« Kembali

Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara

Tanggal : Senin, 22 Oktober 2018 Dilihat : 960 kali

Peran kebudayaan Indonesia punya nilai demikian penting dan mendunia, sehingga mendapat perhatian mancanegara. Mereka tidak main-main menunjukkan minat dan perhatian, dengan menekuni dan terlibat langsung dalam upaya pelestariannya. Di antara masyarakat naskah nusantara (manasa) misalnya, kebanyakan terdiri dari orang mancanegara, ungkap Herman Sinung Janutama, budayawan dan peneliti filsafat Jawa.

Program pemajuan kebudayaan nasional mengarahkan perhatian pada sepuluh hal, salah satunya manuskrip. Terhadap upaya penyelamatan manuskrip, Unesco pun telah membuat proyek Dream Sea, antara lain digitalisasi semua naskah nusantara, sampai di rumah-rumah.

Upaya pelestarian terhadap bahasa Jawa kuno pun menarik perhatian para pihak dari mancanegara. Kursus internasional pendalaman bahasa Jawa, yang ditekankan pada tata bahasa Jawa kuno, diselenggarakan melalui kerja sama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dengan École française d'Extrême-Orient (EFEO),  Peserta juga mendapat kesempatan membaca sejumlah naskah berbahasa Jawa kuno, yaitu parwa, kakawin, dan tutur/tattwa.

Ditengah suasana alam khas Jawa, peserta dilatih secara mendalam oleh para ahli filologi Jawa kuno dari Indonesia, Belanda, dan Prancis. Peserta ditambah pengalamannya dengan studi lapangan pada sejumlah tinggalan purbakala masa Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah selesai menjalani kursus, peserta diharapkan mampu membaca dan menganalisis naskah Jawa kuno. Selain ini, secara mandiri juga dapat memanfaatkan pedoman penelitian, seperti kamus, tata bahasa, dan lain-lain.

Sampai dengan 2018, kursus tersebut telah dilaksanakan sebanyak empat kali. Pesertanya yang merupakan filolog muda pada bidang yang langka itu, dipilih melalui persyaratan yang ketat oleh panitia Fourth International Intensive Course in Old Javanese, dan tidak dikenai biaya.

Pengajar pada kursus internasional selama lima belas hari di Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Prof. Dr. Willem van der Molen (KITLV, Leiden, Belanda), Dr. Dwi Puspitorini (Universitas Indonesia), dan Dr. Andrea Acri (EPHE, Paris, Prancis). Kegiatan kursus tersebut, yang merupakan kerja sama Perpusnas RI dengan EFEO, didukung Ecole Pratique des Hautes Études (EPHE), PSL Research University, Paris, dan institut kerajaan Belanda untuk studi Asia Tenggara dan Karibia (KITLV).(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Nov 2018

Lukisan kuno yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain laya

12 Nov 2018

Sikap seniman sebangsanya yang tidak menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sebangsa sendiri, membuat prihatin Agus ’Patub’. Banyak seniman yang mendamparkan diri mereka di luar negeri. Mereka bangga mengajar kesenian nusantara kepada orang-orang ma

...
05 Nov 2018

Macapat Massal Non Stop Selama 72 Jam Kabupaten Bantul M ACAPAT merupakan seni Tradisiyang berkembang di Bantul. Gawe ataupun Hajatan itu bertemakan ‘’ MacapatMassal Non Stop Selama 72 Jam”, rangkaian acara tersebut berjalan lancar dansukses.

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta