« Kembali

Sikap tidak terbius dinamika rekayasa, pelajaran dari lakon Pandawa Dadu atau Wiratha Parwa

Tanggal : Rabu, 19 Desember 2018 Dilihat : 4590 kali

Wayang itu anekatafsir. Jadi, mau dinaskah sesuai dengan keadaan sekarang, sangat memungkinkan. Bukan hanya lakon Pandawa Dadu, melainkan seperti Wiratha Parwa, dan lain-lain, juga bisa, ungkap Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Gambaran kelicikan Sangkuni dan Kurawa, sedangkan Pandawa tersudut dan tidak berdaya, seakan-akan mencolok mata, dan begitu gamblang terpampang.

Karena itu, ditarik pada keadaan sekarang, yang bagaimanapun terpengaruh suasana politik yang memanas, Edi Suwanda berharap bahwa pejabat tidak terbius dinamika rekayasa. Pemerintah tetap harus tegak dengan asta brata-nya. Apabila bukan demikian, pengaruh buruknya besar sekali, bahkan pada akar rumput (grass root) sampai rt rw, rawan terjadi permusuhan, dan cenderung bersikap tidak bijaksana.

Seperti kerumunan bebek, yang gampang disetir, akhirnya unggah-ungguh tata krama masyarakat kemudian mengarah pada oportunis. Nilai atau semangat kebersamaan hilang, sehingga mengedepankan kepentingan pribadi (lu-lu, gue-gue). Andai tampak ramah gapyak, itu polesan saja. Apalagi kalau diperkeruh dengan memanfaatkan sporteran, penonton yang diatur oleh pelaku seni untuk tertawa, lucu atau tidak lucu (bandingkan dengan penonton di studio televisi, ketika siaran langsung atau rekaman).

Edi Suwanda tambah prihatin akan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bersendi dasar pada kraton, seandainya seluruh masyarakat sekarang oportunis. Edi ingin situasinya membaik. Mudah-mudahan Yogyakarta benar-benar istimewa, bukan hanya bisa diusung dan dirasakan segelintir orang.

Terkait dengan peringatan Hari Wayang Nasional, pada 7 November 2018, yang ditetapkan Presiden Joko Widodo pada 11 Desember 2018, pentingnya penghargaan itu, kemuka Ki Edi Suwanda, ketika punya makna bahwa semua dalang juga merasakan pengaruhnya, dan menikmati perhatian dari Pemerintah.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta