« Kembali

Senandung Agus ’Patub’ BN di Balik Jingle Khas Radio di Yogyakarta

Tanggal : Rabu, 19 September 2018 Dilihat : 2656 kali

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungnya masih berupa kaset pita, belum secanggih sekarang, yang dengan mudah bisa copy paste.

 

Membuat sebuah jingle, selalu diawali Agus ‘Patub’ Budi Nugroho dari bersenandung dulu untuk mendapatkan 'wahyu' melodi yang sesuai dan pas dengan rasa musik dari perusahaan yang memesan. Dari hasil senandung, baru diolah dengan instrumen keyboard, dan direkam dalam sejumlah jenis jingle.

Gagasan dasar atau bahan mentahnya sebagai cikal bakal melodi dibuat Agus pada 1995, begitu dia mendapat tawaran membuat jingle radio itu. Ketika itu, Agus masih kuliah pada jurusan periklanan (advertising), dengan minat utama ilustrasi musik iklan. Bayaran atas karyanya terbilang lumayan pada masa itu, ditengah krismon (krisis moneter) yang menggoyang negeri ini. Meskipun demikian, uang sebanyak itu cukup untuk makan selama dua minggu, kenang Agus sambil tersenyum, ketika menjalani hidupnya dulu sebagai anak kos, di kawasan Tungkak, Mergangsan. Jingle berdurasi sembilan detik itu baru resmi mengudara pada 1998.

Sampai sekarang, bagi khalayak di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, jingle radio itu sudah demikian lekat (Agus mengambil istilah earworm untuk menggambarkan keadaan itu) dalam pikiran penggemar atau yang mendengarnya. Dua puluh tahun lamanya, karya Agus ‘Patub’ Budi Nugroho, yang pada masa itu masih anak kos, jingle khas radio dengan sasaran pendengar female (perempuan) itu masih mengudara.

Agus ‘Patub’ Budi Nugroho bukan sekadar penggubah ilustrasi musik, dan seniman musik bambu, melainkan juga berupaya menumbuhkembangkan rasa berkesenian dalam kehidupan masyarakat desa di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Sleman. Agus ingin selalu berbagi dengan masyarakat luas, menyebarluaskan ilmu yang dipunyainya.

Dia  berprakarsa membentuk jejaring masyarakat seni, antara lain di Desa Donokerto, Turi; Caturharjo, Sleman; Purwomartani, Kalasan; Sinduharjo, Ngaglik, dan Sidoagung, Godean. Masyarakat diajak untuk bersama-sama membangun desanya melalui kesenian. Sekarang, jejaring ini berkembang di sembilan tempat, dan bertambah lagi dengan bergabungnya sudagar Pasar Sasen. Siapa yang menyangka bahwa sekarang keberadaan jejaring ini malah membuat mereka bisa saling mendukung kebutuhan mereka masing-masing.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

10 Des 2018

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri d

06 Des 2018

Situ Panjalu dikaitkan dengan sang Prabhu Sultan Borosngora. Catatan tradisi menyebutkan bahwa Sang Prabhu Borosngora bertemu dengan Bagindha Ngali sekira 635 Masehi, di Situ Panjalu. Bagindha Ngali membimbing sang Prabhu Borosngora dengan ajaran agama, h

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta