« Kembali

Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?

Tanggal : Selasa, 9 Oktober 2018 Dilihat : 11089 kali

Pelaku berbahasa Jawa tutur, yang sering dipergunakan dalam pergaulan sehari-hari, boleh mengungkapkan atau menyampaikan perasaan atau pendapatnya dengan bahasa Jawa yang tidak baku. Hal ini dikemukakan Paksi Raras Alit, pemerhati bahasa Jawa. Meskipun demikian, pelaku bahasa tetap memperhatikan sopan santun (unggah-ungguh basa) ketika lawan bicaranya orang tua, atau yang memang patut dihormati. Karena itu, apabila dengan dalih keakraban atau kedekatan, kemudian menggunakan sapaan ”kowe” atau ”kamu”, padahal lawan bicaranya cukup tua, tentu hal ini tidak sepatutnya dilakukan. Selain itu, apa mungkin, karena pejabat, seseorang tidak disapa ”kowe” atau ”kamu”?

Kepala bidang sejarah, bahasa, dan sastra, pada Dinas Kebudayaan DIY, Erlina Hidayati Sumardi, S.I.P., M.M., prihatin akan keadaan tersebut. Perilaku bebas, juga terhadap bahasa, ternyata sudah demikian mengkhawatirkan. Begitu jauh merasuk merusak sendi unggah-ungguh basa, dan rasa bahasa berbahasa Jawa Yogyakarta. Hal ini mengganggu harapannya bahwa sebisa mungkin pegawai pemerintah daerah di sini pun ikut berperan memelihara kebiasaan berbahasa Jawa dalam pergaulan sehari-hari di kantor.

Tampaknya, pelajaran bahasa Jawa di sekolah, sebagai mata pelajaran pilihan setempat (bahasa daerah), terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta, perlu ditindaklanjuti dengan  pembelajaran pada tataran pergaulan di luar sekolah. Bukan sebatas murid sudah belajar dan menjawab latihan soal di kelas, ya, sudah. Sampai di sana saja. Sedangkan terkait dengan penerapannya, masyarakat cenderung abai. Purwatmadi Atmadipurwa, sastrawan dan penulis, merasa miris akan gejala ini.

Apakah keadaan ini akan terus dibiarkan gelundung seperti itu?(hen/ppsf)

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

...
23 Mei 2019

Salam dan Bahagia!Apa kabar Sahabat Museum??Bertemu lagi dengan KaMus (Kamis Museum) yang akan mengulas koleksi masterpiece di MDKG (Museum Dewantara Kirti Griya)Baju Penjara KHD (Ki Hadjar Dewantara). Baju penjara tersebut merupakan bukti perlawanan agi

...
23 Mei 2019

Kehadiran Islam di Nusantara di awal pada abad XV memberi warna baru dalam sistem kepercayaan masyarakat. Di sisi lain, munculnya pusat-pusat kekuasaan Islam dari Demak hingga Mataram turut menambah laju asimilasi Islam dalam kebudayaan Jawa. Keadaan ini

...
23 Mei 2019

Mahasiswa Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta bekerja sama dengan Museum Negeri Sonobudoyo akan mengadakan ‘Museum Tour and Culture Exhibition’ untuk mahasiswa exchange dan wisatawan asing. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 25

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta