« Kembali

Kisah Kipas sebagai Senjata Rahasia Wanita

Tanggal : Selasa, 10 Juli 2018 Dilihat : 672 kali

Kalau merasa sumuk (kepanasan), dengan sendirinya kita menggerak-gerakkan sesuatu yang bisa digunakan sebagai kipas, misalnya koran, map plastik, dan lain sebagainya. Kipas sendiri merupakan alat yang biasa digunakan sehari-hari untuk mengurangi rasa kepanasan itu. Kata ”kipas” memang bisa merupakan alat, atau kata kerja untuk menunjukkan tindakan seperti itu. Tukang sate justru menggunakannya, walaupun sedikit berbeda, untuk menambah panas bara arang pada tempat pemanggangan sate. Ada pula yang menggunakan kipas sebagai kelengkapan untuk tari-tarian, dan hiasan di dinding. Sampai sekarang, umumnya seperti itu kegunaan kipas.

Berbeda dengan di Barat (Eropa). Pada satu masa, abad ke-18 dan 19, masa Victoria [pemerintahan Ratu Victoria, Kerajaan Inggris (United Kingdom)], kipas digunakan untuk menyampaikan pesan rahasia. Dari sini terungkap jelas bahwa sebenarnya, banyak kegunaan dan fungsi kipas.

Wanita pada masa Victoria sudah biasa menggunakan kipas (sampai kini pun penggunanya kebanyakan wanita), begitu juga sarung tangan dan payung, bukan sebagai pelengkap semata-mata. Dihias dengan corak dan warna bermacam-macam, kipas bermanfaat pula sebagai bahasa rahasia untuk menarik perhatian atau menyampaikan perasaannya (termasuk kasih sayang) kepada pria. Dengan lain kata, kipas digunakan juga sebagai bentuk percakapan yang khas. Walaupun demikian, mungkin belum tentu si pria bisa memahami bahasa rahasia itu, yang memiliki dua lusin perlambang yang berbeda-beda maknanya.

Pada masa itu, muncul istilah fanologi atau speaking fan (bahasa kipas). Pada kedua sisi kipas terdapat cetakan pertanyaan dan jawaban, berupa tanda dan gerakan dengan kipas. Contoh, kipas ditunjukkan dengan tangan kiri, memutar-mutarnya, artinya ”Saya sudah punya yang lain”; dipegang dengan tangan kiri, di depan wajah, artinya ingin berkenalan; menjatuhkan kipas, artinya kita berteman saja; diletakkan pada pipi kanan, ”Ya”; dan diletakkan pada pipi kiri, artinya ”Tidak”.

Jean-Pierre Duvelleroy, pembuat dan pengecer kipas indah dari Prancis. menerbitkan selebaran yang menjelaskan gerak-gerik berkode dengan kipas (bahasa Prancis, Le Language de L'Eventail) yang digunakan wanita untuk mengatakan sesuatu itu, sebagai cara untuk mendongkrak penjualan kipas, usaha  yang didirikannya di Paris pada 1827. Dia paham bahwa kipas punya tempat istimewa bagi kaum wanita. Sebelum Duvelleroy, ada The Original Fanology or Ladies Conversation Fan yang dibuat Charles Francis Badini di London pada 1797. Hebatnya, sampai sekarang namanya tetap terkenal, dikaitkan dengan kipas indah buatan Prancis sebagai warisan yang langka, selain karena semangat pewarisnya, sehingga dapat bertahan hampir dua ratus tahun (191 tahun).

Kipas menjelma sebagai penguat daya pikat wanita dan menambah rasa percaya dirinya. Joseph Addison menggambarkan arti penting kipas bagi wanita melalui publikasi harian The Spectator di Inggris pada 27 Juni 1711, yang diterbitkan bersama dengan Richard Steele, bahwa wanita punya senjata kipas, layaknya laki-laki yang berpedang.

Awal mula keberadaan kipas, diperkirakan sejak masa Mesir kuno, dilihat pada tinggalan Tutankhamun (raja Mesir), dari ribuan tahun silam (abad ke-13 sebelum Masehi). Temuan ini menunjukkan bahwa kipas digunakan terutama pada acara/upacara kerajaan. Boleh disebut bahwa pada masa itu, kipas masih merupakan barang mewah dan dikaitkan dengan mitos. Bahan dari bulu burung merak, terutama yang bercorak seperti mata, dipercayai sebagai pelindungan bagi yang punya.

Sebelum kertas dan kain lazim digunakan, (daun) kipas dibuat dari kulit binatang (vellum). Gagang kipas pun dibuat dari bahan yang tidak kalah bagus, sehingga terkesan mewah, seperti tempurung kura-kura, gading, tulang, cangkang kerang, logam, atau kayu terbaik.

Meskipun kipas angin listrik telah ditemukan, dan sekarang digunakan di mana-mana, hal ini tidak begitu saja melibas keberadaan kipas tangan. Bisa kita bayangkan bahwa ibu atau ayah menemani anak-anaknya yang akan tidur, mendongengi sambil mengipas-ngipasi dengan kipas tangan (mungkin memang kipas, atau koran, juga benda lainnya yang bisa digunakan untuk mengipas-ngipas), bukan kipas angin listrik.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Sep 2018

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungny

...
09 Sep 2018

Sabtu (8/9) desa Gilangharjobekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan sosialisasiUU Desa dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SDI).  Muhammad Eko Atmojo, S. IP, M. IP selaku narasumber memaparkan, “Program ini termasuk pada k

07 Sep 2018

Belajar bermain musik (memainkan nada) secara tertata (sistematis) ala Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dimulai dari mengolah dan mengasah kepekaan akan bunyi. Bahan bakunya tersedia berlimpah di lingkungan sekitar kita. Bunyi yang alami bersumber dari per

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta