Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
KAMUS (KAMIS MUSEUM) : Edaran Dharma Bakti untuk Gedung Persatuan Wanita

Museum Tour and Culture Exhibition

Museum Sonobudoyo : Diskusi Komunitas Seri Ramadan

KAMUS (KAMIS MUSEUM) : Baju Penjara KHD (Ki Hadjar Dewantara)

Kegiatan Sosialisasi Revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan Kraton di Kecamatan Gondomanan

Kegiatan Sosialisasi Revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan Kraton di Kelurahan Panembahan

Bersatu Dalam Rencana Aksi Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya Takbenda Keris

Nyawiji Budaya Sebagai Sarana Apresiasi Budaya

"Wargo Budoyo" menjaga eksistensi kesenian tradisional

3G di Bebekan Mempesona dengan Aktivitas Berkesian

Menyajikan data ke- 1-10 dari 517 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 1 November 2018
Dibaca: 13411 kali

Sekira tahun 1965−1970-an, di Yogyakarta dan Surakarta pernah horeg (sering orang bilang geger, terdengar banyak orang), persangkaan bahwa wayang kulit bakal punah, ungkap Trisno Santoso, yang sering dipercaya sebagai juri wayang tingkat regional dan nasional. Dilihat dari gelagatnya pada waktu itu, akan kalah dari wayang kaset yang banyak diperdagangkan, produksi Irama Record, Singa Barong Record, Lokananta Record, Borobudur Record, dan lain-lain. Cukup dengan tape recorder, dilengkapi Toa (pengeras suara), yang ditali pada pohon kelapa atau pohon yang tinggi.

Pada waktu itu, masih jamak wayang dipertunjukkan semalam suntuk. Anak kecil yang gemar wayang, mencuri-curi kesempatan, bahkan sering membolos, agar bisa mendalang, atau sekadar ikut membantu dalang. Tidak mengherankan bahwa guru-guru menemukan anak yang mengantuk di kelas.

Trisno ’Pelog’ (sapaan akrab Trisno Santoso sejak giat di teater), dosen ISI Surakarta, yang pernah mengalami sendiri masa sulit ketika anak-anak ingin menonton wayang, mengungkap bahwa ketika beranjak remaja, anak diperbolehkan orang tua untuk menonton pertunjukan wayang, namun pada malam minggu saja. Meskipun demikian, sekali-sekali sang anak mencuri waktu menonton wayang, memanfaatkan kelengahan orang tua ketika mereka tertidur. Sekali waktu, dengan ngincang-inceng (melihat dari jauh) si anak mengetahui bahwa orang tuanya ikut menonton di tempat yang sama. Sebelum pertunjukan selesai, sang anak segera kembali ke rumah.

Ketika ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah pedalangan pun, anak tidak direstui kedua orang tuanya, karena dianggap tidak menguntungkan bagi masa depan. Dalam bayangan orang tua yang demikian, kalau dalang disenangi orang, bisa hidup enak seperti bangsawan, namun jika tidak kesampaian, paling hanya memelihara bebek.

Sekarang, terbukti bahwa wayangan tetap bertahan. Meskipun demikian, kalangan dalang merasa khawatir, karena sudah sulit bersambung rasa dengan pemuda masa kini. Trisno ’Pelog’ menganggap bahwa yang dimaksud pemuda masa kini oleh para dalang adalah anak-anak yang masih duduk di sekolah menengah atas kebawah. Diperkirakan bahwa setelah menginjak perguruan tinggi, mereka bisa dekat, karena menemukan sesuatu pada wayang.

Penonton wayang sekarang ini adalah mahasiswa keatas. Siswa sekolah menengah atas belum mau membaca Anak Bajang Menggiring Angin misalnya, tulisan Rama Sindunata, yang malah dicari-cari mahasiswa.

Merosotnya perhatian terhadap wayang, juga dirasakan Ki Edi Suwanda, tokoh pedalangan Daerah Istimewa Yogyakarta. Harus dicari resep yang jitu untuk mengurai kesulitan yang dialami dunia pewayangan masa kini, kemuka Ki Edi. Para pihak diajak untuk ikut memiliki, bertanggung jawab, dan berani melakukan perbaikan untuk kebaikan bersama. Selain perbaikan sistem, kemasan dalam pertunjukan, diperlukan juga sikap bermawas diri dalang beserta kelompoknya, serta menyikapi kebanyakan orang yang awam atau tidak paham akan kebiasaan (attitude) pedalangan. Bila tidak ditindaklanjuti, hal ini rawan memperlebar dan mempertajam geseh di dalam (konflik internal).(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Singkronisasi Program/kegiatan dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kota
2049 opo 2019 ?
OHD dalam 80 an Ampuh
Gelar Seni Budaya Yogyakarta 2019 Dalam Rangka Memperingati Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke 272
Tim Kesenian Dinas Kebudayaan DIY Membuka ajang Festival "Warno Singyes" Kementerian Dalam Negeri
PENANGSANG DALAM BAYANGAN
"SESAJI NAGARI" ALA KUAETNIKA
Budaya Yogyakarta Menyapa Dunia
Monumen Yogyakarta Sebagai ASEAN City of Culture
Dana keistimewaan untuk kesejahteraan masyarakat bersama
Seminar Budaya Selendang Sutera
KUNJUNGAN SEKOLAH VOKASI UGM
Sikap tidak terbius dinamika rekayasa, pelajaran dari lakon Pandawa Dadu atau Wiratha Parwa
Katalog film online Dinas Kebudayaan DIY, mudahkan khalayak mengetahui perkembangan film dan karya audio visual
Orang Jawa dan Sains
Caping Gunung
Sejarah panjang Panjalu: Keselarasan agung Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan
Dinas Kebudayaan DIY kaji upaya tumbuhkan rasa peduli dan perhatian masyarakat terhadap seni budaya
Manisnya Yogyakarta, Menggugah Para Seniman untuk Berkarya
Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa
Macam-macam Tingkah Polah Seniman, Biarkan Alam yang Mengurusnya
Nonton Bareng, Warga Dirgantara Asri Peringati Sumpah Pemuda
Menjaring Mutiara Berkilau yang Terpendam dari Ajang Lomba Pencarian Bakat
Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara
Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya
Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?
Meneropong Rekam Jejak Kiprah Begawan Tari Bagong Kussudiardja dan Wisnu Wardhana
Kaghati Kalope: Terkenal di Kancah Mancanegara, Terancam Punah di Negeri Sendiri
BAF# 1 DIGELAR
Mitos, Wacana Lain dalam Pembuatan Film
Dulu Negara Jajahan, Fosil dan Artefak di Indonesia Leluasa Dijarah
Kisah Kipas sebagai Senjata Rahasia Wanita
Festival Panji Saba Yogya
Zaman Sekarang, Mana Kebanggaan Berbahasa Indonesia-mu?
Tan Jin Sing Menyingsing Lelap Candi Borobudur Setelah Berabad-abad
Nilai Suatu Artefak adalah Nilai Sejarahnya
Penemuan benda (yang diduga) kuno, rawan memicu sifat kemaruk, dan merusak nilai sejarahnya
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
Perilaku Pergaulan Bebas, Ancam Kelestarian Nilai-nilai Budaya Bangsa
Beratnya Upaya Pemulihan Krisis Kepercayadirian Dalang Tradisional Pasca-reformasi
Menumbuhkan Naluri Swasensor dan Sedekah Digital dalam Konvergensi Media
Pengembangan dan Pemberdayaan Dalang Unggulan, Penerus Gaya Yogyakarta
Mandiri dan Profesional, Seniman Bisa Hidup Layak dan Bermanfaat
Kesenimanan dan Kiprah Budaya, Menggerakkan Masyarakat dan Lepas dari Politik
Javanese Diaspora Event III Resmi Dibuka Siang ini
Diaspora Jawa 2017 Di Benteng Vredeburg Yogyakarta
Ratusan Diaspora Jawa akan Berkumpul di Yogyakarta
Potong Tumpeng di Tengah-Tengah Kedung
TRADISI KULONPROGO Hari Ini, Ada Gebyar Seni Pareanom di Kedung Pedut
Disbud dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gelar Lomba Panahan Gaya Mataram
Night at The Museum: Tak Sekedar Jelajah Museum di Malam Hari
Rasakan Sensasi Digulung Ombak di Sekaten Jogja
Sekaten Beda dengan Pasar Malam
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY Tiba di Samarinda
Konten Utama Seni Religi di Sekaten
Makin Tersisih, Tampah Jadi Alternatif Medium Lukis
Sumbu Filosofis Gambarkan Perjalanan Hidup Manusia
Hadirkan Nada Gamelan Melalui Piranti Musik Kekinian
Modal Sosial, Kunci Seni Tradisional Bertahan
Pesta Pertunjukan Karya Pekerja Seni Muda
Pinasthika Creativestival XVII Award Kembali Hadir
Bakal Jadi Duta Santri, Slank Tampil 'Sarungan' di Maguwo
Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2016 Berdayakan Difabel
8 Kota Tanah Air Jadi Tempat Kolaborasi Seniman Indonesia-Inggris
20 Kontingen Ikut FBM 2016
Uji Kompetensi Murid SMKN 1 Kasihan
Perupa Indonesia Pameran di Vietnam
Kirab Gunungan dan Grobak Sapi Meriahkan Merti Dusun Saren
Batik-batik Langka Dipamerkan ke Publik
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah
Gunungan Pakaian Dalam Hingga Barang 'Klithikan' Sita Perhatian Warga
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
Lestarikan Jasa Mbah Demang Cokrodikromo
Tolak Bala, Warga Kidulan Gelar Bersih Dusun
Seni Budaya Bisa Jadi Mesin Ekonomi
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Kreativitas Kukuhkan Yogya Kota Berbudaya
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa
Anggaran dipangkas, Pelangi Budaya Selendang Sutera Jalan Terus
Ratusan Orang Ikut Ngalap Berkah Air Jamasan
Ritual Jamasan Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Sekali Setahun Tiap Jumat Kliwon
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Siang Ini Malioboro Ditutup! Ada Apa?
Teater Waplo Juara Baca Puisi Remaja DIY
Kemasan Pengaruhi Nilai Jual Batik Tulis
Karnaval Selendang Sutera #4 di Malioboro
Batik Api Inovasi ala Lugiyantoro
Baron Skeber di Auditorium RRI Yogyakarta
6 Perupa Bali Unjuk Gigi di Jogja
Asal Mula 2 Oktober Menjadi Hari Batik Nasional
Unik, Show Batik di Bandara Adisutjipto
Kumpul Komunitas Dari Merapi Hingga Pantai Selatan
Boko Festival 2016, Hiburan Penuh Makna Bagi Warga Yogyakarta
Lestarikan Seni Tradisi Islami di Masyarakat
Festival Selokan Mataram Siap Digelar Sabtu Ini
Sastrawan Melayu Bakal Kumpul di Yogyakarta
Pameran FKY Jadi Kesempatan Siswa Belajar Karya Seni Rupa
Batal Buat Kejutan, Endank Soekamti Tak Jadi Konser di Tebing Breksi
Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan
Ikuti Lomba Napeni Gabah dan Nylumbat Kambil Cuma Disini
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan
Video Mapping, Kreativitas Anak Yogya Tiada Banding
FKY KULONPROGO, Pemkab Akui Masih Kurang Publikasi
Selama Tiga Hari JFW 2016 Bakal Pamerkan Batik di Yogyakarta
Jogja Fashion Week 2016 Resmi Dibuka Siang Ini
Inilah Rangkaian Agenda Jogja Fashion Week 2016 pada Hari Perdana
Tiup Terompet Bersama Ribuan Warga, Sri Sultan HB X Resmi Buka FKY ke-28
Fantastis, 1000 Orang Ramaikan Pawai FKY di Malioboro
Gubernur DIY Hadiri Pawai Jalanan Festival Kesenian Yogyakarta ke-28
Kenapa FKY Selalu Identik Dengan Bambu?
Tebing Breksi Dijadikan Lokasi Big Bang FKY - 28
Pemilihan Duta Museum DIY Kembali Digelar
 
Statistik
00221256
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945