« Kembali

Senandung Agus ’Patub’ BN di Balik Jingle Khas Radio di Yogyakarta

Tanggal : Rabu, 19 September 2018 Dilihat : 1469 kali

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungnya masih berupa kaset pita, belum secanggih sekarang, yang dengan mudah bisa copy paste.

 

Membuat sebuah jingle, selalu diawali Agus ‘Patub’ Budi Nugroho dari bersenandung dulu untuk mendapatkan 'wahyu' melodi yang sesuai dan pas dengan rasa musik dari perusahaan yang memesan. Dari hasil senandung, baru diolah dengan instrumen keyboard, dan direkam dalam sejumlah jenis jingle.

Gagasan dasar atau bahan mentahnya sebagai cikal bakal melodi dibuat Agus pada 1995, begitu dia mendapat tawaran membuat jingle radio itu. Ketika itu, Agus masih kuliah pada jurusan periklanan (advertising), dengan minat utama ilustrasi musik iklan. Bayaran atas karyanya terbilang lumayan pada masa itu, ditengah krismon (krisis moneter) yang menggoyang negeri ini. Meskipun demikian, uang sebanyak itu cukup untuk makan selama dua minggu, kenang Agus sambil tersenyum, ketika menjalani hidupnya dulu sebagai anak kos, di kawasan Tungkak, Mergangsan. Jingle berdurasi sembilan detik itu baru resmi mengudara pada 1998.

Sampai sekarang, bagi khalayak di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, jingle radio itu sudah demikian lekat (Agus mengambil istilah earworm untuk menggambarkan keadaan itu) dalam pikiran penggemar atau yang mendengarnya. Dua puluh tahun lamanya, karya Agus ‘Patub’ Budi Nugroho, yang pada masa itu masih anak kos, jingle khas radio dengan sasaran pendengar female (perempuan) itu masih mengudara.

Agus ‘Patub’ Budi Nugroho bukan sekadar penggubah ilustrasi musik, dan seniman musik bambu, melainkan juga berupaya menumbuhkembangkan rasa berkesenian dalam kehidupan masyarakat desa di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Sleman. Agus ingin selalu berbagi dengan masyarakat luas, menyebarluaskan ilmu yang dipunyainya.

Dia  berprakarsa membentuk jejaring masyarakat seni, antara lain di Desa Donokerto, Turi; Caturharjo, Sleman; Purwomartani, Kalasan; Sinduharjo, Ngaglik, dan Sidoagung, Godean. Masyarakat diajak untuk bersama-sama membangun desanya melalui kesenian. Sekarang, jejaring ini berkembang di sembilan tempat, dan bertambah lagi dengan bergabungnya sudagar Pasar Sasen. Siapa yang menyangka bahwa sekarang keberadaan jejaring ini malah membuat mereka bisa saling mendukung kebutuhan mereka masing-masing.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

16 Okt 2018

Penghargaan kepada Yogyakarta sebagai kota budaya Asia (Asia City of Culture), tidak lantas melenakan kita, tetapi justru merupakan pemacu semangat meningkatkan perhatian (apresiasi) masyarakat terhadap kebudayaan sendiri. Boleh saja disebut bahwa negara

09 Okt 2018

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun de

01 Okt 2018

Berkesenian merupakan upaya masyarakat melestarikan bentuk kesenian yang dilakukan secara alami, tanpa paksaan, tidak mengejar atau mengharapkan perhatian orang, bahkan menumbuhkan semangat berkesenian secara mandiri. Masyarakat jejaring musik yang dibin

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta