« Kembali

Sejarah panjang Panjalu: Keselarasan agung Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan

Tanggal : Senin, 10 Desember 2018 Dilihat : 4924 kali

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri dibawah kekuasaan sang prabhu Airlangga, sekira tahun 1000 Masehi. Hal ini secara langsung menunjukkan kesinambungan silsilah, salasilah, juga sorosilah, ungkap Herman Sinung Janutama, baik Panjalu-kulon di Ciamis, Jawa Barat sekarang, maupun Panjalu-wetan di sekitar Kota Malang, Jawa Timur sekarang.

Disamping itu, toponim kembar tersebut secara langsung pula menunjukkan keselarasan agung Jawa-kulon dengan Jawa-wetan. Menurut sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa tersebut, keadaan ini menuntun pada pemahaman kita bahwa Pulau Jawa ini "bagai pinang dibelah dua" dari sudut pandang kosmologi purbanya.

Hal ini bisa ditinjau pada serat kuno kitab Jamurdwipa, misalnya. Keseimbangan kosmis Jawa-kulon dengan Jawa-wetan, terbaca pada toponim kuno Su-Medang dengan Medang Kamulan; Malang-bong dengan Malang; Purwakarta dengan Purwokerto; Purbalingga dengan Probolinggo, dan lain-lain, termasuk Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan.

Terkait dengan upacara Nyangku, di Situ Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, itu bukan semata-mata merupakan ritual turun-temurun yang rentan tuduhan paganistis dan primordial, kemuka Herman. Nyangku menuntun muslim Jawa dan nuswantara untuk menyadari bahwa betapa pentingnya keselarasan dan keseimbangan. Lebih dari itu, betapa pentingnya keadilan dan kelembutan. Pada titik keadilan ini, Gusti Allah menempatkan kata "berlemah lembutlah", tandas Herman Sinung Janutama.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta