Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Pelaksanaan FKY Perlu Dekat dengan Media Massa, dan Tidak Berkonotasi Politik

Pendamping Desa Budaya Gilangharjo bersiap Menyambut Gelar Potensi Desa Budaya Kabupaten Bantul dan Kota 2018

STOP Membuang Sampah Pada Tempatnya !!!

Dulu Negara Jajahan, Fosil dan Artefak di Indonesia Leluasa Dijarah

Mitos, Wacana Lain dalam Pembuatan Film

Nobar piala dunia menjadi berkebudayaan dan edukatif

Tumuruning Wahyu Mataram beraksi menyambut Hut Bantul ke 187

Guyub rukun warga dalam Merti Dusun Nganyang

Arak-arakan Kirab Merti Dusun Ngablak,Sitimulyo,Piyungan

Menyajikan data ke- 1-10 dari 364 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Merosotnya Penggunaan Bahasa Jawa, Laksana Berlayar dengan Kapal Retak
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 24 Mei 2018
Dibaca: 176 kali


Terlepas dari pesan lain yang tersirat, seperti perbedaan pemahaman antarmanusia, perubahan dalam hubungan kemasyarakatan, pada pementasan monolog ”Baitarengka” (arti harfiahnya adalah kapal retak), yang ditulisnya sendiri, terbersit keprihatinan Trisno Santoso ’Pelok’ akan merosotnya penggunaan bahasa Jawa pada kalangan muda. Bila diringkas, dengan lain kata bahwa masa depan bahasa Jawa, suram.

Kenyataan bahwa sejumlah penonton tidak dapat memahami bahasa Jawa yang digunakan sang pemain, walaupun itu bahasa Jawa biasa, bukan tidak disadari Pelok. Meskipun demikian, dia sudah teramat banyak 'mengalahdalam cakapannya, sampai ’meminjam’ kata-kata bahasa Indonesia, karena sadar bahwa banyak kata bahasa Jawa yang telah ditinggal kalangan muda ketika bercakap-cakap dalam pergaulan sehari-hari.

Kecenderungan yang terjadi pada kalangan muda itu, tidak menyurutkan semangat Pelok, aktor panggung berpengalaman dari Teater Gapit Surakarta, untuk tetap menggunakan bahasa Jawa pada setiap pementasannya. Dia merasa terdorong dan ikut bertanggung jawab untuk terus mengingatkan masyarakat akan pentingnya penggunaan bahasa daerah.

Sikap tegas Pelok diharapkan seniman muda teater Surakarta, Budi Bodhot Riyanto dan Oedin UPW, dapat mendorong tumbuh kembangnya banyak pementasan dalam bahasa Jawa, sekaligus naskah teater dan naskah monolog bahasa Jawa. Owot Sarwoto, seniman panggung dari Salatiga, bahkan ingin pentas keliling kampung dan pedesaan. Menurut dia, hal ini penting, supaya masyarakat bisa akrab lagi dengan bahasa asli (ibu)-nya.(hen/ppsf)

 
° Berita terkait :  
Merentangkan Benang Merah Sejarah Bahasa Jawa: Tidak Pernah Ada Bukti Empiris, Seribu Tahun Lalu Masyarakat Jawa Berbahasa Ngoko atau Krama
Sekolah Jawa sebagai Upaya Pencerahan terhadap Baca Tulis Aksara Jawa
Menyikapi Bahasa Tutur dan Bahasa Baku dalam Bahasa Jawa
Aksara Jawa Bangun Karakter Generasi Muda
Disbud DIY Akan Bagikan Majalah Berbahasa Jawa Gratis untuk SD di Wilayah DIY
Dinas Kebudayaan DIY Gelar Dialog Publik Gerakan Literasi Aksara Jawa
'Sempulur' Lestarikan Bahasa dan Sastra Jawa
Kesenian Jawa Digelar Sepanjang Malioboro
Kongres Bahasa Jawa Bakal Digelar di Yogyakarta
Peran Penting Panatacara bagi Bahasa Jawa
 
Statistik
00220308
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945