Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Menekuni dan Menyebarkan Musik, Semangat Pengabdian Agus ’Patub’ kepada Negeri

Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa

Macapat Massal 72 jam

Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar

Nonton Bareng, Warga Dirgantara Asri Peringati Sumpah Pemuda

Macam-macam Tingkah Polah Seniman, Biarkan Alam yang Mengurusnya

Semarak Festival Desa Budaya Kabupaten Sleman

Festival Desa/Kelurahan Budaya 2018, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta

Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara

Menjaring Mutiara Berkilau yang Terpendam dari Ajang Lomba Pencarian Bakat

Menyajikan data ke- 1-10 dari 414 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Kaghati Kalope: Terkenal di Kancah Mancanegara, Terancam Punah di Negeri Sendiri
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 23 Agustus 2018
Dibaca: 2814 kali

Layang-layang yang ku sayang.

Layang-layang yang ku sayang.

Jauh tinggi sekali, melayang-layang.

Potongan lirik lagu dari 1970-an ini mengalun ringan, seakan-akan membawa pikiran melayang, mengajak bermain layang-layang sambil berdendang,. Lagu karya Koes Plus ini cukup mengena menggambarkan mainan layang-layang yang melayang tinggi di angkasa.

Sampai sekarang, permainan dengan layang-layang (atau sering disebut juga layangan) masih digemari anak-anak. Memang, tidak sebanyak yang dimainkan pada masa kecil anak-anak kelahiran 70−80-an atau pun 90-an, ketika telepon pintar masih langka. Zaman sekarang, anak-anak sudah terbiasa bermain ditemani smartphone. Meskipun demikian, ada hal lain dari permainan turun-temurun ini yang patut dibanggakan bangsa Indonesia. Ternyata, layang-layang buatan Indonesia merupakan yang tertua, dibandingkan dengan negara-negara lain.

Buktinya tidak muncul seketika itu saja. Seperti pernah diteliti (Raodah, Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar), hal itu bermula dari perlombaan (festival) layang-layang antarnegara pada 1997 di Berck-sur-Mer, pantai di Prancis. Indonesia, yang diwakili Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan layang-layang yang disebut kaghati kalope, meraih gelar juara, mengalahkan Jerman.

Secara etimologi, kaghati dalam bahasa Muna berarti layang-layang, sedangkan kalope adalah sejenis daun gadung (ubi hutan). Jadi, kaghati kalope adalah layang-layang yang terbuat dari daun kalope.

Keberhasilan Indonesia itu menarik perhatian peneliti dari Jerman, Wolfgang Bieck, yang merupakan penasihat fotografi udara layang-layang (counsultant of kite aerial photography). Peneliti ini penasaran akan layang-layang kaghati kalope yang terbuat dari bahan-bahan alami (bahkan diakui sebagai layang-layang paling alami), hanya dari daun, ternyata sanggup menaklukkan Eropa (Jerman).

Wolfgang Bieck melihat langsung lukisan tangan manusia prasejarah pada dinding batu Gua Sugi Patani, Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang menggambarkan seseorang sedang bermain layang-layang. Gambar pada dinding gua itu menggunakan tinta warna merah dari oker (campuran tanah liat dan getah pohon). Diperkirakan bahwa lukisan itu berusia ribuan tahun, namun warnanya tetap bagus dan masih tampak jelas, serta tidak bisa dihapus. Hal ini sangat bertolak belakang dengan penggunaan warna pada zaman sekarang yang mudah hilang dalam waktu cepat. Bieck menulis penelitiannya itu pada 2003, dalam artikel berjudul ”The First Kiteman” pada sebuah majalah Jerman (Indriasari, 2011).

Penelitian itu mematahkan teori bahwa layangan pertama berasal dari China pada 2.400 tahun lalu (Darampa, 2010). Layang-layang yang dibuat di China telah menggunakan teknologi yang bahannya dari kain parasut dan batang alumunium. Sedangkan layangan dari Pulau Muna, terbuat dari bahan alami dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya. Asumsi inilah yang meyakinkan Bieck bahwa layangan pertama di dunia berasal dari Muna, bukan China.

Kesaksian Bieck memang masih perlu diteliti lagi untuk dibuktikan kebenarannya. Sejumlah ahli arkeologi di Indonesia belum bisa memastikan usia lukisan di gua itu yang disebut Bieck lebih tua daripada temuan layang-layang di China yang berusia 2.400 tahun.  

Ironis, kaghati kalope yang merupakan tradisi masyarakat Desa Liangkobori, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, dan terkenal di dunia, keberadaannya kini terancam punah ditengah pesatnya kemajuan teknologi modern. Keadaan ini sejalan dengan perajin layang-layang kalope yang terus berkurang. Mereka membuat kaghati kalope kalau ada lomba atau festival saja, juga terkait dengan ritual dan mitos. Selain ini, mengolah daun kalope menjadi layang-layang, tidaklah mudah. Kini hanya segelintir orang Muna yang bisa membuat layang-layang dari daun kalope.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa
Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar
Nonton Bareng, Warga Dirgantara Asri Peringati Sumpah Pemuda
Macam-macam Tingkah Polah Seniman, Biarkan Alam yang Mengurusnya
Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara
Menjaring Mutiara Berkilau yang Terpendam dari Ajang Lomba Pencarian Bakat
Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya
Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?
Meneropong Rekam Jejak Kiprah Begawan Tari Bagong Kussudiardja dan Wisnu Wardhana
Kaghati Kalope, Layang-layang Paling Alami Sedunia
BAF# 1 DIGELAR
Dulu Negara Jajahan, Fosil dan Artefak di Indonesia Leluasa Dijarah
Mitos, Wacana Lain dalam Pembuatan Film
Kisah Kipas sebagai Senjata Rahasia Wanita
Festival Panji Saba Yogya
Zaman Sekarang, Mana Kebanggaan Berbahasa Indonesia-mu?
Tan Jin Sing Menyingsing Lelap Candi Borobudur Setelah Berabad-abad
Nilai Suatu Artefak adalah Nilai Sejarahnya
Penemuan benda (yang diduga) kuno, rawan memicu sifat kemaruk, dan merusak nilai sejarahnya
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
Perilaku Pergaulan Bebas, Ancam Kelestarian Nilai-nilai Budaya Bangsa
Beratnya Upaya Pemulihan Krisis Kepercayadirian Dalang Tradisional Pasca-reformasi
Menumbuhkan Naluri Swasensor dan Sedekah Digital dalam Konvergensi Media
Pengembangan dan Pemberdayaan Dalang Unggulan, Penerus Gaya Yogyakarta
Mandiri dan Profesional, Seniman Bisa Hidup Layak dan Bermanfaat
Kesenimanan dan Kiprah Budaya, Menggerakkan Masyarakat dan Lepas dari Politik
Javanese Diaspora Event III Resmi Dibuka Siang ini
Diaspora Jawa 2017 Di Benteng Vredeburg Yogyakarta
Ratusan Diaspora Jawa akan Berkumpul di Yogyakarta
Potong Tumpeng di Tengah-Tengah Kedung
TRADISI KULONPROGO Hari Ini, Ada Gebyar Seni Pareanom di Kedung Pedut
Disbud dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gelar Lomba Panahan Gaya Mataram
Night at The Museum: Tak Sekedar Jelajah Museum di Malam Hari
Sekaten Beda dengan Pasar Malam
Rasakan Sensasi Digulung Ombak di Sekaten Jogja
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil
Konten Utama Seni Religi di Sekaten
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY Tiba di Samarinda
Makin Tersisih, Tampah Jadi Alternatif Medium Lukis
Sumbu Filosofis Gambarkan Perjalanan Hidup Manusia
Hadirkan Nada Gamelan Melalui Piranti Musik Kekinian
Modal Sosial, Kunci Seni Tradisional Bertahan
Pesta Pertunjukan Karya Pekerja Seni Muda
Pinasthika Creativestival XVII Award Kembali Hadir
Bakal Jadi Duta Santri, Slank Tampil 'Sarungan' di Maguwo
Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2016 Berdayakan Difabel
8 Kota Tanah Air Jadi Tempat Kolaborasi Seniman Indonesia-Inggris
Perupa Indonesia Pameran di Vietnam
Uji Kompetensi Murid SMKN 1 Kasihan
20 Kontingen Ikut FBM 2016
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah
Batik-batik Langka Dipamerkan ke Publik
Kirab Gunungan dan Grobak Sapi Meriahkan Merti Dusun Saren
Gunungan Pakaian Dalam Hingga Barang 'Klithikan' Sita Perhatian Warga
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
Lestarikan Jasa Mbah Demang Cokrodikromo
Tolak Bala, Warga Kidulan Gelar Bersih Dusun
Seni Budaya Bisa Jadi Mesin Ekonomi
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Kreativitas Kukuhkan Yogya Kota Berbudaya
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa
Anggaran dipangkas, Pelangi Budaya Selendang Sutera Jalan Terus
Ratusan Orang Ikut Ngalap Berkah Air Jamasan
Ritual Jamasan Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Sekali Setahun Tiap Jumat Kliwon
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Siang Ini Malioboro Ditutup! Ada Apa?
Teater Waplo Juara Baca Puisi Remaja DIY
Kemasan Pengaruhi Nilai Jual Batik Tulis
Karnaval Selendang Sutera #4 di Malioboro
Baron Skeber di Auditorium RRI Yogyakarta
6 Perupa Bali Unjuk Gigi di Jogja
Batik Api Inovasi ala Lugiyantoro
Asal Mula 2 Oktober Menjadi Hari Batik Nasional
Unik, Show Batik di Bandara Adisutjipto
Kumpul Komunitas Dari Merapi Hingga Pantai Selatan
Boko Festival 2016, Hiburan Penuh Makna Bagi Warga Yogyakarta
Lestarikan Seni Tradisi Islami di Masyarakat
Festival Selokan Mataram Siap Digelar Sabtu Ini
Pameran FKY Jadi Kesempatan Siswa Belajar Karya Seni Rupa
Batal Buat Kejutan, Endank Soekamti Tak Jadi Konser di Tebing Breksi
Sastrawan Melayu Bakal Kumpul di Yogyakarta
Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan
Ikuti Lomba Napeni Gabah dan Nylumbat Kambil Cuma Disini
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan
Video Mapping, Kreativitas Anak Yogya Tiada Banding
FKY KULONPROGO, Pemkab Akui Masih Kurang Publikasi
Selama Tiga Hari JFW 2016 Bakal Pamerkan Batik di Yogyakarta
Inilah Rangkaian Agenda Jogja Fashion Week 2016 pada Hari Perdana
Jogja Fashion Week 2016 Resmi Dibuka Siang Ini
Gubernur DIY Hadiri Pawai Jalanan Festival Kesenian Yogyakarta ke-28
Fantastis, 1000 Orang Ramaikan Pawai FKY di Malioboro
Tiup Terompet Bersama Ribuan Warga, Sri Sultan HB X Resmi Buka FKY ke-28
Kenapa FKY Selalu Identik Dengan Bambu?
Tebing Breksi Dijadikan Lokasi Big Bang FKY - 28
Pemilihan Duta Museum DIY Kembali Digelar
 
Statistik
00220642
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945