« Kembali

Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?

Tanggal : Selasa, 9 Oktober 2018 Dilihat : 2684 kali

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun demikian, pelaku bahasa tetap memperhatikan sopan santun (unggah-ungguh basa) ketika lawan bicaranya orang tua, atau yang memang patut dihormati. Karena itu, apabila dengan dalih keakraban atau kedekatan, kemudian menggunakan sapaan ”kowe” atau ”kamu”, padahal lawan bicaranya cukup tua, tentu hal ini tidak sepatutnya dilakukan. Selain itu, apa mungkin, karena pejabat, seseorang tidak disapa ”kowe” atau ”kamu”?

Kepala bidang sejarah, bahasa, dan sastra, pada Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., prihatin akan keadaan tersebut. Perilaku bebas, juga terhadap bahasa, ternyata sudah demikian mengkhawatirkan. Begitu jauh merasuk merusak sendi unggah-ungguh basa, dan rasa bahasa berbahasa Jawa Yogyakarta. Hal ini mengganggu harapannya bahwa sebisa mungkin pegawai pemerintah daerah di sini pun ikut berperan memelihara kebiasaan berbahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari di kantor.

Tampaknya, pelajaran bahasa Jawa di sekolah, sebagai mata pelajaran pilihan setempat (bahasa daerah), terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu ditindaklanjuti dengan  pembelajaran pada tataran pergaulan di luar sekolah. Bukan sebatas murid sudah belajar dan menjawab latihan soal di kelas, ya, sudah. Sampai di sana saja. Sedangkan terkait dengan penerapannya, masyarakat cenderung abai. Purwatmadi Atmadipurwa, sastrawan dan penulis, merasa miris akan gejala ini.

Apakah keadaan ini akan terus dibiarkan gelundung seperti itu?(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

10 Des 2018

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri d

06 Des 2018

Situ Panjalu dikaitkan dengan sang Prabhu Sultan Borosngora. Catatan tradisi menyebutkan bahwa Sang Prabhu Borosngora bertemu dengan Bagindha Ngali sekira 635 Masehi, di Situ Panjalu. Bagindha Ngali membimbing sang Prabhu Borosngora dengan ajaran agama, h

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta