Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Budaya Sebagai Sumber Berekspresi Bidang Seni Rupa

Pelatihan Tari Jathilan Anak Sebagai Upaya Menanamkan Kecintaan Terhadap Seni Budaya Sejak Dini

Sendratatri Dewi Sri dengan Properti Artistik di Bumi Krekah

Upacara Adat Tradisi Wiwitan di Desa Budaya Gilangharjo

Study Banding Pendamping Seni Budaya Kabupaten Kulonprogo di Desa Dlingo Bantul

Pelatihan Tata Rias dan Busana, Kelurahan Kricak

Tirta Giri Agung ,Merti Dusun Koripan 1 Dlingo

"Umbul Donga Kali Belik" Kelrurahan Terban

Peran Bumi Panggung dalam memajukan Kelompok Seni Budaya di Panggungharjo

Seni Budaya Menuju Generasi Anak Berkarakter Budaya Indonesia

Menyajikan data ke- 1-10 dari 383 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Kearifan Jawa dalam Tedhak Sungging, agar Orang Jawa Tidak Kehilangan Jawa-nya
« Kembali

Tanggal berita : Rabu, 11 April 2018
Dibaca: 1576 kali

Dulu, anak keturunan selalu diberi ruang/kesempatan untuk mengetahui tedhak sungging-nya (peta diri yang menghubungkan seseorang dengan leluhurnya). Hal ini dilakukan secara bertahap, perlu proses, dan bukan seketika. Orang tua (bapak, eyang/mbah) sering mengajak anak keturunannya berziarah, untuk mengetahui leluhur, atau bersilaturahmi dengan sanak kadhang. Tindakan ini dilakukan sebagai upaya pengenalan tedhak sungging, walaupun secara tidak langsung.

Herman Sinung Janutama (sejarahwan, budayawan, dan peneliti filsafat Jawa) punya perhatian terhadap tedhak sungging [silsilah keturunan (genetika)], yaitu menelusuri garis keturunan seseorang, supaya kecenderungan ini bisa menghasilkan. Karena itu, Herman percaya bahwa bila tidak dilakukan demikian, tidak mungkin seseorang bisa sepenuhnya menjalani pilihan dalam hidupnya itu (mencapai totalitas).

Orang Jawa memang harus demikian, ”kudu ngerti, jejere awakku iki piye”. Juga bukan sekolah apa, jadi apa, melainkan ”kowe iki sapa?” Bisa juga, tedhak sungging itu diumpamakan melalui pembandingan diri dengan tokoh pewayangan, senangnya Wrekudara, atau mungkin Sencaki, dan lain sebagainya.

Seperti pernyataan Sultan Hamengku Buwana Kesembilan, ketika jumenengan (naik takhta). Beliau menyadari akan zaman yang sudah modern, sehingga takhtanya untuk rakyat, namun ditegaskan juga bahwa ”sapa sira, sapa ingsun”. Hal ini bukan menantang atau mengajak tarung, melainkan untuk saling menyadari jejak trah (silsilah)-nya. Dengan demikian, orang Jawa itu (sepatutnya) mengerti ukuran (kedudukan) dirinya sendiri, dan tidak berlebih-lebihan memperhitungkan hal itu. Kalau bukan demikian, menurut Herman, itu orang Jawa yang hilang Jawa-nya.

Tedhak sungging juga bisa digunakan sebagai upaya pencarian jalan keluar terhadap permasalahan mengenai penerus raja di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Masalahnya, ungkap Herman, bukan pada setuju atau tidak setuju, melainkan pada bagaimana caranya mendudukkan permasalahan itu (nyongkok).

Kalau pada masa kerajaan-kerajaan dulu, masalah seperti itu di dalam kraton, menjadi pemikiran empu, pujangga, dan/atau para wali. Pada zaman sekarang, tidak ada, sehingga perlu menentukan sikap, mau mengikuti kebijaksanaan atau kearifan sebagai orang Jawa, yaitu dengan bertindak berdasarkan tedhak sungging-nya, menarik garis dari para leluhur [kerajaan-kerajaan dulu (leluhur), sebelum Yogyakarta], atau tidak.

Mengacu pada masa pemerintahan raja-raja Yogyakarta (sejak 1755 sampai dengan sekarang), dari hamengku buwana pertama hingga kesepuluh, belum ada raja perempuan, karena rentang waktu berjalannya kerajaan ini, terbilang masih baru. Bandingkan dengan Kerajaan Majapahit, yang rentang waktu pemerintahannya cukup lama, dan  sudah punya raja perempuan. Karena itu, mungkin perlu seratus atau seratus lima puluh tahun lagi bagi Yogyakarta untuk punya raja perempuan, atau sekaranglah waktunya untuk itu, karena takdir Tuhan bahwa tidak ada calon raja (penerus langsung) yang laki-laki.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
BAF# 1 DIGELAR
Festival Panji Saba Yogya
Festival Karawitan Putri Kab. Kulonprogo
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
TURI SEBAGAI TEMPAT AJANG FERSTIVAL KETHOPRAK TINGKAT KABUPATEN SLEMAN 2018
Beda Gaya Surakarta dengan Yogyakarta, Bukan Bahan Olok-olok
Cabeyan Merti Dusun
GENDERANG JOGJA MUSIK SESSION UNTUK GENERASI MUDA
Puisi Seketika Di Museum "Pengasong Kata Bersafari Dalam Kota #1"
Pendalaman Materi dalam Rangka Pengingkatan Kapasitas Pemandu Museum Gunungapi Merapi
Ngopi Di Museum
Permainan Masangin: Kalah atau Menang, Sama-sama Senang
Perlakuan Masyarakat Setouchi terhadap Ruang Publik, Bagaimana di Yogyakarta?
Rumah Budaya Winong dan Sumber Daya Budaya di Kotagede
Gelar Budaya Kearifan Lokal di Sumberan Sleman
PBTY Tonjolkan Warna Warni Budaya Nusantara
'Open Call Application' ART|JOG|10 – 2017
Kalender Wisata di Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Sepanjang Tahun 2017
Sampaikan Pesan Persatuan Melalui Upacara
Kirab Bregada Warnai HUT ke-70 Desa Pakembinangun
Batik Ayu Arimbi Desa Pandowoharjo Merambah Hingga Luar Negeri
Kulonprogo Gelar Acara Batik on The Street
Gamelan Sekaten Ini Bakal Silence Pada Malam Jumat, Kenapa?
Magis...Alunan Gending Gamelan Pusaka di Masjid Gede Kauman
Gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu Ditabuh di Bangsal Ponconiti
Udhik-udhik Sebagai Wujud Kepedulian Raja Mensejahterakan Rakyatnya
Miyos Gongso Sekaten, GKR Mangkubumi Sebar 'Udhik-Udhik'
Festival Jathilan Warnai HUT ke-70 Desa Condongcatur
1000 Apem dan Lemper Diarak Keliling Tugu
Kesamaan Historis Kraton Yogyakarta dan Kutai Kartanegara
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kalimat Sekaten Itu Asalnya Gimana Sih?
Festival Budaya Menoreh 2016 Berlangsung Meriah
Wanita Timika Jajal Budaya Yogya di Omah Kecebong
Tradisi Sarat Makna Spiritual yang Masih Terjaga
Anggaran dipangkas, Pelangi Budaya Selendang Sutera Jalan Terus
Wayang Jogja Night Carnival Siap Digelar untuk Semarakkan HUT ke-260 Yogyakarta
Mubeng Beteng, Sarana Introspeksi Orang Jawa
Antusiasme Masyarakat Pada Seni dan Budaya Tinggi
Festival Pelangi Budaya Bumi Merapi Kembali Digelar Di Yogyakarta
25-26 September, Ada International Street Performance di Jalan Marga Utama
Gejog Lesung Lestarikan Seni Kerakyatan
Disbud DIY Bersama Matra Akan Gelar Festival Gejog Lesung Keistimewaan
Melanesia: Mengenal Masyarakat Indonesia Timur Melalui Budaya
Gelar Budaya Yogyakarta Sajikan Sendratari dan Wayang Wong
Gelar Budaya Jogja Sebagai Wadah Perenungan Eksistensi Kebudayaan
4 Tari Klasik Tampil di Gelar Budaya Jogja 2016
Perjalanan Sejarah Masjid Perak Kotagede Yogyakarta
Mengunyah Sejarah Ketupat
Desa Sembungan Rintisan Desa Wisata Batik di Kulon Progo
Makna dan Sejarah Kemunculan Kolak di Bulan Ramadhan
Menapak Sejarah Penamaan Kampung dengan Bregada Kraton
Satu-satunya Rumah Joglo di Eropa Berdiri Megah di Slovenia
52 Places to Go in 2014
Anugerah Budaya Tahun 2013
Ini 10 Kontingen Terbaik Pawai Nusantara
 
Statistik
00220408
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945