« Kembali

Pamor Nyangku di Situ Panjalu, Ciamis, Lebih dari Seribu Tahun

Tanggal : Kamis, 6 Desember 2018 Dilihat : 204 kali

Situ Panjalu dikaitkan dengan sang Prabhu Sultan Borosngora. Catatan tradisi menyebutkan bahwa Sang Prabhu Borosngora bertemu dengan Bagindha Ngali sekira 635 Masehi, di Situ Panjalu. Bagindha Ngali membimbing sang Prabhu Borosngora dengan ajaran agama, hingga pada relung-relung kadalamannya, eksotisitas spiritualnya, dan pukauan mistisismenya, ungkap Herman Sinung Janutama, sejarahwan, dan peneliti filsafat Jawa. .

Catatan terkait lainnya adalah laporan Prof. Dr. Mansyur Suryanegara pada 2004,  bahwa terdapat catatan kuno yang menyatakan bahwa prabu Kerajaan Galunggung juga bersua dengan Bagindha Ngali pada 640 Masehi. Wilayah Kerajaan Galunggung memang berdekatan, dan punya hubungan dengan Panjalu.

Hal itu menjelaskan bahwa kehadiran Bagindha Ngali menebarkan hawa pencerahan spiritual terhadap sultan-sultan di nuswantara pada umumnya, dan raja-raja Jawa pada khususnya. Pencerahan ini menumbuhkan rasa hormat orang Jawa terhadap beliau, sehingga tinggalan beliau tetap dipelihara sebagai pusaka, kemuka Herman Janutama, yang juga sebagai anggota pasukan adat Yogyakarta, pada upacara Nyangku tahun 2018, di Situ Panjalu, Ciamis.

Salah satunya yang utama adalah pedang yang digunakan beliau di nuswantara. Pedang tersebut bukan Dzulfiqar, melainkan Nyangku, yang tekstur logamnya sangat kental bernuansa nuswantara. Berpamor, jenisnya pedang sabet, juga menunjukkan tangguh dan tempat empunya. Tentu saja, untuk mengetahui sampai sejauh itu, perlu kecermatan, dan penelitian yang saksama.

Sekarang ini, riset terhadap artefak tidak dapat menjangkau pengetahuan metalurgi tradisional, seperti keris, tumbak, dan panah di nuswantara. Meskipun demikian, Nyangku selalu melampaui kendala teknis ilmiah modern itu, sehingga perayaannya mampu bertahan selama seribu tahun lebih. Baru-baru ini, upacara Nyangku diadakan pada 3 Desember 2018, yang juga diikuti pasukan adat Yogyakarta.

Disamping Nyangku, pedang Dzulfiqar Bagindha Ngali sangat termasyhur. Pedang ini merupakan lambang yang terdapat pada banyak kesultanan di nuswantara, yaitu Kesultanan Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore, Aceh, Samudra Pasai, Peureulak, Palembang, Padang, dan lain-lain, bahkan pedang masyhur itu muncul menjadi perlambang yang khas hampir di seluruh belahan dunia.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan frak

...
12 Des 2018

Sesuatu yang luar biasa terjadi di Kedewaguruan Mahameru (Gunung Semeru). Awan melingkar menutupi puncaknya. Peristiwa ini disebut caping gunung atau gunung yang bertopi. Konon, pada saat peristiwa itu terjadi, para dewa dan arwah leluhur turun ke bumi.

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta