« Kembali

Sejarah panjang Panjalu: Keselarasan agung Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan

Tanggal : Senin, 10 Desember 2018 Dilihat : 1734 kali

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri dibawah kekuasaan sang prabhu Airlangga, sekira tahun 1000 Masehi. Hal ini secara langsung menunjukkan kesinambungan silsilah, salasilah, juga sorosilah, ungkap Herman Sinung Janutama, baik Panjalu-kulon di Ciamis, Jawa Barat sekarang, maupun Panjalu-wetan di sekitar Kota Malang, Jawa Timur sekarang.

Disamping itu, toponim kembar tersebut secara langsung pula menunjukkan keselarasan agung Jawa-kulon dengan Jawa-wetan. Menurut sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa tersebut, keadaan ini menuntun pada pemahaman kita bahwa Pulau Jawa ini "bagai pinang dibelah dua" dari sudut pandang kosmologi purbanya.

Hal ini bisa ditinjau pada serat kuno kitab Jamurdwipa, misalnya. Keseimbangan kosmis Jawa-kulon dengan Jawa-wetan, terbaca pada toponim kuno Su-Medang dengan Medang Kamulan; Malang-bong dengan Malang; Purwakarta dengan Purwokerto; Purbalingga dengan Probolinggo, dan lain-lain, termasuk Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan.

Terkait dengan upacara Nyangku, di Situ Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, itu bukan semata-mata merupakan ritual turun-temurun yang rentan tuduhan paganistis dan primordial, kemuka Herman. Nyangku menuntun muslim Jawa dan nuswantara untuk menyadari bahwa betapa pentingnya keselarasan dan keseimbangan. Lebih dari itu, betapa pentingnya keadilan dan kelembutan. Pada titik keadilan ini, Gusti Allah menempatkan kata "berlemah lembutlah", tandas Herman Sinung Janutama.(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Des 2018

Sekarang ini, masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya, dan masyarakat lain pada umumnya, dapat dengan mudah mengetahui film dan karya audio visual Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui katalog film online, dengan tautan (link) ht

19 Des 2018

Wayang itu anekatafsir. Jadi, mau dinaskah sesuai dengan keadaan sekarang, sangat memungkinkan. Bukan hanya lakon Pandawa Dadu, melainkan seperti Wiratha Parwa, dan lain-lain, juga bisa, ungkap Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta.

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan fra

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta