« Kembali

Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya

Tanggal : Selasa, 16 Oktober 2018 Dilihat : 1137 kali

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asean (Asean City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pelecut semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara adikuasa politik adalah Amerika Serikat sedangkan adikuasa ekonomi, China. Meskipun demikian, diungkap Herman Sinung Janutama, sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa, bahwa mengenai kebudayaan dunia, Indonesia merupakan negara adikuasa.

Terkait dengan pengakuan mancanegara tersebut, dipandang Herman sebagai semangat kemajuan ekonomi  MEA (masyarakat ekonomi Asean). Artefak arkeologis atau kekayaan situs kita tidak tertandingi, boleh dibilang demikian, namun artefak antropologis (kegiatan menjalankan tradisi pada masyarakat), cenderung merosot. Ditengah geliat upaya mendongkrak tradisi agar lebih dikenal, antara lain di tataran Asia, masih ada tanggapan kurang baik dari sebagian masyarakat tertentu, terkait dengan huru-hara di Pantai Baru, Bantul. Tindakan ini menunjukkan perilaku masyarakat yang tidak berbudaya. Pada sisi lain, hal ini mengkhawatirkan, karena rentan mengurangi rasa hormat (respek) terhadap kekayaan budaya Indonesia, prihatin Herman Janutama.

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat ekonomi Asean, penggerak ekonomi pembangunan di Indonesia adalah pariwisata dan kebudayaan, serta industri kreatif (termasuk teknologi informatika), sebagaimana telah digagas pada beberapa tahun silam, masih ada kesenjangan besar pada program pemajuan kebudayaan daerah. Diumpamakan Herman, bahwa warga masyarakat belum cukup mengetahui sumber daya arkeologi dan budaya di daerahnya. Keadaan ini merupakan tantangan terhadap upaya pewujudan pariwisata dan kebudayaan sebagai penggerak ekonomi, atau didorong sebagai perlambang kebudayaan Asean. Karena itu, kekayaan budaya dengan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan budaya itu sendiri, perlu diselaraskan.

Kekhawatirannya sebagai pengamat budaya, apabila keterangan mengenai budaya tertentu itu dipaksakan (mungkin terjadi), karena terdesak tuntutan tertentu, misalnya untuk menjadi daerah tujuan wisata, sehingga sampai dilakukan rekayasa (menutupi keadaan sebenarnya, yang sebenarnya bisa digali dulu), merupakan tindakan yang berbahaya. Hal ini riskan menghilangkan kekayaan budaya itu sendiri.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Nov 2018

Lukisan kuno yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain laya

12 Nov 2018

Sikap seniman sebangsanya yang tidak menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sebangsa sendiri, membuat prihatin Agus ’Patub’. Banyak seniman yang mendamparkan diri mereka di luar negeri. Mereka bangga mengajar kesenian nusantara kepada orang-orang ma

...
05 Nov 2018

Macapat Massal Non Stop Selama 72 Jam Kabupaten Bantul M ACAPAT merupakan seni Tradisiyang berkembang di Bantul. Gawe ataupun Hajatan itu bertemakan ‘’ MacapatMassal Non Stop Selama 72 Jam”, rangkaian acara tersebut berjalan lancar dansukses.

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta