« Kembali

Mau Dibawa ke Mana Peradaban Seni Daerah Istimewa Yogyakarta?

Tanggal : Jumat, 28 September 2018 Dilihat : 3202 kali

Ada yang putus pada mata rantai pengetahuan utuh mengenai macam budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Mungkin hal ini hanya dimiliki siswa sekolah menengah karawitan, atau mahasiswa yang kuliah di institut seni, dan lain-lain. Agus ’Patub’ Budi Nugroho mempertanyakan arah peradaban seni Yogyakarta. Apakah hanya untuk orang yang mau menekuni kesenian, atau yang ikut ambil bagian (memperlakukan kesenian sebagai media partisipatif), ataukah hanya akan dikuasai orang-orang yang itu-itu saja (selama ini selalu mendapat kesempatan, karena hal ini tidak pernah terbuka untuk umum)?

Ditengah derasnya pengaruh budaya global, dan kegagapan menegaskan ciri khas budaya sendiri/setempat, masyarakat dari Daerah Istimewa Yogyakarta dalam jejaring masyarakat musik, sungguh-sungguh belajar musik angklung (juga lainnya, seperti suling dan gamelan mini) dari nol sampai menjadi bisa, bukan karena seniman, melainkan masyarakat awam, seperti petani, pedagang, tukang sayur, dan lain-lain. Lagu yang dimainkan adalah Gethuk, Lir Ilir, Lela Ledhung, dan lain-lain. Kecuali kalau yang dimainkan lagu Cing Cakeling, baru boleh menyebut bahwa itu dari Sunda. Sering ada yang menganggap bahwa angklung itu kebudayaan Jawa Barat. Ini salah kaprah, tegas Agus ’Patub’, perintis dan penggerak jejaring masyarakat musik.

Selama ini, mereka tahunya latihan, bersemangat, datang, ada atau tidak ada pentas. Pentas atau acara (event) hanya sekejap. Proses belajar dan pembelajaran banyak hal selama latihan, itulah pentas sesungguhnya. Mereka pun masih nombok/menalangi bersama kegiatan mereka, juga menabung sedikit demi sedikit. Sampai kini, tidak pernah ada kesempatan bagi mereka (kegiatan mereka tidak mendapat perhatian yang sepatutnya dari pemerintah daerah).

Perlu duduk bersama, untuk mengetahui keinginan pemerintah pusat, pemerintah daerah, seniman, orang-orang yang tidak pernah tersentuh dinas, sanggar/kelompok seni, juga masyarakat umum, dan ada tokoh yang tidak berpihak−seperti tidak condong pada Sleman, atau Bantul, tidak gengsi karena gelar. Ini dilakukan untuk menata bersama peradaban seni Daerah Istimewa Yogyakarta. Ibarat lesehan, dengan gelar tikar (duduk bersama) bisa terpancar rasa jujur dan lugas, tanpa kecenderungan (tendensi) keaku-akuan, cetus Agus..Pada kegiatan ini dijelaskan mengenai suling Yogyakarta, suling Surakarta, juga suling bambu nusantara. Begitu pula dengan angklung, mana angklung Yogyakarta, angklung Sunda (Tasikmalaya atau Bandung), angklung jathilan (Borobudur, Magelang, atau Yogyakarta, topeng ireng atau warakan), dan lain sebagainya. Mungkin juga merambah pada tari Gambyong, dan tari Golek (ini yang punya Surakarta atau Yogyakarta, misalnya).

Seakan-akan tidak peduli akan pembicaraan mengenai upaya penataan tersebut mengarah ke mana, setiap Senin sore, masyarakat suling bambu nusantara berlatih bersama di Ambarrukmo (sejak 2012), setelah pernah 2009−2012 di Taman Budaya Yogyakarta. Sedangkan masyarakat jejaring musik, di desa/kampung mereka masing-masing. Sekarang ini, sejak masyarakat suling bambu nusantara didirikan pada 2004, Agus ’Patub’ Budi Nugroho sudah membangun jejaring dengan masyarakat di Purwomartani, Kalasan, kemudian sejak 2010, berturut-turut di Ngaglik, Turi, Godean, Murangan, Bausasran, smk satu Depok (guru dan siswa), serta Kadirojo, Kalasan. Sedangkan yang baru 2,5 tahun yang lalu berdiri, di Ngangkruk, Caturharjo, Sleman, untuk berlatih gamelan mini dan angklung. Dalam perkembangannya, jejaring tersebut terhubung dengan sudagar Pasar Sasen, sejak 2012.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

10 Des 2018

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri d

06 Des 2018

Situ Panjalu dikaitkan dengan sang Prabhu Sultan Borosngora. Catatan tradisi menyebutkan bahwa Sang Prabhu Borosngora bertemu dengan Bagindha Ngali sekira 635 Masehi, di Situ Panjalu. Bagindha Ngali membimbing sang Prabhu Borosngora dengan ajaran agama, h

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta