« Kembali

Misteri Topeng Panji

Tanggal : Kamis, 3 Mei 2018 Dilihat : 1047 kali

Topeng panji (wayang Panji) merupakan penanda peralihan wayang purwa (Mahabharata dan Ramayana) ke wayang madya, atau boleh disebut bahwa keberadaan wayang madya tergambar pada wayang Panji. Kisah ini merupakan lanjutan Parikesit, dan muncul kira-kira pada masa Jayabaya (1050−1100). Ini pula nilai penting topeng Panji, yaitu latar belakang munculnya Jayabaya. Nama Panji, berasal dari cerita agung yang mengawali masa madya, yaitu Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana. Musuh mereka adalah Panji Semirang Asmarantaka dan Galuh Ajeng.

Sejak wayang madya, raja, petinggi dan bangsawan Jawa harus bisa menari wayang wong itu, sebagai sarana untuk menemukan jati diri (tedhak sungging). Ken Arok, Ken Dedes, Hayam Wuruk pun terkena kewajiban ini. Tari ini sering dilatih, namun bukan sekadar latihan jasmani, melainkan juga untuk tedhak sungging.

Peran topeng Panji adalah sebagai tari yang khusus untuk mendidik seorang raja (dan harus disaksikan ayahnya, walaupun pengecualian pasti ada), sehingga kurang dikenal masyarakat. Dengan demikian, ini pula yang merupakan misterinya, ungkap Herman Sinung Janutama, sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa. Peran topeng Panji (atau Trajumas) adalah sebagai khazanah pendidikan untuk para raja dan pemimpin. Karena itu, wayang ini hanya dikenal di kalangan para raja. Trajumas itu sakral. Demikian pula yang cirebonan. Seorang nenek (nyai) penari topeng Panji di Cirebon, begitu mencekam, dan menimbulkan suasana mistis, ketika menari dengan topengnya. Saat dipakai, kesan nenek-neneknya hilang.

Salah satu produk wayang madya adalah topeng (jogetan topeng). Tari topeng Panji ditarikan dengan menggunakan sepuluh topeng, antara lain Semar, dan Rahwana. Makna topeng yang banyak ini adalah raja tidak boleh dinasihati orang dan harus bisa menasihati diri sendiri. Karena itu, seorang raja harus belajar Sutasoma, Sarwasastra, Sanghyang Kamahayanikan, dan lain-lain. Selain itu, harus menguasai Sastra Gending, dan sepuluh hal (dasa M, yaitu manembah, momong, momot, momor, mursid, murakapi, mapan, mituhu, mitayani, dan mumpuni) yang harus dikuasai juga.

Bentuk wayang Panji bermacam-macam setelah seribu tahun. Awal mulanya dari satu pancuran, sekarang topeng Panji berkembang menjadi sendratari, tari klothekan, dan wayang klithik.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

16 Okt 2018

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asia (Asia City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pemacu semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara

09 Okt 2018

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun de

01 Okt 2018

Berkesenian merupakan upaya masyarakat melestarikan bentuk kesenian yang dilakukan secara alami, tanpa paksaan, tidak mengejar atau mengharapkan perhatian orang, bahkan menumbuhkan semangat berkesenian secara mandiri. Masyarakat jejaring musik yang dibin

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta