« Kembali

Cukup Sulit, Pemilihan Proposal Sayembara Pembuatan Film Dana Keistimewaan DIY 2018

Tanggal : Kamis, 8 Maret 2018 Dilihat : 1176 kali

Dibandingkan dengan proposal film yang mengikuti sayembara pembuatan film dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017, dewan juri (kurator) cukup kesulitan memilih 15 proposal pada tahun ini (2018) yang berhak masuk babak pitch.

Cukup banyak pertimbangan khusus yang disampaikan dewan juri terhadap sejumlah proposal, dibandingkan dengan pelaksanaan tahun sebelumnya. Meskipun lolos, ada rekam jejak peserta sempat dipertanyakan, karena belum jelas (dari curriculum vitae). Mestinya pernah membuat film. Kalau belum pernah, berisiko tinggi. Selain ini, gagasan pada rancangan (design) produksi sempat disangsikan mampu diwujudkan dalam bentuk gambar (film). Dewan juri mempertanyakan hal ini. Walaupun demikian, setelah dibandingkan dengan teaser-nya, filmnya punya sesuatu yang layak ditampilkan, menarik, dan dianggap pintar. Selain ini, ternyata juga didukung pengalaman selama puluhan tahun.

Bisa menggambarkan sesuatu peristiwa atau kebiasaan masyarakat yang menarik, khas Yogyakarta, dengan cara berbeda, melalui bahasa gambar. Juga berani keluar dari zona nyaman filmmaker Yogyakarta pada umumnya. Jalan cerita dinilai tidak masalah, bisa diterima juri. Meskipun demikian, lebih dari itu yang dihargai adalah upaya terus membuat film.

Sedangkan proposal yang tidak lolos, sebenarnya merupakan peristiwa menarik, namun pendalaman gagasan dinilai kurang. Melihat proposalnya menarik, namun setelah menyaksikan potongan rangkaian adegannya, ternyata tidak sesuai dengan harapan. Pendekatan masalah dinilai terlalu dangkal/sederhana. Peserta dituntut membuat terobosan baru, karena sebenarnya banyak gagasan di masyarakat yang bisa diangkat, bukannya mengambil kembali gagasan yang dianggap juri sudah biasa, bahkan sudah mati.

Proposal sayembara pembuatan film yang lolos masuk pitch, terdiri dari lima dokumenter dan sepuluh fiksi, dipilih dewan juri yang terdiri dari lima kurator, yaitu Dwi Sujanti Nugraheni, Dyna Herlina Suwarto, S.E., M.Sc., Indra Tranggono, Ifa Isfansyah, dan Ajish Dibyo (tidak hadir, tetapi pilihannya disampaikan melalui DS Nugraheni). Pemilihan dilaksanakan di ruang Nakula (sayap utara), Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis, 8 Maret 2018. Kelima belas proposal yang lolos, diumumkan secara resmi pada Jumat, 9 Maret 2018.(hen/ppsf)

 

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Sep 2018

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungny

...
09 Sep 2018

Sabtu (8/9) desa Gilangharjobekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan sosialisasiUU Desa dan optimalisasi Sistem Informasi Desa (SDI).  Muhammad Eko Atmojo, S. IP, M. IP selaku narasumber memaparkan, “Program ini termasuk pada k

07 Sep 2018

Belajar bermain musik (memainkan nada) secara tertata (sistematis) ala Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dimulai dari mengolah dan mengasah kepekaan akan bunyi. Bahan bakunya tersedia berlimpah di lingkungan sekitar kita. Bunyi yang alami bersumber dari per

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta