« Kembali

Sudah tidak disenandungkan masyarakat, Lela Ledung dilestarikan di desa/kampung musik

Tanggal : Senin, 10 Desember 2018 Dilihat : 4602 kali

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa masing-masing. Ada Ratu Anom di Bali, dan Palok Sagu di Natuna, dan lain-lain, selain Lela Ledhung, namun menurut seniman musik DIY tersebut, tidak ada yang menginventaris (mencatatnya).

Tak lela, lela, lela ledung...

Cep menenga aja pijer nangis

Anakku sing ayu/bagus rupane

Yen nangis ndak ilang ayune/baguse.


Tak gadhang bisa urip mulya...

Dadiya wanita utama/satria pandhita

Ngluhurake asmane wong tuwa

Dadiya pendekaring bangsa.

Lagu ini sungguh sugestif positif sekali (punya sarat makna dan sangat menyentuh perasaan), ungkap Agus ’Patub’, membayangkan kebiasaan nenek moyang yang bersenandung tanpa diiringi musik. Saat itu pun, belum ada slendro dan belum ada notasi musik. Sayangnya, sekarang Lela Ledung boleh disebut sudah tidak diterapkan di masyarakat. Karena itu, Agus ingin menjaga keberadaannya, dengan mengajarkan di sembilan desa/kampung musik binaannya, melalui nyanyian (vokal), suling, dan angklung. Dengan demikian, alunan nada membuai lagu itu bisa selalu dinikmati, meskipun bukan untuk buaian anak sebelum tidur.

Dibandingkan dengan lagu lain semacam itu (buaian untuk anak), Wiegenlied yang diperkenalkan sejak 1868, gubahan terkenal musik klasik Johannes Brahms dari Jerman, diperkirakan Agus ’Patub’ muncul setelah Lela Ledung. Wiegenlied kemudian diinggriskan juga sebagai Lullaby atau Cradle Song. Demikian terkenalnya lagu ini, sehingga sampai sekarang terus diperdengarkan di mana-mana, termasuk sebagai ilustrasi musik, atau untuk keperluan iklan.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta