« Kembali

Warna Lain Mainan Tradisional Angkrek di Tangan Seniman Tari

Tanggal : Selasa, 9 Januari 2018 Dilihat : 2244 kali

Berawal dari rasa prihatin akan perhatian anak-anak yang terus berkurang terhadap mainan tradisional (salah satunya angkrek), bahkan mereka nyaris tidak mengetahui mainan ini, seniman tari dari Bantul, Anggoro Tri,  berupaya mengenalkan kembali mainan angkrek melalui seni tari. Penghasilan perajin yang terus menurun, juga menyebabkan Anggoro merasa terpanggil (sesama seniman di Kampung Dolanan) ingin membantu dengan caranya sendiri. 

Diakui Anggoro Tri bahwa karya-karyanya sederhana saja, sehingga cukup mudah dibuat. Lucunya, ungkap Anggoro, pada awalnya, penarinya yang rata-rata berusia 12 tahun pun tidak tahu angkrek. Keadaan ini bisa dimaklumi dia, karena mainan tersebut merupakan kegemaran anak-anak tempo dulu. Walaupun mainan tradisional masih dapat ditemukan, sekarang mainan modern menjadi sesuatu yang cenderung dicari-cari mereka. [Angkrek adalah semacam boneka dari kertas karton yang bisa digerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan menarik-narik seutas tali].

Melalui ekplorarsi, kemudian improvisasi, dan dikomposisikan dengn gerakan yang dinamis, rancangan tari Angkrek diselesaikan dalam dua bulan. Dilatih hanya dalam tiga kali tatap muka (latihan), tidak disangka-sangka Anggoro, ketika dipertunjukkan selama tujuh menit pada Festival Tari Nusantara 2017 di Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, dia diganjar dengan penghargaan sebagai penata iringan terbaik. Keikutsertaan dia dan anak-anak didiknya pada festival yang bertema Gelar Koreografi Indonesia tersebut, mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, dan mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebenarnya Anggoro punya latar belakang pendidikan tari tradisional klasik, namun sebagian besar karya-karyanya punya gerakan-gerakan lucu (komikal). Hal ini diwujudkan dalam tari yang dipertunjukkan anak-anak, padahal biasanya dilakukan remaja atau dewasa. Dia pun tidak mengkhususkan pada anak-anak saja, tetapi kebetulan dalam berproses, karya-karyanya sering kepada anak-anak. Tari remaja yang sering diterapkan pada anak-anak adalah tari cantrik mentrik.

Dia melatih anak didiknya dalam tata gerak (komposisi) dan pendalaman karakter (kebanyakan karakter komikal), dibantu sejumlah pelatih setingkat sekolah menengah atas. Anak-anak yang dididik di sanggarnya, diakui Anggoro punya sumber daya menjanjikan, sehingga masih bisa berkembang lebih lagi. Dengan dorongan, semangat, dan kesabaran, diharapkan bahwa nantinya mereka mencintai kegiatan seni yang dijalani.

Selama ini, penarinya sudah terbiasa, sehingga cukup mudah menyesuaikan diri. Kedekatannya dengan anak-anak dan mampu membangun kepercayaan mereka, ditempa dari pengalaman yang cukup lama mengajar di sekolah dasar di Kota Yogyakarta, seperti Ungaran dan Suronatan, ketika masih berkuliah pada jurusan tari, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Anggoro tidak neka-neka mengungkap kiatnya bertahan, yaitu berkarya terus, sesuai dengan perkembangan zaman dan kepentingan pasar. Dia pun banyak berkarya diluar lomba, dan sering ikut festival. Membiasakan terus berkarya, tidak terpatok waktu dan kesempatan, misalnya karena ada proyek (mendapat pesanan atau lomba), baru mau berkarya. Gagasan tarinya bisa dari permainan zaman dulu, legenda, dan sejarah, bahkan didapatkan dari mengikuti workshop dan berbagi pengalaman dengan seniman lain. Pergaulannya yang cukup luas juga dari kegiatannya pada paguyuban seniman tari se-Bantul (sebagai wakil ketua), membawa pengaruh pula.

Anggoro punya dua sanggar. Satu sanggar di Kretek, digunakan sebagai bentuk pengabdian masyarakat (latihan dilaksanakan secara gratis). Sedangkan satu lainnya di Pandes, di kawasan Kampung Dolanan, tempatnya membuka jasa pendidikan tari, diusahakan secara mandiri. Dia juga membentuk perkumpulan tari anak-anak yang dinamai ”Cling”.

Berdasarkan pengalamannya melatih anak-anak (kebetulan pesertanya kebanyakan anak-anak), kemampuan mereka menari atau menarik minat mereka dalam menari, biasanya tampak dalam satu atau dua tahun. Penari yang terus bisa bertahan di sanggarnya, kurang lebih selama lima tahun. Meskipun demikian, setelah mereka keluar dari sanggar, dia sering diminta membantu melatih, misalnya  terkait dengan lomba atau kegiatan pertunjukan lain. Dari kegiatan seperti ini, Anggoro semakin dikenal orang.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

16 Okt 2018

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asia (Asia City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pemacu semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara

09 Okt 2018

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun de

01 Okt 2018

Berkesenian merupakan upaya masyarakat melestarikan bentuk kesenian yang dilakukan secara alami, tanpa paksaan, tidak mengejar atau mengharapkan perhatian orang, bahkan menumbuhkan semangat berkesenian secara mandiri. Masyarakat jejaring musik yang dibin

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta