« Kembali

Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa

Tanggal : Senin, 12 November 2018 Dilihat : 10153 kali

Lukisan purba yang dibuat dengan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon), pada dinding Gua Sugipatani, di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan orang sedang bermain layang-layang, diduga dari zaman prasejarah, dan diperkirakan telah berusia ribuan tahun, sebagaimana diungkap Wolfgang Bieck, penasehat/konsultan fotografi udara layang-layang (consultant of kite aerial photography) dari Jerman, pada artikel berjudul ”The First Kiteman” dalam sebuah majalah Jerman, pada 2003. Meskipun demikian, warnanya masih bagus dan tampak jelas, serta tidak bisa dihapus. Pewarna yang tahan lama ini sangat berbeda dengan penggunaan warna pada zaman sekarang yang mudah hilang dalam waktu cepat.

Bieck yang penasaran akan kealamian layang-layang dari Muna, yang punya sejarah kuno dan purba, mengagumi layang-layang ini yang benar-benar dibuat dari bahan alami, dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Berbeda dengan layang-layang buatan China yang telah menggunakan teknologi kain parasut dan batang alumunium. Asumsi inilah yang meyakinkan Wolfgang Bieck bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Muna, bukan China.

Meskipun lukisan purba yang menggambarkan orang sedang bermain layang-layang itu diyakini pihak mancanegara telah berusia ribuan tahun, kalau gambar itu kecil dan tidak ada yang lain, bisa jadi bahwa gambar itu terbentuk karena peristiwa alami biasa, bukan sengaja digambar, tanggap Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Apabila skala/ukuran gambarnya sudah diketahui, peneliti ilmiah akan meletakkan skala pada setiap gambar, sehingga dimensinya jelas.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
16 Mar 2019

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul, pada Jumat Wage, 15 Maret 2019, melambangkan rasa syukur warga masyarakat kepada Sang Pencipta, atas karunia panen yang berlimpah. Sebelum paraden hasil bumi dibagi-bagikan kepada

...
16 Mar 2019

Tantangan bagi desa budaya adalah ketika desa rintisan budaya malah lebih maju daripada yang desa budaya. Karena itu, desa budaya diminta terus terpacu dan bersemangat membangun budayanya, dengan menggali dan mengembangkan sumber daya budaya di desa, ant

...
15 Mar 2019

KaMus (Kamis Museum) kali ini membahas tentang salah satu koleksi di Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali). Terdapat 10 diorama di lantai II dengan ukuran sesuai aslinya. Episode perjuangan fisik dan diplomasi yang digambarkan dalam diorama dipilih dari

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta