« Kembali

Beda Gaya Surakarta dengan Yogyakarta, Bukan Bahan Olok-olok

Tanggal : Selasa, 24 April 2018 Dilihat : 1423 kali

Kalau yang senang kesederhanaan, selalu mengolok-olok gaya Surakarta, kemuka Herman Sinung Janutama, sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa. Bedanya (Surakarta dengan Yogyakarta) harus dipahami, dalam hal bentuk dan fungsinya. Harus berbeda, yang penjaga pusaka dengan yang penjaga mercusuar (mercukanda). Kasunanan, Pakualaman, dan Mangkunegaran bergaya Surakarta. Hanya kraton Yogyakarta yang menjaga gaya khasnya, Yogyakarta. Dengan demikian, perbedaan fungsinya menjadi jelas.

Wayang Surakarta dengan Yogyakarta memang berbeda. Wayang Surakarta tersebar di seluruh dunia (bisa disaksikan melalui Youtube). Sabetannya enak. Sedangkan wayang Yogyakarta tidak bisa disabetkan, karena memang kaku, bukan tidak boleh. Makanya bentuknya dempek, kulitnya, wacucalnya tebal, dan kaku, karena yang dipegang adalah (tunduk pada) paugeran.

Wayang Surakarta dibuat ramping, sunggingannya emas. Kalau perlu, siku-sikunya dari inten. Misalnya, di Amerika atau Jepang ada wayang, itu mesti wayang Surakarta.

Perbedaan yang paling tampak dalam hal berbusana tradisional, adalah jenis dan lipatannya (jarit, batik). Yogyakarta putih di depan (disebut pethakan). Surakarta, dilempit, karena pinggiran kain tidak boleh kelihatan lipatannya.

Busana Surakarta, yang terbaiknya, beskap, keris tretes, hiasan emas, jalannya timik-timik. Mewah sekali. Yogyakarta, yang dipakai bangsawan, pakai kembang watu, corak kembang-kembang, blangkon khas yogyakarta, memakai jarit, dibandingkan dengan Surakarta, perbandingannya jauh (bagai langit dengan bumi). Keris juga. Surakarta, begitu dikeluarkan (dihunus), gilar-gilar, tretes. Yogyakarta, suram, namun ampuhnya (pamor) itu.

Patung gupala (atau dwarapala), Cingkarabala dan Balaupata, di Kraton Yogyakarta ditempatkan di dalam. Sedangkan di Kraton Surakarta, di luar, di pinggir alun-alun, dan besar. Hal-hal seperti ini tidak diperhatikan masyarakat sebagaimana mestinya, karena tidak diberi ruang untuk dijelaskan. Ilmuwan Jawa tidak pernah diberi ruang untuk menjelaskan, dengan cara dan bahasa mereka. Selalu menurut pandangan ilmuwan mancanegara (misalnya Belanda, atau Jepang).

Siapa yang paham mengenai haba? Bisa dihitung dengan jari, itu pun masih kira-kira. Pengetahuan mengenai hal itu hanya tersimpan pada pinisepuh, dan hanya diakui pinisepuh, serta tidak sembarangan orang boleh mengetahui.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Sep 2018

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungny

...
09 Sep 2018

Sabtu (8/9) desa Gilangharjobekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan sosialisasiUU Desa dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SDI).  Muhammad Eko Atmojo, S. IP, M. IP selaku narasumber memaparkan, “Program ini termasuk pada k

07 Sep 2018

Belajar bermain musik (memainkan nada) secara tertata (sistematis) ala Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dimulai dari mengolah dan mengasah kepekaan akan bunyi. Bahan bakunya tersedia berlimpah di lingkungan sekitar kita. Bunyi yang alami bersumber dari per

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta