Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
KAMUS (KAMIS MUSEUM) : Edaran Dharma Bakti untuk Gedung Persatuan Wanita

Museum Tour and Culture Exhibition

Museum Sonobudoyo : Diskusi Komunitas Seri Ramadan

KAMUS (KAMIS MUSEUM) : Baju Penjara KHD (Ki Hadjar Dewantara)

Kegiatan Sosialisasi Revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan Kraton di Kecamatan Gondomanan

Kegiatan Sosialisasi Revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan Kraton di Kelurahan Panembahan

Bersatu Dalam Rencana Aksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Takbenda Keris

Nyawiji Budaya Sebagai Sarana Apresiasi Budaya

"Wargo Budoyo" menjaga eksistensi kesenian tradisional

3G di Bebekan Mempesona dengan Aktivitas Berkesian

Menyajikan data ke- 1-10 dari 517 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Perjalanan Sejarah Masjid Perak Kotagede Yogyakarta
« Kembali

Tanggal berita : Senin, 25 Januari 2016
Dibaca: 19400 kali

KOTAGEDE, SALAMGOWES.COM – Berada di dua wilayah administrasi Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, kawasan Kotagede memiliki ciri khas yaitu sebagai kawasan pengrajin perak dan kawasan heritage kerajaan Islam Mataram yang memiliki sejarah panjang pergerakannya. Tidaklah mengherankan apabila Kawasan Kotagede mayoritas berpenduduk Islam dan memiliki banyak peninggalan kental dengan budaya Islam salah satunya Masjid Perak Kotagede.


Masjid Perak Kotagede beralamat di Jalan Mondorakan Kotagede, berada persis dibelakang SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Masjid Perak Kotagede dibangun pada masa perang kemerdekaan tepat tanggal 1 Syuro tahun 1940. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh tiga ulama Kotagede, yaitu KH Mudakir, KH Amir dan KH Muhsin. Pada era revolusi fisik, Masjid Perak Kotagede memberikan sumbangsih perjuangan yang besar bagi eksistensi Republik Indonesia. Dipimpin oleh Drs. H. Zubaidi Bajuri, beliau mengumandankan takbir memimpin memimpin Laskar Hizbullah/Sabilillah ke garis terdepan medan pertempuran melawan serdadu Belanda yang membonceng NICA untuk kembali menjajah Indonesia. Halaman Masjid Perak Kotagede menjadi saksi bisu pembekalan dan pelepasan Laskar Hizbullah/Sabilillah menuju medan perang.

Memasuki era 1950-an hingga akhir 1960-an, gelora semangat juang Masjid Perak Kotagede masih dibutuhkan andilnya oleh NKRI. Di penghujung Orde Lama, aktifis masjid ini turut serta menjaga persatuan bangsa ini akibat terjadinya konflik politik PKI dengan kekuatan militer. Di era tersebut, Masjid Perak Kotagede menjadi pusat kegiatan pergerakan pemuda Islam, mereka dibekali wawasan tentang Islam dan ilmu bela diri.

Pemberian nama Perak pada bangunan ini banyak menimbulkan salah tafsir bagi masyarakat luas. Nama Perak sendiri bukanlah karena para donatur pembangunan Masjid Perak Kotagede ini adalah para pengusaha perak yang menjadi salah satu keunggulan Kotagede. Nama Perak ini diambil dari bahasa Arab dari kata “Firoq” yang memiliki arti pembeda. Pembangunan masjid menjadi bentuk perlambang dari kebebasan umat dari pemikiran kotor, kebekuan berpikir pada masa lalu, dan pemisahan tegas kaum reformsi dari bentuk ikatan keuasaan agama dari kerajaan Islam dan adat.

Pembangunan Masjid Perak Kotagede sebagai antisipasi dari berkembangnya Islam di kawasan Kotagede dan sekitarnya. Masjid Agung Kota Gede sudah tidak mampu lagi menampung jamaah, disamping itu penggunaan Masjid Agung Kota Gede harus mengkantongi izin dari pihak Kraton Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Dengan alasan mempermudah jalur birokrasi terebut, munculah gagasan untuk membangun masjid baru yang berdiri sendiri dan tidak terikat aturan yang sangat birokratis.


Perubahan jaman pun tidak mengkikis keberadaan Masjid Perak Kotagede dalam melanjutkan semangat perjuangannya. Sebidang tanah yang berada disampingnya pun diwakafkan untuk membangun sebuah sekolah sebagai sarana dan fasilitas membina generasi muda Islam menghadapi tantangan jaman yang selalu berubah.

Secara fisik bangunan ini mengalami perubahan dari material yang digunakan akibat terkena bencana gempa bumi yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Masjid Perak Kotagede termasuk bangunan cagar budaya yang terkena dampak serius dari dari bencan ini. Kerusakan parah menyelimuti bangunan yang membahayakan bagi lingkungan sekitar sehingga perlu direnovasi total.

Tepat tanggal 15 Februari 2009, bangunan Masjid Perak Kotagede dirobohkan sebagai penanda dimulainya pembangunan . Pembangunan masjid resmi berhenti ketika diresmikan ulang oleh Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, pada 31/01/2013. Pembangunan ulang masjid ini tetap tidak merubah bentuk desain bangunan lama. (aanardian/salamgowes.com)

 
° Berita terkait :  
Kegiatan Sosialisasi Revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan Kraton di Kelurahan Panembahan
Bersatu Dalam Rencana Aksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Takbenda Keris
Gelar Seni Budaya Yogyakarta 2019 Dalam Rangka Memperingati Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke 272
PENANGSANG DALAM BAYANGAN
"SESAJI NAGARI" ALA KUAETNIKA
Pengukuhan Dewan Pengurus Barahmus DIY masa bakti 2018-2023
Aksi Pemajuan Kebudayaan DIY, 40 Usulan Karya Budaya DIY Maju Proses Penetapan Warisan Budaya Indonesia 2019
BAF# 1 DIGELAR
Festival Panji Saba Yogya
Festival Karawitan Putri Kab. Kulonprogo
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
TURI SEBAGAI TEMPAT AJANG FERSTIVAL KETHOPRAK TINGKAT KABUPATEN SLEMAN 2018
Beda Gaya Surakarta dengan Yogyakarta, Bukan Bahan Olok-olok
Kearifan Jawa dalam Tedhak Sungging, agar Orang Jawa Tidak Kehilangan Jawa-nya
Cabeyan Merti Dusun
GENDERANG JOGJA MUSIK SESSION UNTUK GENERASI MUDA
Puisi Seketika Di Museum "Pengasong Kata Bersafari Dalam Kota #1"
Pendalaman Materi dalam Rangka Pengingkatan Kapasitas Pemandu Museum Gunungapi Merapi
Ngopi Di Museum
Permainan Masangin: Kalah atau Menang, Sama-sama Senang
Perlakuan Masyarakat Setouchi terhadap Ruang Publik, Bagaimana di Yogyakarta?
Rumah Budaya Winong dan Sumber Daya Budaya di Kotagede
Gelar Budaya Kearifan Lokal di Sumberan Sleman
PBTY Tonjolkan Warna Warni Budaya Nusantara
'Open Call Application' ART|JOG|10 – 2017
Kalender Wisata di Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Sepanjang Tahun 2017
Sampaikan Pesan Persatuan Melalui Upacara
Batik Ayu Arimbi Desa Pandowoharjo Merambah Hingga Luar Negeri
Kirab Bregada Warnai HUT ke-70 Desa Pakembinangun
Kulonprogo Gelar Acara Batik on The Street
Gamelan Sekaten Ini Bakal Silence Pada Malam Jumat, Kenapa?
Magis...Alunan Gending Gamelan Pusaka di Masjid Gede Kauman
Gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu Ditabuh di Bangsal Ponconiti
Udhik-udhik Sebagai Wujud Kepedulian Raja Mensejahterakan Rakyatnya
Miyos Gongso Sekaten, GKR Mangkubumi Sebar 'Udhik-Udhik'
Festival Jathilan Warnai HUT ke-70 Desa Condongcatur
1000 Apem dan Lemper Diarak Keliling Tugu
Kesamaan Historis Kraton Yogyakarta dan Kutai Kartanegara
Kalimat Sekaten Itu Asalnya Gimana Sih?
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah
Wanita Timika Jajal Budaya Yogya di Omah Kecebong
Tradisi Sarat Makna Spiritual yang Masih Terjaga
Anggaran dipangkas, Pelangi Budaya Selendang Sutera Jalan Terus
Wayang Jogja Night Carnival Siap Digelar untuk Semarakkan HUT ke-260 Yogyakarta
Mubeng Beteng, Sarana Introspeksi Orang Jawa
Antusiasme Masyarakat Pada Seni dan Budaya Tinggi
Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi Kembali Digelar Di Yogyakarta
25-26 September, Ada International Street Performance di Jalan Marga Utama
Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan
Melanesia: Mengenal Masyarakat Indonesia Timur Melalui Budaya
Gelar Budaya Yogyakarta Sajikan Sendratari dan Wayang Wong
Gelar Budaya Jogja Sebagai Wadah Perenungan Eksistensi Kebudayaan
4 Tari Klasik Tampil di Gelar Budaya Jogja 2016
Mengunyah Sejarah Ketupat
Desa Sembungan Rintisan Desa Wisata Batik di Kulon Progo
Makna dan Sejarah Kemunculan Kolak di Bulan Ramadhan
Menapak Sejarah Penamaan Kampung dengan Bregada Kraton
Satu-satunya Rumah Joglo di Eropa Berdiri Megah di Slovenia
52 Places to Go in 2014
Anugerah Budaya Tahun 2013
Ini 10 Kontingen Terbaik Pawai Nusantara
OHD dalam 80 an Ampuh
JAMBORE KESEJARAHAN
TIRAKATAN SERANGAN UMUM 1 MARET 2019
BERSIH BERSIH TETENGER (RANGKAIAN ACARA PERINGATAN SERANGAN UMUM 1 MARET 2019)
JUMPA PERS PERINGATAN SERANGAN UMUM 1 MARET KE-70
Jelajah Budaya SMK Negeri 6 Yogyakarta di Museum Sejarah Purbakala Pleret dan Situs-Situs Bersejarah di Kecamatan Pleret
Polemik Tanggal dan Tempat Lahir Wage Rudolf Soepratman, Usik Upaya Pelurusan Sejarahnya
Night at The Museum: Tak Sekedar Jelajah Museum di Malam Hari
Sumbu Filosofis Gambarkan Perjalanan Hidup Manusia
Tuntunan dan Tontonan dari Kirab Siwur
REALTIME NEWS: Ribuan Masyarakat dan Abdi Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng
Asal Mula 2 Oktober Menjadi Hari Batik Nasional
Mubeng Beteng Melacak Jejak Geger Sepoy di Benteng Baluwarti
Selokan Van Der Wijck Urat Nadi Kehidupan Manusia
Selokan Van Der Wijck Urat Nadi Kehidupan Manusia
Di Balik Penemuan Candi: Kelupaan Sejarah?
Peta 1944, Kunci Penegasan Batas DIY dan Jawa Tengah di Candi Prambanan
Ditemukan di Pleret, Keris 'Sabuk Inten' Bakal Dibuat Hologram
Boko Festival 2016, Hiburan Penuh Makna Bagi Warga Yogyakarta
 
Statistik
00221249
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945