« Kembali

Di Balik Penemuan Candi: Kelupaan Sejarah?

Tanggal : Senin, 4 Juni 2018 Dilihat : 1614 kali

Sekarang, kita dapat menyaksikan kemegahan bangunan candi-candi (setelah ditemukan dan diperbaiki) kembali, layaknya baru dibuat pertama kali dulu. Lebih dari itu, kehebatan dan kerumitan rancang bangunnya tidak dapat diulang lagi, bahkan dengan capaian teknologi terbaru masa kini sekalipun.

Saat ditemukan, kebanyakan candi memiliki keadaan yang hampir serupa, yaitu reruntuhan yang tidak bertuan (diabaikan), tidak terawat, tertutup lebatnya perpohonan dan semak-semak, tertimbun tanah atau abu gunung berapi, atau terbengkalai memuing, sehingga ada yang sulit disusun ulang hingga sekarang. Sebagian besar candi ditemukan kembali setelah melalui tahapan penggalian.

Bangunan istimewa itu dianggap sebagai salah satu khazanah warisan dan kebesaran masa lampau, dalam sejumlah hal. Meskipun demikian, muncul pertanyaan, kenapa (Candi Borobudur dan Prambanan, misalnya) pernah lenyap dari ingatan penduduk nusantara−ada yang menyebutnya sebagai ’kelupaan sejarah’, luput dari budaya tutur penduduk masa itu, bahkan telah melewati masa Kerajaan Majapahit dan Kesultanan Demak? Itu pun belum memperhitungkan tahapan pemugaran pasca penemuan yang menghabiskan waktu lebih dari satu abad, agar layak diperkenalkan kepada khalayak.

Budaya orang Indonesia zaman dahulu tidak suka menulis, tegas Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Candi Borobudur dan Prambanan pasti dikenal pada masanya (abad ke-8 Masehi). Memang dikenal, namun tidak sampai ditulis, sehingga masyarakat Indonesia pada zaman sekarang tidak tahu tingkat keterkenalannya. Sekian abad kerajaan Majapahit pun hanya punya kitab Sutasoma tulisan Mpu Tantular. Kalau mau belajar sejarah kerajaan di nusantara saja, kita meminjam catatan orang Belanda. Prasasti (kuno) itu cuma batu kecil, tidak cukup banyak informasi yang bisa didapat.

Budaya tutur banyak, namun budaya tulis sedikit, padahal tutur bisa berubah setelah lebih dari seratus tahun. Banyak kisah setelah lebih dari seratus tahun menjadi dongeng, sudah banyak penyimpangan. Hal ini karena menceritakan sejarah dengan tutur, bukan dengan tulisan yang bisa lama tetap sama. Pada zaman sekarang, kalau terjadi sesuatu, ditulis koran, disiarkan radio, televisi, sehingga kesannya otentik. Kalau zaman dulu, sebatas gethok tular omongan. Berapa lama bisa demikian? Ketika sudah tidak diperbincangkan lagi, tidak ada yang tahu.

 

Dari sudut lain diungkap Dr. Niken Wirasanti, M.Si., arkeolog dari Universitas Gadjah Mada, bahwa dirinya belum pernah mendengar istilah kelupaan sejarah. Walaupun demikian, kemuka Niken, secara teoretis tentu tidak begitu saja Candi Borobudur dan Prambanan dilupakan. Banyak asumsi yang dapat dibangun terkait dengan hal tersebut. Untuk itu, perlu data arkeologis yang valid, baik artefak maupun data tertulis.

Tidak ada informasi tentang Mataram (kuno) di Jawa Tengah, karena pada pertengahan abad X, pusat pemerintahan berpindah di Jawa Timur. Sejak saat itu, data prasasti lebih banyak menceritakan peristiwa di Jawa Timur. Belum ada data prasasti tentang aktivitas di Jawa Tengah, sehingga menurut Niken, mungkin itu yang disebut ’dilupakan’.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan frak

...
12 Des 2018

Sesuatu yang luar biasa terjadi di Kedewaguruan Mahameru (Gunung Semeru). Awan melingkar menutupi puncaknya. Peristiwa ini disebut caping gunung atau gunung yang bertopi. Konon, pada saat peristiwa itu terjadi, para dewa dan arwah leluhur turun ke bumi.

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta