« Kembali

Menjinakkan Nada Setelah Jatuh Bangun Mengolah Kepekaan Bunyi

Tanggal : Jumat, 7 September 2018 Dilihat : 2797 kali

Belajar bermain musik (memainkan nada) secara tertata (sistematis) ala Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dimulai dari mengolah dan mengasah kepekaan akan bunyi. Bahan bakunya tersedia berlimpah di lingkungan sekitar kita. Bunyi yang alami bersumber dari peristiwa alam, hewan, tumbuhan dan manusia. Diungkap Agus ’Patub’, bunyi dari unsur alam ini bermanfaat seperti vitamin (memacu) otak dan rasa, sehingga menimbulkan suasana yang khas.

Selain dari alam, bunyi dapat juga berasal dari benda mati (misalnya batu yang dipukul-pukul), dan bunyi tiruan/buatan sebagai hasil olah budidaya manusia, misalnya alat musik (instrumen).

Menurut Agus ’Patub’-yang menekuni musik (terutama dari bambu), membentuk dan membina kampung-kampung musik di Daerah Istimewa Yogyakarta (terutama di Sleman) secara gerilya, swadaya, dan mandiri- kepekaan rasa akan bunyi ditempa dari merasakan detak jantung. Dari sini, dapat dirasakan irama aliran darah melalui jari-jari pada kedua telapak tangan. Juga menirukan (olah vokal) bermacam-macam bunyi dari peristiwa yang khas, sampai dengan olah gerak tubuh, dan tepukan tangan.

Mengolah kepekaan bunyi yang dilakukan dengan sabar, tekun, dan jatuh bangun, ungkap Agus ’Patub’ (kelahiran Kebumen, Jawa Tengah) yang pernah belajar lima macam suling nusantara, cenderung membawa kita mudah memperlakukan bunyi atau menjinakkan nada sesuai dengan keinginan. Hal ini terjadi ketika menggubah komposisi musik, merangkai nada menjadi melodi, pada berbagai macam alat musik.

Setelah melodi terbentuk, bingkailan dengan irama, sehingga jadilah musik. Apabila musik ibarat masakan, bunyi adalah bumbunya. Kelezatan suatu masakan, tergantung pada racikan bumbu si tukang masak.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

10 Des 2018

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri d

06 Des 2018

Situ Panjalu dikaitkan dengan sang Prabhu Sultan Borosngora. Catatan tradisi menyebutkan bahwa Sang Prabhu Borosngora bertemu dengan Bagindha Ngali sekira 635 Masehi, di Situ Panjalu. Bagindha Ngali membimbing sang Prabhu Borosngora dengan ajaran agama, h

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta