« Kembali

Memahami Seni Tradisi, Seni Kontemporer, dan Seni Populer

Tanggal : Minggu, 31 Desember 2017 Dilihat : 3058 kali

Wayang kulit, bisa saja awalnya dari seni kontemporer. Kemudian diterima masyarakat, masuk upacara ruwatan, menjadi seni tradisi atau bisa juga seni populer. Perlu diketahui bahwa seni tradisi, berlangsung terus-menerus, sehingga menjadi tradisi masyarakat. Seni kontemporer, seni yang nilainya belum terukur, mau disenangi masyarakat, bagus, jelek, belum diketahui. Sedangkan seni populer, dibentuk supaya populer, dan disenangi masyarakat.

Ketoprak, ungkap R.M. Kristiadi, S.Sn. (seniman dan pemerhati budaya), merupakan seni populer komersial, karena lahirnya dari prakarsa sekelompok orang yang membuat semacam drama dengan lesung, berkeliling desa untuk mencari sesuap nasi. Lama-lama, berkembang menggunakan gamelan. Muncul lakon yang disenangi masyarakat, seperti Suminten Edan, atau Si Buta dari Gua Hantu. Memang demikian orang berkesenian. Tonil disenangi, ketoprak ikut pakai tonil, karena memang ketoprak merupakan seni populer komersial.

Wayang wong di Surakarta, awalnya seni tradisi di Mangkunegaran. Memang seni tradisi, karena dipertunjukkan untuk peringatan ulang tahun raja. Kemudian ditarik oleh seorang pedagang Cina, dan menjual pertunjukannya di Sriwedari, dengan tonil. Untuk menarik minat penonton, dibuat lakon Srikandi Edan, Gatotkaca Kembar Lima, dan lain-lain. Hal ini merupakan kerangka budaya seni populer komersial, bukan tradisi lagi.

Seni tradisi harus melekat pada tradisi tertentu, tidak bisa dengan maksud agar ramai ditonton, dan supaya disenangi orang, gamelan sekaten pakai elektone. Tentu bukan demikian. Seandainya, gamelan sekaten pakai elekton, supaya penonton senang, itu seni populer. Kalau hal itu belum tentu disenangi, disebut seni kontemporer. Kemudian bisa berkembang menjadi seni populer, ketika disenangi.

Melestarikan tradisi, menurut Kristiadi, harus utuh; tradisinya, peradabannya dilestarikan, seni tradisinya pasti lestari, sehingga kesenian tidak mungkin bisa dipisahkan dari masyarakat. Gamelan Kanjeng Kyai Sekati masih hidup, karena tradisi sekaten masih ada. Wayang wong Kraton Yogyakarta masih ada, karena setiap tahun ada upacara yang diiringi dengan pertunjukan wayang wong. Setiap minggu masih ada latihan di kraton. Lain halnya apabila tarian di kraton menghadirkan bintang tamu untuk menyenangkan wisatawan, ini merupakan seni populer, bukan tradisi lagi. Kesenian menjadi kontemporer, populer atau tetap tradisi, tergantung pada masyarakatnya.

Menanggapi sebutan pengembangan seni tradisi, padahal yang dimaksud pelestarian, ditegaskannya bahwa pengembangan bukan pelestarian. Meskipun demikian, hal itu bukan suatu kekeliruan. Dikemukakan lagi bahwa pelestarian itu utuh; peradabannya dilestarikan, kebudayaannya, masyarakat pendukungnya, upacara dilestarikan, keseniannya pasti ikut lestari.

Ketika kita punya kerangka berpikir bahwa suatu seni tradisi, supaya diminati masyarakat, diubah bentuknya, itu menjadi seni populer. Kalau kesenian sudah berubah bentuk, yang aslinya tidak terlihat. Andai gamelan sekaten dicampur dangdutan, gamelan sekaten aslinya tidak kelihatan. Tindakan seperti ini bukan melestarikan, melainkan mengubah gamelan sekaten menjadi seni populer, sehingga seni tradisi gamelan sekatennya hilang.

Seni tradisi tidak punya sebutan punah atau tidak punah. Selama masih ada unsur-unsur yang menyokong keberadaan seni tradisi, seperti tersebut di atas, seni tradisi masih terus ada. Tidak ada hubungannya dengan penonton. Golek Menak adalah seni tradisi yang dibuat Sultan Hamengku Buwono yang kesembilan. Kalau itu diangkat kembali, dan pakai dangdutan, bukan merupakan tradisi sultan.

Membangun kesenian tanpa membangun kebudayaan, merupakan hal yang tidak mungkin. Kesenian itu anak kandung kebudayaan (teori kebudayaan yang dikemukakan Umar Khayam). Perkembangan kebudayaan masyarakat berpengaruh terhadap kesenian. Kebudayaan masyarakat Bali, umpamanya, terkenal dengan seni melukisnya. Bila dilakukan diluar Bali dan mendapat pengaruh melukis dari luar juga, dengan maksud mengundang perhatian penonton, hal itu bukan kebudayaan tradisi mereka sendiri. Kebudayaan kesenian Bali bisa hidup, karena kebudayaan peradabannya ada.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
14 Agt 2018

Upaya regenerasi pelaku senisudah mulai digalakkan oleh Pemerintah Desa Gilangharjo dengan didukung karangtaruna. Hampir tiap dusun kegiatan seni digerakkan oleh kaum muda sebagaipelaku maupun managerial. Di Dusun Kwatangan, banyak anak-anak memiliki tale

...
13 Agt 2018

Minggu, 12 agustus 2018,Pemerintah Desa Gilangharjo bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan DIY berupayamelestarikan upacara adat yaitu wiwitan. Tradisi tersebut merupakan ungkapanrasa syukur atas hasil panen tanaman padi atau palawija yang baik. Disebut Wiwi

...
13 Agt 2018

Dewi Sri merupakan nama yangtidak asing ketika dikaitkan dengan tradisi Wiwitan. Pada pelaksaan upacaraadat Wiwitan, karang taruna menyuguhkan Sendratari Dewi Sri. Para pemain danpengrawitnya adalah para putra putri Gilangharjo yang masih muda dan memilik

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta