« Kembali

Berkesenian sebagai Sarana Olah Rasa dan Olah Kepekaan

Tanggal : Senin, 1 Oktober 2018 Dilihat : 1200 kali

Berkesenian merupakan upaya masyarakat melestarikan bentuk kesenian yang dilakukan secara alami, tanpa paksaan, tidak mengejar atau mengharapkan perhatian orang, bahkan menumbuhkan semangat berkesenian secara mandiri. Masyarakat jejaring musik yang dibina Agus ’Patub’ Budi Nugroho, mereka tahunya latihan, semangat datang, ada atau tidak ada pentas (event). Proses belajar dan pembelajaran banyak hal selama latihan itulah pentas sesungguhnya. Agus mengumpamakan keadaan ini ”memperkuat akar, bukan membuat pohon”.

Berkaitan dengan kegiatannya mengajar musik, Agus ’Patub’ punya pendapat bahwa kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dimulai dari membangun manusianya dulu, baru membicarakan membangun kegiatannya. Ibu-ibu, wanita tani, termasuk anak-anak mereka, diingatkan kembali mengenai pentingnya budi pekerti..Demikian pula anak-anak sekolah dasar ketika latihan bermain musik dengan angklung. berulang-ulang disampaikan kepada anak-anak supaya menjadi pribadi yang selalu senang, semangat, suka menolong, dan ramah.

Ciri negara, daerah, yang masyarakatnya punya kepekaan sosial tinggi adalah perlakuan masyarakat, salah satunya menjaga kebersihan, perlakuan manusia terhadap sampah, pada kegiatan apa pun. Bagaimana bisa mereka meninggalkan sampah selesai pawai, dengan dalih sudah ada yang mengurusi. Bukan begitu, bukan? Karena itu, selalu diingatkan Agus, agar tidak meninggalkan sampah. Misalnya, setelah melakukan kegiatan seni di lapangan, sampah yang dihasilkan tidak boleh dibuang sembarangan. Sampah yang bisa terurai (organik), seperti kulit kacang dan bungkus daun pisang, boleh ditinggalkan. Botol plastik, harus dibawa pulang, tandas Agus. Apabila penanganan terhadap sampah tidak beres, belum lagi dengan kebut-kebutan, kenakalan remaja, kecanduan narkoba, klithih, dan lain-lain.

Pergaulannya yang luas dengan masyarakat, juga dengan sudagar Pasar Sasen, ternyata mengungkap sesuatu yang patut diteladani. Mereka punya daya cipta dan upaya untuk mencari pendapatan (uang) untuk anak-anak yang tidak bisa sekolah. antara lain dengan membuat buku, membuat animasi. Menurut Agus, inilah usaha ekonomi yang dihasilkan dari daya cipta (ekonomi kreatif), yang ternyata sudah berjalan di lingkungan masyarakat sudagar Pasar Sasen yang militan organik ini. Mereka menyediakan bahan-bahan olahan organik, seperti wedang jahe, sirup sirsat, tahu organik, sushi (bukan dari daging ikan, melainkan tanaman ramban), dan lain sebagainya. Pasarnya dibuka pada minggu pertama setiap bulan, dengan berkeliling atau berpindah-pindah tempat.

Bagi Agus yang punya perhatian lebih terhadap alat musik dari bambu, karena ramah lingkungan, musik hanya sebagai sarana untuk saling berbagi dengan masyarakat, bukan tujuan hiburan. Musik itu luas sekali, yang dibicarakan alatnya, wilayah nadanya, atau sejarahnya?

Kesungguhan Agus ’Patub’ dan jejaring masyarakat musiknya menggerakkan perikehidupan masyarakat desa, sebenarnya layak mendapat perhatian pemerintah daerah kabupaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sampai sekarang belum diperoleh. Baru pemerintah pusat yang justru memberi semangat, dan meyakinkan mereka bahwa mereka bisa.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

16 Okt 2018

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asia (Asia City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pemacu semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara

09 Okt 2018

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun de

28 Sep 2018

Ada yang putus pada mata rantai pengetahuan utuh mengenai macam budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Mungkin hal ini hanya dimiliki siswa sekolah menengah karawitan, atau mahasiswa yang kuliah di institut seni, dan lain-lain. Agus ’Patub’ Budi Nugroho

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta