« Kembali

Eddy Gombloh, Mencari Ketenangan dengan Kembali Ke Yogyakarta

Tanggal : Kamis, 2 Juli 2015 Dilihat : 6466 kali

SLEMAN - Para penggemar film komedi di tahun 70-an sampai 90-an tentu tidak asing dengan nama Gombloh, setidaknya ada dua Gombloh yang dikenal masyarakat yang satu adalah seorang penyanyi dan satunya adalah pelawak yang sudah membintangi puluhan film yang mayoritas bergenre komedi.

Pelawak yang memiliki nama lengkap Eddy Gombloh Supardi tersebut kini sudah menginjak usia 74 tahun, di usia senjanya dia mencari ketenangan dengan kembali ke tanah kelahirannya di Yogyakarta.

Ditemui di rumahnya di Sono Wetan, Merdiko Rejo, Tempel Sleman Senin (6/7/2015), Gombloh yang masih nampak sehat untuk orang seusianya menyambut dengan ramah, dirinya baru saja selesai menjalani operasi penyakit katarak di RS Sardjito.

Di rumah yang juga difungsikan sebagai tempat usaha foto kopi dan toko alat tulis tersebut berjajar poster-poster dari film-film yang pernah dibintanginya, seperti 'Inem Pelayan Seksi', 'Biang Kerok' '3 Janggo', 'Tukang Ngibul', dan lainnya, nampak pula fotonya saat bersama presiden kedua Indonesia, Soeharto.

Gombloh yang lahir pada 17 Agustus 1941 di Gondolayu Jetis Yogyakarta akhirnya kembali ke kampung halamannya, setelah 54 tahun merantau hingga membesarkan namanya di Jakarta.

"Sudah 5 tahun kembali ke sini, hawane penak di sini. Di Jakarta kan panas penuh nyamuk banjir lagi," ceritanya.

Ketenaran yang pernah diraihnya sendiri memiliki cerita panjang, berawal dari keikutsertaannya pada panggung pelajar RRI Yogyakarta pada awal tahun 60an akhirnya salah seorang rekannya mengajalnya ke Jakarta pada tahun 1962.

Pria yang memulai karirnya sebagai pemain ketoprak, memulai karirnya di Jakarta sebagai figuran di beberapa film, yang dia sendiri sudah lupa judulnya.

Sebelum akhirnya menjadi bintang utama pada beberapa film yang melambungkan namanya sebagai salah satu legenda lawak Indonesia, bersama teman-teman seangkatannya seperti Benyamin, Ateng, Bagio dan lainnya.

"Sama Benyamin itu yang paling dekat soalnya bareng dari nol, naik becak naik angkot kemana-mana bareng," ujarnya, nampak matanya berkaca-kaca saat menceritakan sahabatnya yang sudah meninggal tersebut.

Waktu yang terus berjalan membuat namanya mulai jarang terdengar apalagi dengan munculnya banyak artis dan pelawak baru.

Walaupun masih sering melawak namun kemunculannya di televisi sudah tidak sebanyak di masa jayanya di tahun 80an. Terakhir dia masih sempat diajak komedian Mandra untuk sebuah film komedi 'Jenggo' sebanyak 23 episode pada 2011 yang belakangan tersangkut kasus korupsi tender TVRI.

"Sudah 23 episode (selesai) malah kena kasus itu," ujarnya.

Dia berharap kasus yang mendera koleganya tersebut dapat segera selesai.

Seusai menyelesaikan proyek terakhirnya itulah, dia didampingi sang istri dan putri bungsunya akhirnya memutuskan kembali ke Yogyakarta dan menetap di rumahnya yang sekarang.

Bermodal uang hasil bekerjanya selama ini, dia mampu membangun sebuah rumah yang ditempatinya serta membeli sebidang kebun salak.

"Saya sudah merasa disini cocok saja," ujarnya.

Di rumahnya itulah dia membangun kehidupan barunya, sempat membuka usaha rental Play Station, namun gulung tikar seusai menjadi korban pencurian.

Ssaat ini kesibukannya hanyalah menikmati hari tua dengan menjaga usaha fotokopi dan menunggu panen salak untuk menghidupinya, dan anak bungsunya yang saat ini masih menjalani kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

Anak keempatnya itu pula yang sudah terlihat memiliki bakat untuk meneruskan bakatnya sebagai seorang pelawak.

"Sudah ikut-ikut, ngomong mau jadi pelawak kaya bapaknya. Dia juga di kampusnya rutin ikut ikut kegiatan tampil," ceritanya.

Dia pun tidak melarang, bahkan dirinya mendukung kalau memang ada anaknya yang mau meneruskan bakat ayahnya. Yang penting dia selalu menasehati bahwa menjadi pelawak itu tidak mudah seperti kelihatannya.

"Harus diasah terus bakat saja tidak cukup, harus diasah terus ditambah kemampuan dan jam terbang yang cukup," pesannya.

Apalagi dunia entertainment adalah dunia yang dinamis dimana perubahan selalu terjadi untuk mengikuti kemauan masyarakat.

Walaupun sudah meninggalkan gemerlapnya dunia ibukota namun kecintaan pada dunia komedi peran tetap tidak luntur.

"Kalau ada yang nawari dan skenarionya pas dengan saya yang sudah tua ini, misalnya tidak begitu banyak gerak tentu saja saya masih mau," tutupnya.

 

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
18 Mei 2019

“Wargo Budoyo” Menjaga ExistensiSeni Tradisional KethoprakSeniTradisi Kethoprak merupakan jenis seni drama tradisional,  Jenis kesenian tersebut berkembang sangatpopular di masyarakat Jawa pada umumnya, karena secara historys keseniankethoprak  berk

...
18 Mei 2019

Menjaga nilai nilai tradisiKebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitandengan Cipta, Rasa, Karsa dan hasil karya manusia melalui proses pembelajaranyang mengakar di segala lapisan masyarakat.            PadaJum’at sore, 17/05 di Pendopo Di

...
17 Mei 2019

Jika kita berkunjung di desabudaya Gilangharjo, harus meluangkan waktu untuk berkunjung ke Bebekan. Di situlahkita akan dimanjakan dengan seni budaya dan pemandangan alam yang eksotis. Bebekanmerupakan sebuah nama dusun di pedukuhan Kadekrowo. Di tempat i

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta