« Kembali

Macapat Massal 72 jam

Tanggal : Senin, 5 November 2018 Dilihat : 223 kali

Macapat Massal Non Stop Selama 72 Jam Kabupaten Bantul

M

ACAPAT merupakan seni Tradisiyang berkembang di Bantul. Gawe ataupun Hajatan itu bertemakan ‘’ MacapatMassal Non Stop Selama 72 Jam”, rangkaian acara tersebut berjalan lancar dansukses. Acara Macapat Massal Non Stop Selama 72 Jam dilaksanakan oleh Dinas KebudayaanKabupaten Bantul melalui bidang Bahasa sastra Dinas kebudayaan Bantul.

Sasana Kridha Rumah Dinas BupatiBantul merupakan tempat di selenggarakannya acara Macapat massal yang di mulaipada hari Selasa,23 oktober, pukul 08.00 Wib, sampai dengan hari Jum’at,26Oktober, pukul 09.00 Wib. Dalam hajatan atau acara Mocopat Massal Non StopSelama 72 Jam tersebut merupakan sebuah rangkaian acara yang sangat monumentaldan dapat memecahkan Rekor MURI, yang sebelumnya menurut Tri Jaka selaku KasiBahasa Sastra Dinas Kebudayaan Bantul Rekor tersebut di cetak oleh UniversitasSebelas Maret dengan Durasi Macapat 50 jam non stop. Pada tahun 2008 Kabupatenmelalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata juga telah memecahkan Rekor MURI dengandurasi 48 jam non stop.

Macapat massal yang digelar olehDinas Kebudayaan Bantul ini di ikuti oleh lebih kurangnya 400 peserta yangterdiri dari seluruh Kecamatan di Kabupaten Bantul dan perwakilan dari beberapasekolah dari tingkat SD,SLTP,SMA/SMK,Kalangan Guru dan Seniman Macapat maupun Panembromo.Sebuah kebanggaan tersendiri dimiliki oleh Dinas Kebudayaan Bantul karenajumlah peserta yang turut serta dapat melebihi target yang hanyaditargetkan  sebanyak 300 peserta.

Acara dengan tajuk Macapat MassalNon Stop Selama 72 Jam ini dihadiri oleh Bupati Bantul dan hadir pula KepalaDinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, yang juga turut serta membawakan satutembang “Dandang Gula”. Materi Naskah dalam acara macapat tersebut sudahditentukan dan disediakan  oleh DinasKebudayaan yaitu materi macapat yang sudah terbiasa digunakan oleh pelakumocopat pada umumnya antara lain Serat Wulang Reh,Serat Wedhatama,SeratNirbaya, Kidungan, Serat Dewa Ruci,Cuplikan Babad Demak dll.

Macapat merupakan kesenian sastraberupa tembang atau puisi Jawa. Macapat di golongkan menjadi 11 tembang yangmenggambarkan urutan urutan dalam kehidupan/laku urip manusia sejak dalamKandungan (Maskumambang) sampai manusia meninggalkan dunia (Pucung). Dalamsyair syair macapat banyak berisi tentang petuah dan aturan aturan hidup yangdikemas dalam sebuah alunan tembangan dengan kiasan yang sangat estetis. Selainitu dalam seni macapat juga terdapat penggambaran sebuah peristiwa maupuntempat.

Kabupaten Bantul merupakan salahsatu daerah yang memiliki ragam ragam potensi seni budaya yang sangat beragamdan besar jumlahnya yang tentunya berkorelasi dengan perkembangan kebudayaanJawa. Hal tersebut dapat di lihat melalui banyaknya ragam potensi seni budayayang tersebar di beberapa wilayah, baik di tingkat pedukuhan,Desa atauKecamatan. dari seluruh kecamatan yang berada di Kabupaten Bantul terdapatlebih dari satu kesenian Macapat, namun dalam perkembangannya seni macapatbersifat “statis” karena pelaku yang terlibat dalam kegiatan kesenian Macapatini mayoritas usia tua.

Permasalahan yang dapat dipetakansecara umum adalah kurangnya minat generasi muda untuk dapat menjadi bagianseni macapat, perhatian dan apresiasi dari pemerintah yang sangat minim,alokasianggaran kurang terjangkau dan event event yang diselenggarakan sangat kurangsehingga dari beberapa hal tersebut dapat mengganggu dalam perkembangan SeniMacapat.

Dengan terbentuknya DinasKebudayaan di Kabupaten Bantul pada tahun 2017 yang lalu, kini kesenian Macapatseolah mendapatkan Ruang yang teduh sehingga para pelaku seni Macapat dapatmelangsungkan dan ikut membantu dalam upaya pelestarian nilai nilai budayamelalui Seni Macapat. Sehingga upaya tersebut dapat bersinergi dengan DinasKebudayaan Bantul yang memiliki Visi dan Misi : melestarikan dan mengembangkanBudaya (Jawa) di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Adi luhung.

Menurut Tri Jaka.S selaku KasiBahasa dan Sastra “ kita harus memberikanruang bagi pelaku seni macapat agar dapat mengekpresikan kemampuanya sertadapat menargetkan untuk dapat memecahkan Rekor MURI dengan melaksanakan 72 jamnonstop dan dari acara tersebut pada awalnya di khawatirkan pada saat jam00.00-06.00 karena itu adalah jam istirahat oarang pada umumnya,”imbuh TriJaka.

Disampaikan pula oleh Susamidjoyang mengikuti acara macapat masal dan mewakili kecamatan Bantul “ dengan acara ini kami sangat mengapresiasikarena dapat mencetak generasi yang cinta terhadap seni Macapat dan senimacapat akan tetap lestari dengan catatan di lembaga lembaga pendidikan dansosial mampu memasyarakatkan Seni Macapat”.(Mr)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Nov 2018

Lukisan kuno yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain laya

12 Nov 2018

Sikap seniman sebangsanya yang tidak menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sebangsa sendiri, membuat prihatin Agus ’Patub’. Banyak seniman yang mendamparkan diri mereka di luar negeri. Mereka bangga mengajar kesenian nusantara kepada orang-orang ma

01 Nov 2018

Sekira tahun 1965−1970-an, di Yogyakarta dan Surakarta pernah horeg (sering orang bilang geger, terdengar banyak orang), persangkaan bahwa wayang kulit bakal punah, ungkap Trisno Santoso, yang sering dipercaya sebagai juri wayang tingkat regional dan n

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta