, masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya, dan masyarakat lain pada umumnya, dapat dengan mudah mengetahui film dan karya audio visual Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui katalog film online, dengan tautan (link) ht

19 Des 2018

Wayang itu anekatafsir. Jadi, mau dinaskah sesuai dengan keadaan sekarang, sangat memungkinkan. Bukan hanya lakon Pandawa Dadu, melainkan seperti Wiratha Parwa, dan lain-lain, juga bisa, ungkap Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta.

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan fra

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta