« Kembali

Dinas Kebudayaan DIY kaji upaya tumbuhkan rasa peduli dan perhatian masyarakat terhadap seni budaya

Tanggal : Senin, 3 Desember 2018 Dilihat : 271 kali

Perhatian masyarakat untuk menonton kegiatan seni budaya dinilai masih rendah, prihatin Singgih Raharjo, S.H., M.Ed., wakil kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Digratiskan saja, mereka pating slentir, dengan berbagai macam alasan, entah tidak peduli, karena hujan, dan lain sebagainya, apalagi harus membayar. Artinya, tidak ada kesadaran dari diri sendiri bahwa kegiatan seni budaya patut mendapat perhatian.

Keprihatinan tersebut tercetus ketika pementasan sendratari klasik Jepang, “Noh”, di pendapa Dinas Kebudayaan DIY, pada Minggu malam, 2 Desember 2018, ditunda selama satu jam, karena menunggu penuhnya penonton. Pada kesempatan ini, Noh digabungkan dengan unsur seni Jawa dan Bali (cerita tentang bhinneka tunggal ika dari kitab Sutasoma), merupakan kerja sama seniman Tokyo, Jepang, dengan Didik Nini Thowok. Setelah Yogyakarta, Didik Nini Thowok melanjutkan muhibah kesenian ke Bali, dan dipungkasi di Tokyo.

Kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan, kemuka Singgih Raharjo. Nantinya, Dinas Kebudayaan DIY berupaya mengadakan semacam subsidi pementasan. Hal ini penting untuk mendidik masyarakat dan memberi mereka pembelajaran, terkait dengan perlunya sikap perhatian itu sendiri.

Sekarang ini, pemda DIY dan kabupaten/kota boleh disebut sebagai penanggap rutin kegiatan para seniman dan kelompoknya. Seluruh beayanya, bahkan penontonnya dibayarkan (tinggal duduk manis menonton), ditanggung penuh pemerintah daerah. Meskipun demikian, Singgih Raharjo mengajukan pertanyaan, ”Apakah itu merupakan cara yang baik (mendidik masyarakat)?”

Upaya tersebut perlu dicoba atau dikaji, karena penting bagi masyarakat, agar tumbuh rasa peduli dan perhatian mereka terhadap seni budaya negeri sendiri. Secara bertahap, sedikit demi sedikit, cara tersebut (subsidi pementasan) diterapkan dulu pada beberapa pergelaran. Karcis masuk kurang dari setengah harga saja, misalnya, sehingga dapat membantu masyarakat yang punya minat menyaksikan.

Seniman dan kelompoknya diingatkan juga bahwa perlu belajar terus memperbaiki pengelolaan kegiatannya, mengambil sepenuhnya manfaat suatu kegiatan. Seniman perlu memahami bahwa karya yang bagus memerlukan manajemen penonton, atau manajemen pertunjukan yang bagus pula.

Karyanya sudah bagus, penarinya apik, ceritanya juga bagus, namun itu saja belum cukup. Perlu diimbangi dengan upaya pengelolaan pertunjukan sedemikian rupa punya daya tarik, sehingga dapat mengundang perhatian masyarakat. Bukannya menunggu penonton datang, atau diminta datang, melainkan malah masyarakat antre ingin menyaksikan. Merupakan capaian yang luar biasa, pungkas Singgih Raharjo, kalau hal itu bisa diwujudkan.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

12 Des 2018

Orang Jawa itu matematis, semua hal serba dihitung. Dalam bahasa Jawa, petung artinya menghitung. Seperti teori probabilitas (kemungkinan) pada matematika, bukan berarti semuanya mungkin, melainkan semuanya bisa dihitung, bahkan sampai pada tingkatan frak

...
12 Des 2018

Sesuatu yang luar biasa terjadi di Kedewaguruan Mahameru (Gunung Semeru). Awan melingkar menutupi puncaknya. Peristiwa ini disebut caping gunung atau gunung yang bertopi. Konon, pada saat peristiwa itu terjadi, para dewa dan arwah leluhur turun ke bumi.

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta