« Kembali

Dinas Kebudayaan DIY kaji upaya tumbuhkan rasa peduli dan perhatian masyarakat terhadap seni budaya

Tanggal : Senin, 3 Desember 2018 Dilihat : 7021 kali

Perhatian masyarakat untuk menonton kegiatan seni budaya dinilai masih rendah, prihatin Singgih Raharjo, S.H., M.Ed., wakil kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Digratiskan saja, mereka pating slentir, dengan berbagai macam alasan, entah tidak peduli, karena hujan, dan lain sebagainya, apalagi harus membayar. Artinya, tidak ada kesadaran dari diri sendiri bahwa kegiatan seni budaya patut mendapat perhatian.

Keprihatinan tersebut tercetus ketika pementasan sendratari klasik Jepang, “Noh”, di pendapa Dinas Kebudayaan DIY, pada Minggu malam, 2 Desember 2018, ditunda selama satu jam, karena menunggu penuhnya penonton. Pada kesempatan ini, Noh digabungkan dengan unsur seni Jawa dan Bali (cerita tentang bhinneka tunggal ika dari kitab Sutasoma), merupakan kerja sama seniman Tokyo, Jepang, dengan Didik Nini Thowok. Setelah Yogyakarta, Didik Nini Thowok melanjutkan muhibah kesenian ke Bali, dan dipungkasi di Tokyo.

Kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan, kemuka Singgih Raharjo. Nantinya, Dinas Kebudayaan DIY berupaya mengadakan semacam subsidi pementasan. Hal ini penting untuk mendidik masyarakat dan memberi mereka pembelajaran, terkait dengan perlunya sikap perhatian itu sendiri.

Sekarang ini, pemda DIY dan kabupaten/kota boleh disebut sebagai penanggap rutin kegiatan para seniman dan kelompoknya. Seluruh beayanya, bahkan penontonnya dibayarkan (tinggal duduk manis menonton), ditanggung penuh pemerintah daerah. Meskipun demikian, Singgih Raharjo mengajukan pertanyaan, ”Apakah itu merupakan cara yang baik (mendidik masyarakat)?”

Upaya tersebut perlu dicoba atau dikaji, karena penting bagi masyarakat, agar tumbuh rasa peduli dan perhatian mereka terhadap seni budaya negeri sendiri. Secara bertahap, sedikit demi sedikit, cara tersebut (subsidi pementasan) diterapkan dulu pada beberapa pergelaran. Karcis masuk kurang dari setengah harga saja, misalnya, sehingga dapat membantu masyarakat yang punya minat menyaksikan.

Seniman dan kelompoknya diingatkan juga bahwa perlu belajar terus memperbaiki pengelolaan kegiatannya, mengambil sepenuhnya manfaat suatu kegiatan. Seniman perlu memahami bahwa karya yang bagus memerlukan manajemen penonton, atau manajemen pertunjukan yang bagus pula.

Karyanya sudah bagus, penarinya apik, ceritanya juga bagus, namun itu saja belum cukup. Perlu diimbangi dengan upaya pengelolaan pertunjukan sedemikian rupa punya daya tarik, sehingga dapat mengundang perhatian masyarakat. Bukannya menunggu penonton datang, atau diminta datang, melainkan malah masyarakat antre ingin menyaksikan. Merupakan capaian yang luar biasa, pungkas Singgih Raharjo, kalau hal itu bisa diwujudkan.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta