Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya

Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?

Berkesenian sebagai Sarana Olah Rasa dan Olah Kepekaan

Mau Dibawa ke Mana Peradaban Seni Daerah Istimewa Yogyakarta?

Salah Kaprah Pengenalan Musik, Hambat Tumbuh Kembang Ciri Khas Musik Daerah

Senandung Agus ’Patub’ BN di Balik Jingle Khas Radio di Yogyakarta

Desa Gilangharjo Merealisasikan Program Optimalisasi Sistem Informasi Desa

Menjinakkan Nada Setelah Jatuh Bangun Mengolah Kepekaan Bunyi

"Nyawiji " Persiapan Hari Jadi Desa Srigading 2018

Pendamping Desa Budaya Gilangharjo Berhasil Membuat Packaging Untuk Kerajinan Batik

Menyajikan data ke- 1-10 dari 403 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Penemuan benda (yang diduga) kuno, rawan memicu sifat kemaruk, dan merusak nilai sejarahnya
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 28 Juni 2018
Dibaca: 1596 kali

Ketika menemukan artefak dan fosil purbakala, kecenderungan orang-orang adalah saling berebutan, ingin memiliki duluan. Boleh disebut bahwa tindakan ini didorong sifat kemaruk (serakah), karena hanya memikirkan keuntungan (berupa uang) yang akan didapat, ungkap Didit Hadi Barianto, S.T., M.Si., D.Eng., geolog dari Universitas Gadjah Mada, ahli stratigrafi, paleontologi, dan kuarternari geologi. Didit menyebut uang yang bakal didapat sebagai uang kerohiman.

Kalau orang menemukan fosil utuh, kurang lebih bisa mendapat tiga juta rupiah. Kalau pecahan fosil, satu pecahan dihargai tujuh ratus ribu rupiah. Curangnya, ada seseorang yang menemukan fosil utuh, kemudian dipecah-pecahkan menjadi enam pecahan, karena ingin mendapat upah yang lebih. Dari sudut pandang keilmuan, utuh dengan pecahan, merupakan sesuatu yang berbeda nilainya. Hal ini selalu menjadi perhatian dan keprihatinannya, serta diingatkan pula kepada mahasiswa dan masyarakat. Didit menyadari bahwa memang masih kurangnya upaya penyadaran masyarakat.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa orangnya mengerti, paham ilmu, namun bisa juga menyimpang dari keilmuannya. Yang melanggar bukan orang yang tidak mengerti dan orang kecil (awam) saja, melainkan juga orang yang pintar, mengerti, dan orang besar (berkuasa) pun bisa melanggar. Itu tergantung pada etika dan moral.

Terdorong nafsu tamak ingin mendapat uang cukup banyak, tindakan mereka yang tidak sesuai dengan aturan, rawan mengacaukan nilai sejarah yang mungkin bisa ditemukan. Penemuan suatu benda yang diduga kuno, tanpa melibatkan petugas yang berwenang, justru rentan kemungkinan tidak ditemukan nilai sejarahnya.

Secara teknis, diungkap Didit bahwa setiap lapisan batuan sedimen memiliki keadaan yang mencerminkan umur, proses, dan tingkat pengendapan yang berbeda-beda. Pengambilan, pemindahan suatu fosil, artefak, dan objek arkeologi, dari suatu lapisan batuan, terutama bila posisi lapisan batuannya tidak diketahui, sangat mungkin dapat menghilangkan informasi tentang proses pemindahan/transportasi, penimbunan, dan diagenesis yang terjadi pada saat atau setelah proses pengendapan pada objek paleontologi, bioantropologi, dan objek arkeologi lainnya.

Masih banyak masyarakat yang belum sadar bahwa sebenarnya pada tataran mancanegara (internasional), tindakan merusak keutuhan artefak yang ditemukan, dapat dikenai hukuman penjara. Karena itu, perlu keterlibatan para pihak untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga tempat ditemukannya benda kuno juga, bukan bendanya saja. Kebijakan dari pihak berwenang tanpa diiringi dengan upaya pendekatan pada masyarakat (sosialisasi), tidak ada gunanya.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya
Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?
Meneropong Rekam Jejak Kiprah Begawan Tari Bagong Kussudiardja dan Wisnu Wardhana
Kaghati Kalope, Layang-layang Paling Alami Sedunia
Kaghati Kalope: Terkenal di Kancah Mancanegara, Terancam Punah di Negeri Sendiri
BAF# 1 DIGELAR
Dulu Negara Jajahan, Fosil dan Artefak di Indonesia Leluasa Dijarah
Mitos, Wacana Lain dalam Pembuatan Film
Kisah Kipas sebagai Senjata Rahasia Wanita
Festival Panji Saba Yogya
Zaman Sekarang, Mana Kebanggaan Berbahasa Indonesia-mu?
Tan Jin Sing Menyingsing Lelap Candi Borobudur Setelah Berabad-abad
Nilai Suatu Artefak adalah Nilai Sejarahnya
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
Perilaku Pergaulan Bebas, Ancam Kelestarian Nilai-nilai Budaya Bangsa
Beratnya Upaya Pemulihan Krisis Kepercayadirian Dalang Tradisional Pasca-reformasi
Menumbuhkan Naluri Swasensor dan Sedekah Digital dalam Konvergensi Media
Pengembangan dan Pemberdayaan Dalang Unggulan, Penerus Gaya Yogyakarta
Mandiri dan Profesional, Seniman Bisa Hidup Layak dan Bermanfaat
Kesenimanan dan Kiprah Budaya, Menggerakkan Masyarakat dan Lepas dari Politik
Javanese Diaspora Event III Resmi Dibuka Siang ini
Diaspora Jawa 2017 Di Benteng Vredeburg Yogyakarta
Ratusan Diaspora Jawa akan Berkumpul di Yogyakarta
Potong Tumpeng di Tengah-Tengah Kedung
TRADISI KULONPROGO Hari Ini, Ada Gebyar Seni Pareanom di Kedung Pedut
Disbud dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gelar Lomba Panahan Gaya Mataram
Night at The Museum: Tak Sekedar Jelajah Museum di Malam Hari
Sekaten Beda dengan Pasar Malam
Rasakan Sensasi Digulung Ombak di Sekaten Jogja
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil
Konten Utama Seni Religi di Sekaten
Tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY Tiba di Samarinda
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Makin Tersisih, Tampah Jadi Alternatif Medium Lukis
Hadirkan Nada Gamelan Melalui Piranti Musik Kekinian
Sumbu Filosofis Gambarkan Perjalanan Hidup Manusia
Modal Sosial, Kunci Seni Tradisional Bertahan
Pesta Pertunjukan Karya Pekerja Seni Muda
Pinasthika Creativestival XVII Award Kembali Hadir
Bakal Jadi Duta Santri, Slank Tampil 'Sarungan' di Maguwo
Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2016 Berdayakan Difabel
8 Kota Tanah Air Jadi Tempat Kolaborasi Seniman Indonesia-Inggris
Perupa Indonesia Pameran di Vietnam
Uji Kompetensi Murid SMKN 1 Kasihan
20 Kontingen Ikut FBM 2016
Kirab Gunungan dan Grobak Sapi Meriahkan Merti Dusun Saren
Batik-batik Langka Dipamerkan ke Publik
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah
Gunungan Pakaian Dalam Hingga Barang 'Klithikan' Sita Perhatian Warga
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
Lestarikan Jasa Mbah Demang Cokrodikromo
Seni Budaya Bisa Jadi Mesin Ekonomi
Kesenian Tari Hibur Peserta Funbike Gebyar Museum Pleret
Tolak Bala, Warga Kidulan Gelar Bersih Dusun
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Gelar Budaya Wiladeg, Lestarikan Kesenian Lokal
Anggaran dipangkas, Pelangi Budaya Selendang Sutera Jalan Terus
'Selendang Sutra' Penyatu Mahasiswa
Ratusan Orang Ikut Ngalap Berkah Air Jamasan
Ritual Jamasan Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Sekali Setahun Tiap Jumat Kliwon
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Kreativitas Kukuhkan Yogya Kota Berbudaya
Siang Ini Malioboro Ditutup! Ada Apa?
Teater Waplo Juara Baca Puisi Remaja DIY
Kemasan Pengaruhi Nilai Jual Batik Tulis
Karnaval Selendang Sutera #4 di Malioboro
6 Perupa Bali Unjuk Gigi di Jogja
Baron Skeber di Auditorium RRI Yogyakarta
Batik Api Inovasi ala Lugiyantoro
Asal Mula 2 Oktober Menjadi Hari Batik Nasional
Unik, Show Batik di Bandara Adisutjipto
Kumpul Komunitas Dari Merapi Hingga Pantai Selatan
Boko Festival 2016, Hiburan Penuh Makna Bagi Warga Yogyakarta
Lestarikan Seni Tradisi Islami di Masyarakat
Festival Selokan Mataram Siap Digelar Sabtu Ini
Batal Buat Kejutan, Endank Soekamti Tak Jadi Konser di Tebing Breksi
Pameran FKY Jadi Kesempatan Siswa Belajar Karya Seni Rupa
Sastrawan Melayu Bakal Kumpul di Yogyakarta
Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan
Ikuti Lomba Napeni Gabah dan Nylumbat Kambil Cuma Disini
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan
FKY KULONPROGO, Pemkab Akui Masih Kurang Publikasi
Video Mapping, Kreativitas Anak Yogya Tiada Banding
Selama Tiga Hari JFW 2016 Bakal Pamerkan Batik di Yogyakarta
Inilah Rangkaian Agenda Jogja Fashion Week 2016 pada Hari Perdana
Jogja Fashion Week 2016 Resmi Dibuka Siang Ini
Gubernur DIY Hadiri Pawai Jalanan Festival Kesenian Yogyakarta ke-28
Fantastis, 1000 Orang Ramaikan Pawai FKY di Malioboro
Tiup Terompet Bersama Ribuan Warga, Sri Sultan HB X Resmi Buka FKY ke-28
Kenapa FKY Selalu Identik Dengan Bambu?
Tebing Breksi Dijadikan Lokasi Big Bang FKY - 28
Pemilihan Duta Museum DIY Kembali Digelar
 
Statistik
00220553
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945