« Kembali

Macam-macam Tingkah Polah Seniman, Biarkan Alam yang Mengurusnya

Tanggal : Senin, 29 Oktober 2018 Dilihat : 11761 kali

Sekelompok wayang dari Eropa pentas di Indonesia dan mengusung diri sebagai kandha buwana. Dalam dunia pedalangan wayang, kandha buwana merupakan tingkatan tertinggi. Herman Sinung Janutama, budayawan dan peneliti filsafat Jawa, yang menyaksikan pentasnya di Surakarta, laksana diingatkan pada sebutan menange zaman edan yang dikemukakan Ranggawarsita. Selain itu, yang membuatnya merinding, ki dalang Isaac Cohen (Matthew Isaac Cohen, profesor dari London, Inggris, kelahiran Amerika Serikat) menceritakan secara terperinci mengenai kejadian ketika Janaka masuk di wilayah Ki Lurah Semar, di Karang Kadempel. Ajaran Semar kepada Janaka, mantra-mantra, aji-ajian, mampu diceritakan sedemikian rinci. Tidak pernah ada dalang (ratusan dalang di Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta) yang bertindak jauh seperti itu. Enam jam penuh berlangsung, tidak ada artis bintang tamu, sindennya pun orang mancanegara.

Rama Kuntara pernah berkata bahwa sapolah-polahe pedalangan niku, dinengke mawon. Nantinya akan tersaring dengan sendirinya, ungkap Trisno Santoso, doktor dari jurusan pewayangan ISI Surakarta, yang juga sering dipercaya sebagai juri wayang tingkat regional dan nasional. Maksudnya, yang bagus bisa terus ada, sedangkan yang dianggap masyarakat tidak bagus, akan ambles dengan sendirinya.

Tidak usah khawatir akan ulah seniman. Seniman itu bangganya kalau membuat perubahan, dan akan lebih bangga lagi kalau gagasan perubahannya itu mendapatkan tanggapan dari masyarakat. Akan lebih bangga dan gumendhung lagi kalau gagasan perubahannya itu diikuti seniman lain.

Sejak dulu, sudah ada gagasan-gagasan dari seniman, baik seniman dalang maupun bukan dalang. Apakah anda pernah mendengar senirupawan bernama Heri Dono, Mbah Ganda Darman, Ki Narta Sabda, Ki Nyata Carita, dan lain-lain?

Heri Dono pernah membuat wayang kampung, sekarang sudah tidak ada. Di Yogyakarta pernah muncul wayang wacana winardi, sekarang sudah punah. Di Keraton Surakarta pernah ada wayang dupara, kini juga tinggal nama. Ada wayang suket, ada wayang listrik, wayang air, wayang pring, wayang durah, wayang sandosa, wayang kancil, wayang tato, wayang sampah, wayang buda, wayang gedhog, wayang sada, dan masih banyak lagi. Oh, ya, di Magelang ada wayang onderdil. Pokoknya banyak, namun yang bertahan, ya, tetap wayang kulit.

Sekarang, di Kartasura ada Dalang Pangruwat Sejati. Pernahkah anda mendengarnya?(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta