« Kembali

Salah Kaprah Pengenalan Musik, Hambat Tumbuh Kembang Ciri Khas Musik Daerah

Tanggal : Selasa, 25 September 2018 Dilihat : 2301 kali

Kecerdikan Mang Ujo mengemas angklung sedemikian rupa, menggiring anggapan masyarakat umum, sehingga seolah-olah angklung berasal dari Jawa Barat. Sebenarnya, diungkap seniman musik bambu dan ilustrator musik, Agus ‘Patub’ Budi Nugroho, seperti halnya soto, angklung dapat ditemukan di mana-mana. Angklung jathilan di Sleman, angklung Banten, angklung Reog Ponorogo, angklung bambu hitam di Bali, dan ada pula angklung di Irian.

Demikian pula alat musik petik yang ditempatkan pada mulut, di Toraja disebut karombi; di Bandung, karinding; di Jawa, namanya rinding. Di Kota Yogyakarta, alat ini bisa didapatkan di sebuah toko batik terkenal dan cukup besar (setiap Kamis dipentaskan) di Jalan Malioboro. Daerah-daerah yang punya alat musik khas, tidak perlu terlalu bangga (ke-ge-er-an, cetus Agus), karena itu merupakan tindakan nenek moyang yang sudah sangat adil mewariskan kekayaan budidaya untuk penerus mereka. Sekarang, tindakan yang bijaksana adalah melestarikannya.

Alat musik lain, seperti kalempong (gamelan Padang, Sumatra), nadanya untuk lagu-lagu Sumatra, Minang, tidak bisa digunakan untuk Gundul Pacul, Suwe Ora Jamu. Begitu pula gamelan denggung, nadanya masih Jawa Barat, lagu-lagunya untuk mereka, misalnya Es Lilin, tidak bisa untuk lagu-lagu Yogyakarta. Sekarang campur aduk, musiknya nusantara, wilayah nadanya barat. Angklungnya memang Bandung, atau Indonesia, namun nadanya seperti piano.

Seperti Mang Ujo yang berhasil mengemas angklung sedemikian rupa (Saung Mang Ujo), Agus ’Patub’ ingin mengangkat citra suling slendro Yogyakarta. Dia mengidam-idamkan tempat wisata musik di Daerah Istimewa Yogyakarta, bukan semata-mata untuk tempat berfoto selfi-selfi, melainkan di sana juga membuat, mempertunjukkan, melibatkan orang untuk bermain musik khas Yogyakarta. Menurut Agus, di antara gamelan, suling, dan angklung, mungkin pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta masih lebih melirik sanggar yang mengangkat musik gamelan (dibandingkan dengan suling atau angklung) yang dianggap sebagai kesenian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Masih jauh dari bisa mewujudkan tempat bermusik khas Yogyakarta, kenyataan sekarang jutru sejumlah instrumen plastik mika, seperti recorder, pianika, drumband, menyerbu kita bahkan dibakukan sebagai alat pendidikan musik dasar (barat) di sekolah. Pendidikan taman kanak-kanak dan anak usia dini berlomba-lomba memiliki perangkat drumband, seakan-akan sebagai ukuran (standar) kemajuan pendidikan musik sekolah setempat.

Mulai belajar suling bambu sejak sekolah menengah pertama kelas tiga, masa Agus sekolah menengah atas terkena imbas produk plastik bernama recorder/suling plastik keluaran merk terkenal dunia yang 'menjajah' Indonesia, sejak kurikulum 1986 hingga kini, prihatin Agus ’Patub’.(hen/ppsf)

 

Bagikan :

BERITA LAIN Lihat Semua

10 Des 2018

Seperti halnya Lela Ledhung, semacam lagu ’nina bobo'-nya Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, setiap daerah di Indonesia memiliki lagu buaian untuk anak sebelum tidur, ungkap Agus ’Patub’ Budi Nugroho, dengan kekhasan melodi dan bahasa ma

10 Des 2018

Sekalipun dengan rentang masa lebih kurang 400 tahun, sejak Situ Panjalu disebut pada 635 Masehi, menurut catatan turun-temurun, nama Panjalu mengingatkan kita pada kota Panjalu yang muncul kemudian di Jawa Timur, yakni semasa kedaulatan kerajaan Kadiri d

06 Des 2018

Situ Panjalu dikaitkan dengan sang Prabhu Sultan Borosngora. Catatan tradisi menyebutkan bahwa Sang Prabhu Borosngora bertemu dengan Bagindha Ngali sekira 635 Masehi, di Situ Panjalu. Bagindha Ngali membimbing sang Prabhu Borosngora dengan ajaran agama, h

Kontak

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Cendana 11 Yogyakarta 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945

Newsletter

Selalu dapatkan informasi terbaru dari kami, dengan berlangganan melalui email

Copyright © 2017 Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa yogyakarta