« Kembali

Semarak Festival Desa Budaya Kabupaten Sleman

Tanggal : Sabtu, 27 Oktober 2018 Dilihat : 670 kali


Rangkaian gelar budaya dalamacara Festival Desa Budaya 2018 Kabupaten Sleman berlangsung sangat meriak danmenarik perhatian pengunjung. Sabtu (27/10) Festival Desa Budaya diadakan diLapangan Dusun Pokoh,Wedomartani,Ngemplak,Sleman ,acara tersebut di buka olehWakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY.

Dengan tajuk “Toto Titi Tentrem” acara yang diselenggarakan oleh DinasKebudayaan DIY tersebut mendapat apresiasi oleh masyarakat umum. Hal tersebutdapat di lihat dari banyaknya pengunjung yang menikmati sajian pementasan senipertunjukan dan gelaran pameran.

FDB 2018 Kabupaten Sleman diikutioleh 12 peserta/Desa Budaya yang berada di seluruh wilayah Kabupaten Sleman.Dari 12 Desa Budaya tersebut antara lain Desa Budaya Wedomartani, Banyurejo, Margodadi,Pendowoharjo, Sinduharjo, Wonokerto, Girikerto, Bangunkerto, Sendangmulyo,Argomulyo, Sendangagung dan Margoagung. Dua belas Desa Budaya yang menjadipeserta FDB 2018 tersebut diwajibkan untuk menggelarkan seluruh potensi yangdimilikinya. Ragam potensi yang ditampilkan adalah sesuai dengan potensi lokalyang ada seperti produk produk unggulan kerajinan,Kuliner,PengobatanTradisional,Dokumentasi Situs situs bersejarah dll.

Selain menampilkan ragamkerajinan ,Kuiner dan sebagainya Desa Budaya juga wajib menampilkan kesenianpertunjukanya dengan durasi waktu yang telah di berikan oleh panitia. Kesenianpertunjukan yang digelar didepan Dewan Juri memiliki karakteristik dan kekhasan sesuai dengan sejarah desa masing- masing.

“Festival Desa Budaya tahun ini banyak menampilkan potensi lokalseperti cerita rakyat yang dikemas dalam seni pertunjukan dan potensi kerajinandan kuliner” demikian kata Hadi Mulyono selaku monitoring Desa Budaya. “harapanya di Sleman pada tahun tahunmendatang akan lebih meningkat dan bertambah lagi jumlah Desa Budayanya,Karenaterdapat beberapa keuntungan diantaranya dengan ditetapkan sebagai desa budayaakan mendapatkan tenaga pendamping yang dapat memotivasi masyarakat agar tetappeduli dengan kelestarian budaya dan mendapatkan fasilitasi kegiatan” imbuhHadi Mulyono disela sela acara.

Menurut Ali As’ad selaku Panitia “ Acara ini terselenggara pertama melaluipenyatuan ide, Gagasan dan Konsep karena kita sudah mengevaluasi kegiatansebelumnya, sehingga kita mendapatkan ide ide yang baru seperti kemasan dalamstan pameran yang mengkonsep dari beberapa rumah adat yang ada di desa masingmasing sehingga nuansa desa dan kearifan lokalnya lebih terangkat”. (Markeye)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Nov 2018

Lukisan kuno yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain laya

12 Nov 2018

Sikap seniman sebangsanya yang tidak menyebarkan ilmunya kepada masyarakat sebangsa sendiri, membuat prihatin Agus ’Patub’. Banyak seniman yang mendamparkan diri mereka di luar negeri. Mereka bangga mengajar kesenian nusantara kepada orang-orang ma

...
05 Nov 2018

Macapat Massal Non Stop Selama 72 Jam Kabupaten Bantul M ACAPAT merupakan seni Tradisiyang berkembang di Bantul. Gawe ataupun Hajatan itu bertemakan ‘’ MacapatMassal Non Stop Selama 72 Jam”, rangkaian acara tersebut berjalan lancar dansukses.

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta