Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Ngibing bareng, pentas desa budaya Semin, Gunungkidul, memesona turis mancanegara

30 Karya Budaya DIY ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2019.

Yogyakarta-Victoria Friendship Symphony Orchestra Collaboration Concert

Sarasehan Pelestarian Warisan Budaya bagi Penerima Penghargaan Pelestari Warisan Budaya

Pentas seni desa budaya di bandara, unjuk kemampuan dan bukti memajukan desa budaya

Agenda Kegiatan Dinas Kebudayaan dan UPT Bulan Agustus 2019

Ekskavasi Arkeologi di "Butulan" Jalan Nagan Kulon

Agenda Budaya Bantul dan Kelurahan Budaya Yogyakarta Bulan Agustus 2019

Menerima Kunjungan Studi Banding dari Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya Rumah Jenggotan

Menyajikan data ke- 11-20 dari 573 data.
Halaman « 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (40)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (11)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Upacara adat Babad Dalan, peringatan terhadap Ki Ageng Giring
« Kembali

Tanggal berita : Rabu, 10 April 2019
Dibaca: 555 kali

Upacara adat babad dalan merupakan sumber daya unggulan desa budaya Giring, dari segi adat tradisi. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, upacara adat ini bermula dari cerita bahwa Ki Ageng Giring berebut wahyu degan gagak emprit dengan Ki Ageng Pemanahan.Dari sini, kemudian memunculkan tempat-tempat di Desa Giring yang dipercaya masyarakat, berasal dari rangkaian peristiwa tersebut.

Kala itu, wahyu degan gagak emprit didapat Ki Ageng Giring, dan dia bersiap untuk meminum degan, dengan bersuci di Kali Nyamat. Ketika wahyu degan diminum, Kali Nyamat yang digunakan bersuci diri Ki Ageng Giring ambleg atau amblong, karena Ki Ageng Giring gowang atine(khawatir).Sekarang, kali itu dikenal dengan nama Kali Gowang.

Ki Ageng Giring lari dari tempatnya bersuci. Dengan perasaan khawatir, dia tiba di suatu padang ilalalang. Sekarang, padang itu dinamakan Alas Kumitir. Akhirnya, Ki Ageng Giring sampai di dekat rumahnya, dan melihat Ki Ageng Pemanahan.

Seketika, Ki Ageng Giring berteriak, dan seketika itu pula ada pohon jati yang terbakar. Sekarang, tempat itu menjadi petilasan Jati Bengok. Ki Ageng Giring bertarung dengan Ki Ageng Pemanahan. Pada peristiwa itu, Ki Ageng Giring unggul, namun akhirnya terjadi perundingan pada batu yang saling berhadapan. Kemudian, Ki Ageng Pemanahan kembali, sedangkan Ki Ageng Giring moksa. Sekarang, petilasan berupa batu itu disebut Watu Jagong.

Setelah peristiwa tersebut, masyarakat lupa akan pepunden Ki Ageng Giring, sehingga terkena bebendu. Akhirnya ada perintah dari sesepuh untuk mencari dununge (keberadaan) Ki Ageng Giring. Kala itu masyarakat bergotong royong membabat alas tutuban, dan akhirnya ditemukan jubah, teken (tongkat), dan seonggok tulang belulang pada Jumat Kliwon, setelah panen padi. Sejak itulah upacara adat babad dalan selalu dilaksanakan masyarakat Desa Giring sebagai peringatan terhadap Ki Ageng Giring.

Dari dahulu, sampai dengan 2016, masyarakat beranggapan bahwa babad dalan dikemas dengan tidak boleh ada ramai-ramai.Pelaksanaannya dengan rangkaian yang sederhana. Pada Minggu Kliwon, kerja bakti alas tutuban. Rabu Wage, pengiriman mong mentah ke rumah kepala desa. Malam Jemuah (Jumat) Kliwon, diadakan tirakatan biasa, dan kenduri biasa. Setiap warga di tiga padukuhan sebelah utara (Kendal, Giring, dan Candi) mengirim mong matang untuk alas tutuban.

Pada 2017 dan 2018, babad dalan dikemas dalam dua hari, yaitu Kamis dan Jumat Kliwon, dengan pengemasan bahwa Kamis malam Jumat diadakan tirakatan dan sarasehan, dengan bahan budaya (pada 2017, busana adat gaya Yogyakarta, dan 2018, sejarah Desa Giring).

Jumatnya dilaksanakan kirab agung pusaka Ki Ageng Giring (tumbak udan arum, songsong sangga buwana, songsong tunggul naga, yang dikembalikan Sultan Hamengku Buwono Kesepuluh) dari gedong pusaka menuju tilas dalem Ki Ageng Giring. Kemudian dilaksanakan kenduri di tilas dalem dan sendang pitutur. Selanjutnya, pusaka dikirab kembali menuju balai Desa Giring, dan diadakan upacara adat babad dalan, serta berbagai macam gelar sumber daya budaya.

Sekarang, pada 2019 ini, upacara adat babad dalan dikemas dan dilaksanakan lebih baik lagi dengan dilaksanakan selama enam hari, dari Minggu sampai dengan Jumat (31 Maret sampai dengan 5 April 2019). Upacara adat yang dibuka pada hari Minggu tersebut, diisi dengan berbagai macam kegiatan, seperti pementasan 19 kelompok kesenian rakyat di Desa Giring, parade karawitan pada malam harinya, lomba permainan gobag sodor antar-padukuhan pada sore harinya, pameran makanan olahan asli Desa Giring, pameran kerajinan Desa Giring, macapatan masal pada malam Jemuah Kliwon (malam tirakatan), upacara adat babad dalan dan kirab pusaka, dan lain-lain.

Sesuai dengan perkembangan zaman, upacara adat babad dalan dikemas sedemikian rupa, dari segi estetis, lebih sakral, dan lebih guyub, sehingga waga Giring selalu memiliki rasa handarbeni terhadap upacara adat itu. Meskipun demikian, nilai aslinya, seperti hari pelaksanaan, uba rampe, sesaji, kenduri, dan kesakralannya, tetap dipertahankan.(hen/lembud)

 

 
° Berita terkait :  
30 Karya Budaya DIY ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2019.
Agenda Budaya Bantul dan Kelurahan Budaya Yogyakarta Bulan Agustus 2019
Lakon Bima Suci Pandu Swarga, gelaran ringgit wacucal jelang Labuhan Merapi
Labuhan Parangkusumo, lambang pertemuan Panembahan Senapati dengan Nyi Rara Kidul
Upacara adat kutukan/suguhan: Kisah Sunan Geseng
Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul
Pamor Nyangku di Situ Panjalu, Ciamis, Lebih dari Seribu Tahun
Cabeyan Merti Dusun
Udhik-udhik Sebagai Wujud Kepedulian Raja Mensejahterakan Rakyatnya
Miyos Gongso Sekaten, GKR Mangkubumi Sebar 'Udhik-Udhik'
1000 Apem dan Lemper Diarak Keliling Tugu
Tolak Bala, Warga Kidulan Gelar Bersih Dusun
Lestarikan Jasa Mbah Demang Cokrodikromo
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Ritual Jamasan Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Sekali Setahun Tiap Jumat Kliwon
Ratusan Orang Ikut Ngalap Berkah Air Jamasan
Tradisi Sarat Makna Spiritual yang Masih Terjaga
Tuntunan dan Tontonan dari Kirab Siwur
Memaknai 'Siwur' Bagi Masyarakat Jawa
Wayang Jogja Night Carnival Siap Digelar untuk Semarakkan HUT ke-260 Yogyakarta
Ada yang Menarik di Poros Selatan Yogyakarta -Trenggalek
Mubeng Beteng, Sarana Introspeksi Orang Jawa
REALTIME NEWS: Ribuan Masyarakat dan Abdi Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng
Gelar Budaya Sedekah Kali Warga Mrican
Ribuan Orang Rayahan Gunungan Garebeg Besar
Gunungan Hajad Grebeg Idul Adha Melintasi Kawasan Malioboro
Pentingnya 'Rasulan' bagi Masyarakat Jatimulyo
Kirab Budaya Kadipaten Pakualaman
 
Statistik
00221714
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945