« Kembali

Cukup Sulit, Pemilihan Proposal Sayembara Pembuatan Film Dana Keistimewaan DIY 2018

Tanggal : Kamis, 8 Maret 2018 Dilihat : 1521 kali

Dibandingkan dengan proposal film yang mengikuti sayembara pembuatan film dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017, dewan juri (kurator) cukup kesulitan memilih 15 proposal pada tahun ini (2018) yang berhak masuk babak pitch.

Cukup banyak pertimbangan khusus yang disampaikan dewan juri terhadap sejumlah proposal, dibandingkan dengan pelaksanaan tahun sebelumnya. Meskipun lolos, ada rekam jejak peserta sempat dipertanyakan, karena belum jelas (dari curriculum vitae). Mestinya pernah membuat film. Kalau belum pernah, berisiko tinggi. Selain ini, gagasan pada rancangan (design) produksi sempat disangsikan mampu diwujudkan dalam bentuk gambar (film). Dewan juri mempertanyakan hal ini. Walaupun demikian, setelah dibandingkan dengan teaser-nya, filmnya punya sesuatu yang layak ditampilkan, menarik, dan dianggap pintar. Selain ini, ternyata juga didukung pengalaman selama puluhan tahun.

Bisa menggambarkan sesuatu peristiwa atau kebiasaan masyarakat yang menarik, khas Yogyakarta, dengan cara berbeda, melalui bahasa gambar. Juga berani keluar dari zona nyaman filmmaker Yogyakarta pada umumnya. Jalan cerita dinilai tidak masalah, bisa diterima juri. Meskipun demikian, lebih dari itu yang dihargai adalah upaya terus membuat film.

Sedangkan proposal yang tidak lolos, sebenarnya merupakan peristiwa menarik, namun pendalaman gagasan dinilai kurang. Melihat proposalnya menarik, namun setelah menyaksikan potongan rangkaian adegannya, ternyata tidak sesuai dengan harapan. Pendekatan masalah dinilai terlalu dangkal/sederhana. Peserta dituntut membuat terobosan baru, karena sebenarnya banyak gagasan di masyarakat yang bisa diangkat, bukannya mengambil kembali gagasan yang dianggap juri sudah biasa, bahkan sudah mati.

Proposal sayembara pembuatan film yang lolos masuk pitch, terdiri dari lima dokumenter dan sepuluh fiksi, dipilih dewan juri yang terdiri dari lima kurator, yaitu Dwi Sujanti Nugraheni, Dyna Herlina Suwarto, S.E., M.Sc., Indra Tranggono, Ifa Isfansyah, dan Ajish Dibyo (tidak hadir, tetapi pilihannya disampaikan melalui DS Nugraheni). Pemilihan dilaksanakan di ruang Nakula (sayap utara), Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis, 8 Maret 2018. Kelima belas proposal yang lolos, diumumkan secara resmi pada Jumat, 9 Maret 2018.(hen/ppsf)

 

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan frak

...
12 Des 2018

Sesuatu yang luar biasa terjadi di Kedewaguruan Mahameru (Gunung Semeru). Awan melingkar menutupi puncaknya. Peristiwa ini disebut caping gunung atau gunung yang bertopi. Konon, pada saat peristiwa itu terjadi, para dewa dan arwah leluhur turun ke bumi.

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta