« Kembali

Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?

Tanggal : Selasa, 9 Oktober 2018 Dilihat : 64 kali

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun demikian, pelaku bahasa tetap memperhatikan sopan santun (unggah-ungguh basa) ketika lawan bicaranya orang tua, atau yang memang patut dihormati. Karena itu, apabila dengan dalih keakraban atau kedekatan, kemudian menggunakan sapaan ”kowe” atau ”kamu”, padahal lawan bicaranya cukup tua, tentu hal ini tidak sepatutnya dilakukan. Selain itu, apa mungkin, karena pejabat, seseorang tidak disapa ”kowe” atau ”kamu”?

Kepala bidang sejarah, bahasa, dan sastra, pada Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., prihatin akan keadaan tersebut. Perilaku bebas, juga terhadap bahasa, ternyata sudah demikian mengkhawatirkan. Begitu jauh merasuk merusak sendi unggah-ungguh basa, dan rasa bahasa berbahasa Jawa Yogyakarta. Hal ini mengganggu harapannya bahwa sebisa mungkin pegawai pemerintah daerah di sini pun ikut berperan memelihara kebiasaan berbahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari di kantor.

Tampaknya, pelajaran bahasa Jawa di sekolah, sebagai mata pelajaran pilihan setempat (bahasa daerah), terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu ditindaklanjuti dengan  pembelajaran pada tataran pergaulan di luar sekolah. Bukan sebatas murid sudah belajar dan menjawab latihan soal di kelas, ya, sudah. Sampai di sana saja. Sedangkan terkait dengan penerapannya, masyarakat cenderung abai. Purwatmadi Atmadipurwa, sastrawan dan penulis, merasa miris akan gejala ini.

Apakah keadaan ini akan terus dibiarkan gelundung seperti itu?(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

16 Okt 2018

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asia (Asia City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pemacu semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara

01 Okt 2018

Berkesenian merupakan upaya masyarakat melestarikan bentuk kesenian yang dilakukan secara alami, tanpa paksaan, tidak mengejar atau mengharapkan perhatian orang, bahkan menumbuhkan semangat berkesenian secara mandiri. Masyarakat jejaring musik yang dibin

28 Sep 2018

Ada yang putus pada mata rantai pengetahuan utuh mengenai macam budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Mungkin hal ini hanya dimiliki siswa sekolah menengah karawitan, atau mahasiswa yang kuliah di institut seni, dan lain-lain. Agus ’Patub’ Budi Nugroho

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta