« Kembali

Merosotnya Penggunaan Bahasa Jawa, Laksana Berlayar dengan Kapal Retak

Tanggal : Kamis, 24 Mei 2018 Dilihat : 3710 kali

Terlepas dari pesan lain yang tersirat, seperti perbedaan pemahaman antarmanusia, perubahan dalam hubungan kemasyarakatan, pada pementasan monolog ”Baitarengka” (arti harfiahnya adalah kapal retak), yang ditulisnya sendiri, terbersit keprihatinan Trisno Santoso ’Pelog’ akan merosotnya penggunaan bahasa Jawa pada kalangan muda. Bila diringkas, dengan lain kata bahwa masa depan bahasa Jawa, suram.

Kenyataan bahwa sejumlah penonton (kaum muda) tidak dapat memahami bahasa Jawa yang digunakan sang pemain, walaupun itu bahasa Jawa biasa, bukan tidak disadari Pelog. Contoh potongan percakapan pada monolog itu, "Nuwun sewu, kala Selasa Wage kapengker, kathah para warga ingkang nungsung warta. Menapa leres, Den Sastra Handayaningrat saestu kondur kasedanjati?"

Meskipun demikian, dia sudah teramat banyak 'mengalahdalam cakapannya, sampai ’meminjam’ kata-kata bahasa Indonesia, karena sadar bahwa banyak kata bahasa Jawa yang telah ditinggal kalangan muda ketika bercakap-cakap dalam pergaulan sehari-hari.

Kecenderungan yang terjadi pada kalangan muda itu, tidak menyurutkan semangat Pelog, aktor panggung berpengalaman dari teater Gapit Surakarta, untuk tetap menggunakan bahasa Jawa pada setiap pementasannya. Dia merasa terdorong dan ikut bertanggung jawab untuk terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya penggunaan bahasa daerah.

Sikap tegas Pelog diharapkan seniman muda teater Surakarta, Budi Bodhot Riyanto dan Oedin UPW, dapat mendorong tumbuh kembangnya banyak pementasan dalam bahasa Jawa, sekaligus naskah teater dan naskah monolog bahasa Jawa. Owot Sarwoto, seniman panggung dari Salatiga, bahkan ingin pentas keliling kampung dan pedesaan. Menurut dia, hal ini penting, supaya masyarakat bisa akrab lagi dengan bahasa asli (ibu)-nya.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
06 Feb 2019

Kegiataan pembinaan desa budaya tahun2018 dibawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi DIY telah terjun di desa budayasejak 1 Februari 2018. Salah satu tugas pendamping adalah mengembangkan potensiunggulan di  bidang kesenian. Program jangkapendek tersebut

19 Des 2018

Sekarang ini, masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya, dan masyarakat lain pada umumnya, dapat dengan mudah mengetahui film dan karya audio visual Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui katalog film online, dengan tautan (link) ht

19 Des 2018

Wayang itu anekatafsir. Jadi, mau dinaskah sesuai dengan keadaan sekarang, sangat memungkinkan. Bukan hanya lakon Pandawa Dadu, melainkan seperti Wiratha Parwa, dan lain-lain, juga bisa, ungkap Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta