« Kembali

Berpikir ’Nol’ untuk Membaca Suasana dan Membuat ’Kaya’ Ruang Belajar

Tanggal : Senin, 22 Oktober 2018 Dilihat : 6641 kali

Mengajar musik dengan alat musik gamelan sebagai terapi jiwa untuk pasien Rumah Sakit Jiwa Grhasia, Pakem, Sleman, disikapi Agus ’Patub’ Budi Nugroho dengan selalu mempelajari dulu cara berpikir dan cara belajar peserta, termasuk pasien tersebut, sebelum diajari. Masih banyak pendidik yang menyeragamkan cara berpikir siswa.

Diungkap Agus ’Patub’, seniman musik yang tinggal di Dusun Ngangkruk, Caturharjo, Sleman, bahwa gamelan cukup sederhana cara dimainkannya. Hanya dipukul (perkusif) dan bernada, serta terlihat jelas bilah-bilah nadanya, apalagi untuk orang penderita gangguan jiwa, merupakan sarana untuk menggiatkan otak kiri, berpikir dengan suara atau nada.

Kita harus selalu me-nol-kan pikiran dan tendensi kita sekian detik atau menit sebelum mengajar, untuk memenuhi ruang belajar mereka dan ruang berpikir bersama. Selalu begitu, setiap hari pertama bertemu dengan peserta baru.

Jika tidak di-nol-kan, kelas atau ruang belajar tidak akan 'kaya', karena kita sudah merasa 'kaya'.dulu. ’Miskin'-kan diri terus, supaya menjadi kaya’. Kuncinya, kita harus merendah di hadapan orang baru dan masyarakat baru. Tidak perlu sungkan bertanya apa saja, dan berkenalan dengan siapa saja, di mana pun bertemu. Perjuangan seniman mengajar, yang betul-betul itu, betul-betul sulit. Perlu rendah hati, sabar, dan bersungguh-sungguh.

Belajar musik bagi Agus ’Patub’ merupakan sarana belajar hidup dan pergaulan sosial. Di sana ada keras lembut, cepat lambat, tanggap batin, kepekaan rasa, toleransi antarumat instrumen musik, dinamika, manajemen emosi, dan lain sebagainya, sebagaimana hidup dan bermasyarakat.

Menurut dia, hanya ada empat macam kelompok manusia.

1. Yang vokal/aktif/jiwa pemimpin,

2. Yang di tengah-tengah/yes man/zona nyaman,

3. Yang pasif/kurang bergaul, namun sebenarnya ada sumber daya dalam dirinya,

4. Yang kontroversial/penentang. Manusia macam ini perlu untuk keseimbangan ego kita, agar ada tantangan. Sebagaimana warna-warni pelangi, manusia pun tidak sama, tetapi perlu selaras, dan saling mendukung.

Karena telah terbiasa selalu memperhatikan dan sering menghadapi orang dari berbagai macam pembawaan/watak (karakter), terbaca dari tatapan mata, bahasa tubuh (gesture), meskipun tanpa kata dan wicara, Agus ’Patub’ seperti bisa membaca orang. Meskipun demikian, diakuinya masih banyak belajar dan belajar banyak.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta