Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Ngibing bareng, pentas desa budaya Semin, Gunungkidul, memesona turis mancanegara

30 Karya Budaya DIY ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2019.

Sarasehan Pelestarian Warisan Budaya bagi Penerima Penghargaan Pelestari Warisan Budaya

Pentas seni desa budaya di bandara, unjuk kemampuan dan bukti memajukan desa budaya

Agenda Kegiatan Dinas Kebudayaan dan UPT Bulan Agustus 2019

Ekskavasi Arkeologi di "Butulan" Jalan Nagan Kulon

Agenda Budaya Bantul dan Kelurahan Budaya Yogyakarta Bulan Agustus 2019

Menerima Kunjungan Studi Banding dari Sekretariat Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya Rumah Jenggotan

Rehabilitasi Bangunan Cagar Budaya SMA N 3 Yogyakarta

Menyajikan data ke- 1-10 dari 562 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (34)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (11)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Kisah Kipas sebagai Senjata Rahasia Wanita
« Kembali

Tanggal berita : Selasa, 10 Juli 2018
Dibaca: 12978 kali

Kalau merasa sumuk (kepanasan), dengan sendirinya kita menggerak-gerakkan sesuatu yang bisa digunakan sebagai kipas, misalnya koran, map plastik, dan lain sebagainya. Kipas sendiri merupakan alat yang biasa digunakan sehari-hari untuk mengurangi rasa kepanasan itu. Kata ”kipas” memang bisa merupakan alat, atau kata kerja untuk menunjukkan tindakan seperti itu. Tukang sate justru menggunakannya, walaupun sedikit berbeda, untuk menambah panas bara arang pada tempat pemanggangan sate. Ada pula yang menggunakan kipas sebagai kelengkapan untuk tari-tarian, dan hiasan di dinding. Sampai sekarang, umumnya seperti itu kegunaan kipas.

Berbeda dengan di Barat (Eropa). Pada satu masa, abad ke-18 dan 19, masa Victoria [pemerintahan Ratu Victoria, Kerajaan Inggris (United Kingdom)], kipas digunakan untuk menyampaikan pesan rahasia. Dari sini terungkap jelas bahwa sebenarnya, banyak kegunaan dan fungsi kipas.

Wanita pada masa Victoria sudah biasa menggunakan kipas (sampai kini pun penggunanya kebanyakan wanita), begitu juga sarung tangan dan payung, bukan sebagai pelengkap semata-mata. Dihias dengan corak dan warna bermacam-macam, kipas bermanfaat pula sebagai bahasa rahasia untuk menarik perhatian atau menyampaikan perasaannya (termasuk kasih sayang) kepada pria. Dengan lain kata, kipas digunakan juga sebagai bentuk percakapan yang khas. Walaupun demikian, mungkin belum tentu si pria bisa memahami bahasa rahasia itu, yang memiliki dua lusin perlambang yang berbeda-beda maknanya.

Pada masa itu, muncul istilah fanologi atau speaking fan (bahasa kipas). Pada kedua sisi kipas terdapat cetakan pertanyaan dan jawaban, berupa tanda dan gerakan dengan kipas. Contoh, kipas ditunjukkan dengan tangan kiri, memutar-mutarnya, artinya ”Saya sudah punya yang lain”; dipegang dengan tangan kiri, di depan wajah, artinya ingin berkenalan; menjatuhkan kipas, artinya kita berteman saja; diletakkan pada pipi kanan, ”Ya”; dan diletakkan pada pipi kiri, artinya ”Tidak”.

Jean-Pierre Duvelleroy, pembuat dan pengecer kipas indah dari Prancis. menerbitkan selebaran yang menjelaskan gerak-gerik berkode dengan kipas (bahasa Prancis, Le Language de L'Eventail) yang digunakan wanita untuk mengatakan sesuatu itu, sebagai cara untuk mendongkrak penjualan kipas, usaha  yang didirikannya di Paris pada 1827. Dia paham bahwa kipas punya tempat istimewa bagi kaum wanita. Sebelum Duvelleroy, ada The Original Fanology or Ladies Conversation Fan yang dibuat Charles Francis Badini di London pada 1797. Hebatnya, sampai sekarang namanya tetap terkenal, dikaitkan dengan kipas indah buatan Prancis sebagai warisan yang langka, selain karena semangat pewarisnya, sehingga dapat bertahan hampir dua ratus tahun (191 tahun).

Kipas menjelma sebagai penguat daya pikat wanita dan menambah rasa percaya dirinya. Joseph Addison menggambarkan arti penting kipas bagi wanita melalui publikasi harian The Spectator di Inggris pada 27 Juni 1711, yang diterbitkan bersama dengan Richard Steele, bahwa wanita punya senjata kipas, layaknya laki-laki yang berpedang.

Awal mula keberadaan kipas, diperkirakan sejak masa Mesir kuno, dilihat pada tinggalan Tutankhamun (raja Mesir), dari ribuan tahun silam (abad ke-13 sebelum Masehi). Temuan ini menunjukkan bahwa kipas digunakan terutama pada acara/upacara kerajaan. Boleh disebut bahwa pada masa itu, kipas masih merupakan barang mewah dan dikaitkan dengan mitos. Bahan dari bulu burung merak, terutama yang bercorak seperti mata, dipercayai sebagai pelindungan bagi yang punya.

Sebelum kertas dan kain lazim digunakan, (daun) kipas dibuat dari kulit binatang (vellum). Gagang kipas pun dibuat dari bahan yang tidak kalah bagus, sehingga terkesan mewah, seperti tempurung kura-kura, gading, tulang, cangkang kerang, logam, atau kayu terbaik.

Meskipun kipas angin listrik telah ditemukan, dan sekarang digunakan di mana-mana, hal ini tidak begitu saja melibas keberadaan kipas tangan. Bisa kita bayangkan bahwa ibu atau ayah menemani anak-anaknya yang akan tidur, mendongengi sambil mengipas-ngipasi dengan kipas tangan (mungkin memang kipas, atau koran, juga benda lainnya yang bisa digunakan untuk mengipas-ngipas), bukan kipas angin listrik.(hen/ppsf)

 
° Berita terkait :  
Agenda Kegiatan Dinas Kebudayaan dan UPT Bulan Agustus 2019
Agenda Budaya Bantul dan Kelurahan Budaya Yogyakarta Bulan Agustus 2019
Deklarasi "Indonesia UFO Network" dalam International SETI Conference #04 2019
Tampil pertama kali pada gelar seni desa budaya di bandara, Semanu percaya diri
Prajurit Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat harus tetap menjaga kekompakan dan kedisiplinan
Singkronisasi Program/kegiatan dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Kota
OHD dalam 80 an Ampuh
2049 opo 2019 ?
Gelar Seni Budaya Yogyakarta 2019 Dalam Rangka Memperingati Hadeging Nagari Ngayogyakarta ke 272
Tim Kesenian Dinas Kebudayaan DIY Membuka ajang Festival "Warno Singyes" Kementerian Dalam Negeri
PENANGSANG DALAM BAYANGAN
"SESAJI NAGARI" ALA KUAETNIKA
Budaya Yogyakarta Menyapa Dunia
Monumen Yogyakarta Sebagai ASEAN City of Culture
Dana keistimewaan untuk kesejahteraan masyarakat bersama
Seminar Budaya Selendang Sutera
KUNJUNGAN SEKOLAH VOKASI UGM
Katalog film online Dinas Kebudayaan DIY, mudahkan khalayak mengetahui perkembangan film dan karya audio visual
Sikap tidak terbius dinamika rekayasa, pelajaran dari lakon Pandawa Dadu atau Wiratha Parwa
Orang Jawa dan Sains
Caping Gunung
Sejarah panjang Panjalu: Keselarasan agung Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan
Dinas Kebudayaan DIY kaji upaya tumbuhkan rasa peduli dan perhatian masyarakat terhadap seni budaya
Manisnya Yogyakarta, Menggugah Para Seniman untuk Berkarya
Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa
Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar
Macam-macam Tingkah Polah Seniman, Biarkan Alam yang Mengurusnya
Nonton Bareng, Warga Dirgantara Asri Peringati Sumpah Pemuda
Menjaring Mutiara Berkilau yang Terpendam dari Ajang Lomba Pencarian Bakat
Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara
Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya
Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?
Meneropong Rekam Jejak Kiprah Begawan Tari Bagong Kussudiardja dan Wisnu Wardhana
Kaghati Kalope: Terkenal di Kancah Mancanegara, Terancam Punah di Negeri Sendiri
BAF# 1 DIGELAR
Mitos, Wacana Lain dalam Pembuatan Film
Dulu Negara Jajahan, Fosil dan Artefak di Indonesia Leluasa Dijarah
Festival Panji Saba Yogya
Zaman Sekarang, Mana Kebanggaan Berbahasa Indonesia-mu?
Tan Jin Sing Menyingsing Lelap Candi Borobudur Setelah Berabad-abad
Penemuan benda (yang diduga) kuno, rawan memicu sifat kemaruk, dan merusak nilai sejarahnya
Nilai Suatu Artefak adalah Nilai Sejarahnya
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
Perilaku Pergaulan Bebas, Ancam Kelestarian Nilai-nilai Budaya Bangsa
Beratnya Upaya Pemulihan Krisis Kepercayadirian Dalang Tradisional Pasca-reformasi
Menumbuhkan Naluri Swasensor dan Sedekah Digital dalam Konvergensi Media
Pengembangan dan Pemberdayaan Dalang Unggulan, Penerus Gaya Yogyakarta
Mandiri dan Profesional, Seniman Bisa Hidup Layak dan Bermanfaat
Kesenimanan dan Kiprah Budaya, Menggerakkan Masyarakat dan Lepas dari Politik
Diaspora Jawa 2017 Di Benteng Vredeburg Yogyakarta
Javanese Diaspora Event III Resmi Dibuka Siang ini
Ratusan Diaspora Jawa akan Berkumpul di Yogyakarta
Potong Tumpeng di Tengah-Tengah Kedung
TRADISI KULONPROGO Hari Ini, Ada Gebyar Seni Pareanom di Kedung Pedut
Disbud dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gelar Lomba Panahan Gaya Mataram
Night at The Museum: Tak Sekedar Jelajah Museum di Malam Hari
Rasakan Sensasi Digulung Ombak di Sekaten Jogja
Sekaten Beda dengan Pasar Malam
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil
Konten Utama Seni Religi di Sekaten
Tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY Tiba di Samarinda
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Hadirkan Nada Gamelan Melalui Piranti Musik Kekinian
Sumbu Filosofis Gambarkan Perjalanan Hidup Manusia
Makin Tersisih, Tampah Jadi Alternatif Medium Lukis
Modal Sosial, Kunci Seni Tradisional Bertahan
Pesta Pertunjukan Karya Pekerja Seni Muda
Pinasthika Creativestival XVII Award Kembali Hadir
Bakal Jadi Duta Santri, Slank Tampil 'Sarungan' di Maguwo
Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2016 Berdayakan Difabel
8 Kota Tanah Air Jadi Tempat Kolaborasi Seniman Indonesia-Inggris
20 Kontingen Ikut FBM 2016
Uji Kompetensi Murid SMKN 1 Kasihan
Perupa Indonesia Pameran di Vietnam
Kirab Gunungan dan Grobak Sapi Meriahkan Merti Dusun Saren
Batik-batik Langka Dipamerkan ke Publik
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah
Gunungan Pakaian Dalam Hingga Barang 'Klithikan' Sita Perhatian Warga
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
Lestarikan Jasa Mbah Demang Cokrodikromo
Tolak Bala, Warga Kidulan Gelar Bersih Dusun
Seni Budaya Bisa Jadi Mesin Ekonomi
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa
Anggaran dipangkas, Pelangi Budaya Selendang Sutera Jalan Terus
Ratusan Orang Ikut Ngalap Berkah Air Jamasan
Ritual Jamasan Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Sekali Setahun Tiap Jumat Kliwon
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Kreativitas Kukuhkan Yogya Kota Berbudaya
Teater Waplo Juara Baca Puisi Remaja DIY
Siang Ini Malioboro Ditutup! Ada Apa?
Karnaval Selendang Sutera #4 di Malioboro
Kemasan Pengaruhi Nilai Jual Batik Tulis
6 Perupa Bali Unjuk Gigi di Jogja
Baron Skeber di Auditorium RRI Yogyakarta
Batik Api Inovasi ala Lugiyantoro
Unik, Show Batik di Bandara Adisutjipto
Asal Mula 2 Oktober Menjadi Hari Batik Nasional
Kumpul Komunitas Dari Merapi Hingga Pantai Selatan
Boko Festival 2016, Hiburan Penuh Makna Bagi Warga Yogyakarta
Lestarikan Seni Tradisi Islami di Masyarakat
Festival Selokan Mataram Siap Digelar Sabtu Ini
Sastrawan Melayu Bakal Kumpul di Yogyakarta
Pameran FKY Jadi Kesempatan Siswa Belajar Karya Seni Rupa
Batal Buat Kejutan, Endank Soekamti Tak Jadi Konser di Tebing Breksi
Ikuti Lomba Napeni Gabah dan Nylumbat Kambil Cuma Disini
Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan
Video Mapping, Kreativitas Anak Yogya Tiada Banding
FKY KULONPROGO, Pemkab Akui Masih Kurang Publikasi
Selama Tiga Hari JFW 2016 Bakal Pamerkan Batik di Yogyakarta
Jogja Fashion Week 2016 Resmi Dibuka Siang Ini
Inilah Rangkaian Agenda Jogja Fashion Week 2016 pada Hari Perdana
Gubernur DIY Hadiri Pawai Jalanan Festival Kesenian Yogyakarta ke-28
Fantastis, 1000 Orang Ramaikan Pawai FKY di Malioboro
Tiup Terompet Bersama Ribuan Warga, Sri Sultan HB X Resmi Buka FKY ke-28
Tebing Breksi Dijadikan Lokasi Big Bang FKY - 28
Kenapa FKY Selalu Identik Dengan Bambu?
Pemilihan Duta Museum DIY Kembali Digelar
 
Statistik
00221585
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945