« Kembali

Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa

Tanggal : Senin, 12 November 2018 Dilihat : 6261 kali

Lukisan purba yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain layang-layang, diduga dari zaman prasejarah, dan diperkirakan telah berusia ribuan tahun, sebagaimana diungkap Wolfgang Bieck, penasehat/konsultan fotografi udara layang-layang (consultant of kite aerial photography) dari Jerman, pada artikel berjudul ”The First Kiteman” dalam sebuah majalah Jerman, pada 2003. Meskipun demikian, warnanya masih bagus dan tampak jelas, serta tidak bisa dihapus. Pewarna yang tahan lama ini sangat berbeda dengan penggunaan warna pada zaman sekarang yang mudah hilang dalam waktu cepat.

Bieck yang penasaran akan kealamian layang-layang dari Muna, yang punya sejarah kuno dan purba, mengagumi layang-layang ini yang benar-benar dibuat dari bahan alami, dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Berbeda dengan layang-layang buatan China yang telah menggunakan teknologi kain parasut dan batang alumunium. Asumsi inilah yang meyakinkan Wolfgang Bieck bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Muna, bukan China.

Meskipun lukisan purba yang menggambarkan orang sedang bermain layang-layang itu diyakini pihak mancanegara telah berusia ribuan tahun, kalau gambar itu kecil dan tidak ada yang lain, bisa jadi bahwa gambar itu terbentuk karena peristiwa alami biasa, bukan sengaja digambar, tanggap Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Apabila skala/ukuran gambarnya sudah diketahui, peneliti ilmiah akan meletakkan skala pada setiap gambar, sehingga dimensinya jelas.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

19 Des 2018

Sekarang ini, masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya, dan masyarakat lain pada umumnya, dapat dengan mudah mengetahui film dan karya audio visual Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui katalog film online, dengan tautan (link) ht

19 Des 2018

Wayang itu anekatafsir. Jadi, mau dinaskah sesuai dengan keadaan sekarang, sangat memungkinkan. Bukan hanya lakon Pandawa Dadu, melainkan seperti Wiratha Parwa, dan lain-lain, juga bisa, ungkap Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta.

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan fra

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta