« Kembali

Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara

Tanggal : Senin, 22 Oktober 2018 Dilihat : 12047 kali

Peran kebudayaan Indonesia punya nilai demikian penting dan mendunia, sehingga mendapat perhatian mancanegara. Mereka tidak main-main menunjukkan minat dan perhatian, dengan menekuni dan terlibat langsung dalam upaya pelestariannya. Di antara masyarakat naskah nusantara (manasa) misalnya, kebanyakan terdiri dari orang mancanegara, ungkap Herman Sinung Janutama, budayawan dan peneliti filsafat Jawa.

Program pemajuan kebudayaan nasional mengarahkan perhatian pada sepuluh hal, salah satunya manuskrip. Terhadap upaya penyelamatan manuskrip, Unesco pun telah membuat proyek Dream Sea, antara lain digitalisasi semua naskah nusantara, sampai di rumah-rumah.

Upaya pelestarian terhadap bahasa Jawa kuno pun menarik perhatian para pihak dari mancanegara. Kursus internasional pendalaman bahasa Jawa, yang ditekankan pada tata bahasa Jawa kuno, diselenggarakan melalui kerja sama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dengan École française d'Extrême-Orient (EFEO),  Peserta juga mendapat kesempatan membaca sejumlah naskah berbahasa Jawa kuno, yaitu parwa, kakawin, dan tutur/tattwa.

Ditengah suasana alam khas Jawa, peserta dilatih secara mendalam oleh para ahli filologi Jawa kuno dari Indonesia, Belanda, dan Prancis. Peserta ditambah pengalamannya dengan studi lapangan pada sejumlah tinggalan purbakala masa Hindu-Budha di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setelah selesai menjalani kursus, peserta diharapkan mampu membaca dan menganalisis naskah Jawa kuno. Selain ini, secara mandiri juga dapat memanfaatkan pedoman penelitian, seperti kamus, tata bahasa, dan lain-lain.

Sampai dengan 2018, kursus tersebut telah dilaksanakan sebanyak empat kali. Pesertanya yang merupakan filolog muda pada bidang yang langka itu, dipilih melalui persyaratan yang ketat oleh panitia Fourth International Intensive Course in Old Javanese, dan tidak dikenai biaya.

Pengajar pada kursus internasional selama lima belas hari di Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Prof. Dr. Willem van der Molen (KITLV, Leiden, Belanda), Dr. Dwi Puspitorini (Universitas Indonesia), dan Dr. Andrea Acri (EPHE, Paris, Prancis). Kegiatan kursus tersebut, yang merupakan kerja sama Perpusnas RI dengan EFEO, didukung Ecole Pratique des Hautes Études (EPHE), PSL Research University, Paris, dan institut kerajaan Belanda untuk studi Asia Tenggara dan Karibia (KITLV).(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
21 Mar 2019

Sesuai dengan namanya ‘Pawon’ dalam bahasa indonesia berarti dapur, sedangkan kata ‘ageng’ berarti besar. Peralatan dapur ini memiliki ukuran yg sangat besar tidak seperti peralatan dapur biasanya. Penasaran kan?? Yuk ke Museum Puro PakualamanSum

...
19 Mar 2019

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Aris Eko Nugroho, SP. M.Si, membuka secara resmi kegiatan TOT Moekti Seni Rupa yang diselenggarakan di Omah Petruk Karang Klethak Sleman. Training of trainer yang diikuti 36 orang guru dari 18 SLB di lingkungan Daerah Istimewa

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta