« Kembali

Orang Jawa dan Sains

Tanggal : Rabu, 12 Desember 2018 Dilihat : 5247 kali

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan fraktal (gerakan atom), misalnya ada efek butterfly, ketika tinta diteteskan pada permukaan air. Sama halnya juga dengan ilmu pengetahuan Jawa, ungkap sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa, Herman Sinung Janutama, yang juga akrab dengan matematika dan fisika, bukan didasari pada menduga-duga. Semuanya selesai, hatta itu adalah gerakan gunung, awan, dan lain sebagainya.

Meskipun demikian, sebutan petung itu pun disalahpahami. Sedikit-sedikit dihitung. Hal lain yang disepelekan, wisik misalnya. ”Wah, apa panjenengan entuk wisik?”, padahal wisik itu hanya salah satu dari sekian banyak jenis informasi. Dari satu informasi, umpama Rebo Legi, bisa dihitung mengenai informasi yang diinginkan, dengan menggunakan himpunan pengetahuan Jawa. Semuanya matematis, dan bisa dipertanggungjawabkan secara kosmologis. Belum lagi sasmito. Sasmito gending saja, merupakan tanda yang muncul dari gending tertentu. Demikian pula katuranggan. Bagi orang Jawa, itu rigid.

Sebenarnya, hal-hal tersebut disampaikan dengan niat bukan untuk gagah-gagahan, atau merasa hebat, melainkan karena kandha buwana, bertitik tolak pada tindakan seperti para wali zaman dulu. Meskipun demikian, perbincangan atau diskusi begini sangat terbatas, atau hampir tidak ada ruang di dunia modern. Orang sekarang yang tidak mau tahu dan meremehkan, kemudian diterjemahkan dalam metode olok-olok. Menghadapi orang seperti ini, percuma, tegas Herman Janutama, karena seperti mengajari anak tk, sekalipun bergelar profesor.

”Apa yang diinginkan dari ilmu-ilmu pengetahuan sains di Jawa?”, perlu diperhatikan, bila dihubungkan dengan modernitas. Mitra dari Eropa, Frankfurt, Wiesbaden, China, Beijing, disarankan membaca Wulangreh, Sutasoma, misalnya, atau mempelajari Suryavedanta, pengetahuan akurat tentang matahari. Kenapa tidak membaca karya Bonang, Kalijaga, Ampel, atau Aceh di Tanoh Abee? Kalau peradaban di dunia, atau permasalahan ilmu pengetahuan dan teknologi dianggap mentok, tanyalah pada orang Jawa.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta