« Kembali

Di Balik Penemuan Candi: Kelupaan Sejarah?

Tanggal : Senin, 4 Juni 2018 Dilihat : 119 kali

Sekarang, kita dapat menyaksikan kemegahan bangunan candi-candi (setelah ditemukan dan diperbaiki) kembali, layaknya baru dibuat pertama kali dulu. Lebih dari itu, kehebatan dan kerumitan rancang bangunnya tidak dapat diulang lagi, bahkan dengan capaian teknologi terbaru masa kini sekalipun.

Saat ditemukan, kebanyakan candi memiliki keadaan yang hampir serupa, yaitu reruntuhan yang tidak bertuan (diabaikan), tidak terawat, tertutup lebatnya perpohonan dan semak-semak, tertimbun tanah atau abu gunung berapi, atau terbengkalai memuing, sehingga ada yang sulit disusun ulang hingga sekarang. Sebagian besar candi ditemukan kembali setelah melalui tahapan penggalian.

Bangunan istimewa itu dianggap sebagai salah satu khazanah warisan dan kebesaran masa lampau, dalam sejumlah hal. Meskipun demikian, muncul pertanyaan, kenapa (Candi Borobudur dan Prambanan, misalnya) pernah lenyap dari ingatan penduduk nusantara−ada yang menyebutnya sebagai ’kelupaan sejarah’, luput dari budaya tutur penduduk masa itu, bahkan telah melewati masa Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak? Itu pun belum memperhitungkan tahapan pemugaran pasca penemuan yang menghabiskan waktu lebih dari satu abad, agar layak diperkenalkan kepada khalayak.

Diungkap Dr. Niken Wirasanti, M.Si., arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, bahwa dirinya belum pernah mendengar istilah kelupaan sejarah. Walaupun demikian, kemuka Niken, secara teoretis tentu tidak begitu saja Candi Borobudur dan Prambanan dilupakan. Banyak asumsi yang dapat dibangun terkait dengan hal tersebut. Untuk itu, perlu data arkeologis yang valid, baik artefak maupun data tertulis.

Tidak ada informasi tentang Mataram (kuno) di Jawa Tengah, karena pada pertengahan abad X, pusat pemerintahan berpindah di Jawa Timur. Sejak saat itu, data prasasti lebih banyak menceritakan peristiwa di Jawa Timur. Belum ada data prasasti tentang aktivitas di Jawa Tengah, sehingga menurut Niken, mungkin itu yang disebut ’dilupakan’.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
22 Jun 2018

Syawalan di Dusun Keyongan KidulRt 05, Pedukuhan Dukuh,Sabdodadi,Bantul, pada Kamis (21/06) berjalan sangatmeriah. Acara tersebut merupakan kegiatan yang melibatkan gotong royong dari seluruh warga Keyongan Kidul. Dengandi dukung oleh penampilan kesenian

...
22 Jun 2018

Suara keprak sebagai tanda dimulainya Festival Kethoprak Tingkat Kabupaten Sleman 2018 oleh Bupati Sleman Sri Purnomo.  Festival Kethoprak tahun ini diikuti 17 kecamatan, masing-masing kecamatan menampilkan 1 grup kethoprak.  Pertunjukan Festival Kethop

...
17 Jun 2018

Bank Sampah ALAM LESTARI  didirikan pada 02 Maret 2016.,di pedukuhan 2 Ceme, Srigading, Sanden,Bantul, Yogyakarta. Berawal dari beberapa warga yang mulai merasakan beberapa masalahakibat adanya sampah di lingkungan Pedukuhan Ceme, akhirnya dibentuklah ke

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta