« Kembali

Mubeng Beteng Melacak Jejak Geger Sepoy di Benteng Baluwarti

Tanggal : Senin, 25 Januari 2016 Dilihat : 13282 kali

YOGYAKARTA, SALAMGOWES.COM – Setiap manusia baik secara personal atau bebrayan tentu memiliki pusaka yang tersimpan dalam lubuk dirinya, bisa itu berwujud benda, ajaran atau sosok panutan. Kota Yogyakarta sebagai satu kesatuan masyarakat tentu saja memiliki berbagai pusaka peninggalan yang multi wujud, mulai dari benda cagar budaya, perangkat peraturan sosial, hingga upacara tradisi yang telah turun termurun.

 

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa adalah pusaka budaya yang dianggap sebagai bulan sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.

Gerbang Jagabaya

Sinar matahari pagi di awal tahun baru Jawa 1 Suro 1949

Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 00.00 WIB saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa. Di keraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Sementara itu di keraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng Baluwarti keraton Ngayogyakarta Hadiningratyang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.

Ritual ini menginsipirasi saya untuk melacak jejak Geger Sepoy yang terjadi ketika Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles melakukan serangan militer di keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Perisitiwa yang terjadi pada hari Jum’at – Sabtu, 19 – 20 Juni 1812, dicatat oleh seorang prajurit Inggris, Kapten William Thorn. Dia menulis perjalanan penaklukan Inggris ke Jawa dalam Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815 di London. Perang ini dipicu dari sikap politik Sri Sultan Hamengkubuwono II yang keras terhadap kebijakan Kerajaan Inggris yang diterapkan kepada keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Bersandar di Bastion Ngabean dan Jagasura Kadipaten

Merayakan Tahun Baru Jawa 1 Suro 1949 dengan bersepeda mubeng beteng

Dalam bukunya Memoir of The Conquest of Java, Kapten William Thorn melukiskan keadaan benteng keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dikelilingi oleh parit lebar nan dalam dengan jembatan jungkit, bertembol tebal dengan bastion (pojok benteng yang menjorok keluar) diperkuat dengan seratus meriam.

Dalam pertempuran dua hari tersebut, kerajaan Inggris berkuatan 1.000 personil prajurit berseragam merah yang terdiri dari prajurit Eropa, dan Sepoi asal India. Jumlah pasukan ini masih ditambah 500 prajurit Legiun Pangeran Prangwedono asal Mangkunagaran, dan pasukan tempur dari Letkol. Alexander MacLeod Salatiga. Menurut Thorn, jumlah prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang berada di dalam benteng Baluwarti sejumlah 17.000 prajurit.

Jalan Brigjen Katamso

Bastion dan tembok benteng Baluwarti di sisi timur berubah menjadi gang kecil dan pertokoan.

Prajurit kerajaan Inggris berhasil mengecoh prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dikonsentrasikan di kawasan Alun-alun Utara lengkap dengan meriam bermulut ganda. Kolonel James Watson yang ditugaskan memimpin pasukan Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires berhasil meledakkan jantung pertahanan prajurit keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada sisi timur benteng Baluwarti (sekarang jalan Brigjend Katamso).

Keberhasilan Kolonel James Watson melakukan serangan utama di sisi timur benteng Baluwarti tidak terlepas dari informasi mengenai gudang mesiu yang disimpan di bastion timur laut. Resimen Infanteri ke-14, Buckinghamshires berhasil meledakan bangunan tersebut membuat pertahanan Baluwarti melemah sehingga mereka berhasil menurunkan jembatan jungkit di gerbang utama Kadipaten (sekarang Plengkung Wijilan). Akibat ledakan yang dahsyat tersebut, sekarang ini benteng Baluwati hanya menyisakan tiga bastion, yakni Pojok Beteng Wetan, Pojok Beteng Kulon, dan Pojok Beteng Lor (sekarang depan taman parkir Ngabean).

Plengkung Wijilan

Plengkung Tarunasura/Pancasura, kini lebih dikenal dengan Wijilan, sebagai gerbang utama Kadipaten diserang oleh pasukan Letnan Kolonel Alexander MacLeod.

Selain itu Letkol. J. Dewer, dan pasukannya bergerak memutar melakukan penyerangan dari sisi selatan benteng Baluwarti melewati sepanjang tepian sungai Code. Selain menghancurkan tempat tinggal Raden Tumenggung Sumodiningrat, berhasil membuka gerbang selatan, Plengkung Nirbaya/Gading.

Daya juang yang tinggi dengan strategi perang yang mumpuni, pasukan koalisi kerajaan Inggris (prajurit Sepoy dan Inggris) berhasil masuk ke dalam benteng Baluwarti dengan membobol pintu gerbang barat, Plengkung Jagabaya. Pasukan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat hanya berhasil mempertahankan pojok beteng barat laut (depan taman parkir Ngabean), dan berhasil menyelamatkan diri, dan bersembunyi di masjid agung keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kraton Yogyakarta dan pagelaran

Dalam peristiwa Geger Sepoy kawasan ini diperkuat dengan ratusan meriam bermulut ganda.

Puncak serangan pasukan koalisi kerajaan Inggris (prajurit Sepoy dan Inggris) pada hari kedua, yaitu Sabtu, 20 Juni 1812. Ketika fajar menyingsing prajurit -prajurit Inggris, dan Sepoy, dan juga orang-orangnya Pangeran Notokusumo menyebar mengepung tembok keraton. Beberapa dari mereka berhasil masuk benteng Baluwarti dengan menggunakan tangga bambu yang telah disiapkan oleh Kapiten Cina, Tan Jin Sing, tokoh masyarakat Tionghoa yang sangat mendukung serbuang Inggris, sikap inilah yang kelak menimbulkan sentimen anti-Tionghoa yang sangat kuat di Yogyakarta. (Peter Carey, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 -1855, hal. 168 : 2)

Melihat posisi Inggris yang sudah memasuki kawasan kedaton (bagian inti pusat keraton ), Sri Sultan Hamengkubuwono II memutuksan untuk mengibarkan bendera putih, memanggil para panglima perangnya, dan memerintahkan pasukan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat meletakkan senjata. Sultan mengira dengan sikap menyerah secara sukarela, nasib keraton Ngayogyakarta Hadiningrat masih bisa diselamatkan. (Peter Carey, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro 1785 -1855, hal. 170 : 3).

Pojok Beteng Kulon

Salah satu bastion benteng Baluwarti yang keberadaannya masih bisa kita lihat hingga saat ini.

Kekalahan ini tentu saja tidak terlepas dari faktor internal keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Menurut Peter Brian Ramsay Carey, seorang Professor Emeritus dari Trinity College, Inggris, memaparkan suasana dari dalam Baluwarti lewat salah satu sumber Jawa tentang pertempuran tersebut.

“Banyak di antara pangeran yang mestinya memberi teladan di medan tempur dengan memimpin perlawanan, hanya mencawat ekor dalam perlindungan pintu-pintu gerbang atau berpura-pura sakit. Bahkan, sebagian dari mereka mencari selamat dengan cara keluar keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju desa-desa di pinggiran dan makam Imogiri.” demikian tulis Carey, berdasarkan pemerian babad tersebut dalam bukunya, Kuasa Ramalan yang terbit pada 2011.

Menara Gaok

Salah satu bagian dari komplek Plengkung Nirbaya atau Gading.

Geger Sepoy menjadi satu bagian dari invasi besar-besaran Kerajaan Inggris di Pulau Jawa pada tahun 1811, hal ini merupakan ekspedisi prajurit laut terbesar dalam sejarah, hingga menjelang PD II. Atas titah Lord Minto, untuk merebut kekuasaan Prancis di Jawa, Letjend. Sir Samuel Auchmuty menurunkan kurang lebih 12.000 prajurit yang berlayar dalam 100 kapal melintasi Samudra Hindia, dan mendarat di Cilincing.

Dalam bukunya Memoir of The Conquest of Java yang terbit pada 1815, Kapten William Thorn menuliskan bahwa, “Nama Djoejocarta [Yogyakarta] akan selalu mengingatkan kisah kegagahan serdadu Inggris.”

Inilah akhir kisah peristiwa Geger Sepoy yang harus dibayar mahal oleh Sri Sultan Hamengkubuwono II, awal Juli 1812 dirinya dijadikan tahanan, dan dibuang di Pulau Penang. Selain itu penjarahan besar-besaran yang dilakukan koalisi prajurit kerajaan Inggris atas harta, pusaka, dan pustaka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (aanardian/salamgowes.com)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
23 Mei 2019

Salam dan Bahagia!Apa kabar Sahabat Museum??Bertemu lagi dengan KaMus (Kamis Museum) yang akan mengulas koleksi masterpiece di MDKG (Museum Dewantara Kirti Griya)Baju Penjara KHD (Ki Hadjar Dewantara). Baju penjara tersebut merupakan bukti perlawanan agi

...
23 Mei 2019

Kehadiran Islam di Nusantara di awal pada abad XV memberi warna baru dalam sistem kepercayaan masyarakat. Di sisi lain, munculnya pusat-pusat kekuasaan Islam dari Demak hingga Mataram turut menambah laju asimilasi Islam dalam kebudayaan Jawa. Keadaan ini

...
23 Mei 2019

Mahasiswa Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta bekerja sama dengan Museum Negeri Sonobudoyo akan mengadakan ‘Museum Tour and Culture Exhibition’ untuk mahasiswa exchange dan wisatawan asing. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 25

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta