Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Sejarah panjang Panjalu: Keselarasan agung Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan

Sudah tidak disenandungkan masyarakat, Lela Ledung dilestarikan di desa/kampung musik

Pamor Nyangku di Situ Panjalu, Ciamis, Lebih dari Seribu Tahun

Dinas Kebudayaan DIY kaji upaya tumbuhkan rasa peduli dan perhatian masyarakat terhadap seni budaya

Manisnya Yogyakarta, Menggugah Para Seniman untuk Berkarya

Menekuni dan Menyebarkan Musik, Semangat Pengabdian Agus ’Patub’ kepada Negeri

Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa

Macapat Massal 72 jam

Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar

Nonton Bareng, Warga Dirgantara Asri Peringati Sumpah Pemuda

Menyajikan data ke- 1-10 dari 418 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Senandung Agus ’Patub’ BN di Balik Jingle Khas Radio di Yogyakarta
« Kembali

Tanggal berita : Rabu, 19 September 2018
Dibaca: 2687 kali

Penggemar siaran radio di Yogyakarta dan sekitarnya, tentu ingat ilustrasi musik (jingle) sebagai ciri khas pengenal radio kesayangannya. Membuat ilustrasi musik, misalnya jingle radio, bukan pekerjaan mudah, apalagi dibuat ketika perangkat pendukungnya masih berupa kaset pita, belum secanggih sekarang, yang dengan mudah bisa copy paste.

 

Membuat sebuah jingle, selalu diawali Agus ‘Patub’ Budi Nugroho dari bersenandung dulu untuk mendapatkan 'wahyu' melodi yang sesuai dan pas dengan rasa musik dari perusahaan yang memesan. Dari hasil senandung, baru diolah dengan instrumen keyboard, dan direkam dalam sejumlah jenis jingle.

Gagasan dasar atau bahan mentahnya sebagai cikal bakal melodi dibuat Agus pada 1995, begitu dia mendapat tawaran membuat jingle radio itu. Ketika itu, Agus masih kuliah pada jurusan periklanan (advertising), dengan minat utama ilustrasi musik iklan. Bayaran atas karyanya terbilang lumayan pada masa itu, ditengah krismon (krisis moneter) yang menggoyang negeri ini. Meskipun demikian, uang sebanyak itu cukup untuk makan selama dua minggu, kenang Agus sambil tersenyum, ketika menjalani hidupnya dulu sebagai anak kos, di kawasan Tungkak, Mergangsan. Jingle berdurasi sembilan detik itu baru resmi mengudara pada 1998.

Sampai sekarang, bagi khalayak di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, jingle radio itu sudah demikian lekat (Agus mengambil istilah earworm untuk menggambarkan keadaan itu) dalam pikiran penggemar atau yang mendengarnya. Dua puluh tahun lamanya, karya Agus ‘Patub’ Budi Nugroho, yang pada masa itu masih anak kos, jingle khas radio dengan sasaran pendengar female (perempuan) itu masih mengudara.

Agus ‘Patub’ Budi Nugroho bukan sekadar penggubah ilustrasi musik, dan seniman musik bambu, melainkan juga berupaya menumbuhkembangkan rasa berkesenian dalam kehidupan masyarakat desa di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Sleman. Agus ingin selalu berbagi dengan masyarakat luas, menyebarluaskan ilmu yang dipunyainya.

Dia  berprakarsa membentuk jejaring masyarakat seni, antara lain di Desa Donokerto, Turi; Caturharjo, Sleman; Purwomartani, Kalasan; Sinduharjo, Ngaglik, dan Sidoagung, Godean. Masyarakat diajak untuk bersama-sama membangun desanya melalui kesenian. Sekarang, jejaring ini berkembang di sembilan tempat, dan bertambah lagi dengan bergabungnya sudagar Pasar Sasen. Siapa yang menyangka bahwa sekarang keberadaan jejaring ini malah membuat mereka bisa saling mendukung kebutuhan mereka masing-masing.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Sudah tidak disenandungkan masyarakat, Lela Ledung dilestarikan di desa/kampung musik
Menekuni dan Menyebarkan Musik, Semangat Pengabdian Agus ’Patub’ kepada Negeri
Berpikir ’Nol’ untuk Membaca Suasana dan Membuat ’Kaya’ Ruang Belajar
Salah Kaprah Pengenalan Musik, Hambat Tumbuh Kembang Ciri Khas Musik Daerah
Menjinakkan Nada Setelah Jatuh Bangun Mengolah Kepekaan Bunyi
Festival Karawitan Putri Kab. Kulonprogo
GENDERANG JOGJA MUSIK SESSION UNTUK GENERASI MUDA
Konser Kebangsaan Jogja Kota Republik Digelar Rabu Esok
Orkestra 'Simfoni Keistimewaan' Memukau
Khayalan Oppie Andaresta di Panggung Pasar Keroncong Kotagede Yogyakarta
Pasar Keroncong Kotagede Kembali Digelar di Jogja
Berikut Para Pengisi Pasar Keroncong Kotagede 2016
Gangsadewa Gelar Orkestra Jogja Sound of Archipelago
Gamelan Jawa Jadi Ilustrasi Film Kedua 'The Hobbit'
 
Statistik
00220702
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945