« Kembali

Penemuan benda (yang diduga) kuno, rawan memicu sifat kemaruk, dan merusak nilai sejarahnya

Tanggal : Kamis, 28 Juni 2018 Dilihat : 607 kali

Ketika menemukan artefak dan fosil purbakala, kecenderungan orang-orang adalah saling berebutan, ingin memiliki duluan. Boleh disebut bahwa tindakan ini didorong sifat kemaruk (serakah), karena hanya memikirkan keuntungan (berupa uang) yang akan didapat, ungkap Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Didit menyebut uang yang bakal didapat sebagai uang kerohiman.

Kalau orang menemukan fosil utuh, kurang lebih bisa mendapat tiga juta rupiah. Kalau pecahan fosil, satu pecahan dihargai tujuh ratus ribu rupiah. Curangnya, ada seseorang yang menemukan fosil utuh, kemudian dipecah-pecahkan menjadi enam pecahan, karena ingin mendapat upah yang lebih. Dari sudut pandang keilmuan, utuh dengan pecahan, merupakan sesuatu yang berbeda nilainya. Hal ini selalu menjadi perhatian dan keprihatinannya, serta diingatkan pula kepada mahasiswa dan masyarakat. Didit menyadari bahwa memang masih kurangnya upaya penyadaran masyarakat.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa orangnya mengerti, paham ilmu, namun bisa juga menyimpang dari keilmuannya. Yang melanggar bukan orang yang tidak mengerti dan orang kecil (awam) saja, melainkan juga orang yang pintar, mengerti, dan orang besar (berkuasa) pun bisa melanggar. Itu tergantung pada etika dan moral.

Terdorong nafsu tamak ingin mendapat uang cukup banyak, tindakan mereka yang tidak sesuai dengan aturan, rawan mengacaukan nilai sejarah yang mungkin bisa ditemukan. Penemuan suatu benda yang diduga kuno, tanpa melibatkan petugas yang berwenang, justru rentan kemungkinan tidak ditemukan nilai sejarahnya.

Secara teknis, diungkap Didit bahwa setiap lapisan batuan sedimen memiliki keadaan yang mencerminkan umur, proses, dan tingkat pengendapan yang berbeda-beda. Pengambilan, pemindahan suatu fosil, artefak, dan objek arkeologi, dari suatu lapisan batuan, terutama bila posisi lapisan batuannya tidak diketahui, sangat mungkin dapat menghilangkan informasi tentang proses pemindahan/transportasi, penimbunan, dan diagenesis yang terjadi pada saat atau setelah proses pengendapan pada objek paleontologi, bioantropologi, dan objek arkeologi lainnya.

Masih banyak masyarakat yang belum sadar bahwa sebenarnya pada tataran mancanegara (internasional), tindakan merusak keutuhan artefak yang ditemukan, dapat dikenai hukuman penjara. Karena itu, perlu keterlibatan para pihak untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga tempat ditemukannya benda kuno juga, bukan bendanya saja. Kebijakan dari pihak berwenang tanpa diiringi dengan upaya pendekatan pada masyarakat (sosialisasi), tidak ada gunanya.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Sep 2018

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungny

...
09 Sep 2018

Sabtu (8/9) desa Gilangharjobekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan sosialisasiUU Desa dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SDI).  Muhammad Eko Atmojo, S. IP, M. IP selaku narasumber memaparkan, “Program ini termasuk pada k

07 Sep 2018

Belajar bermain musik (memainkan nada) secara tertata (sistematis) ala Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dimulai dari mengolah dan mengasah kepekaan akan bunyi. Bahan bakunya tersedia berlimpah di lingkungan sekitar kita. Bunyi yang alami bersumber dari per

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta