Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Merosotnya Penggunaan Bahasa Jawa, Laksana Berlayar dengan Kapal Retak

Polemik Tanggal dan Tempat Lahir Wage Rudolf Soepratman, Usik Upaya Pelurusan Sejarahnya

Ngayogjazz di Petilasan Selo Gilang

Misteri Topeng Panji

Beda Gaya Surakarta dengan Yogyakarta, Bukan Bahan Olok-olok

Kearifan Jawa dalam Tedhak Sungging, agar Orang Jawa Tidak Kehilangan Jawa-nya

Merentangkan Benang Merah Sejarah Bahasa Jawa: Tidak Pernah Ada Bukti Empiris, Seribu Tahun Lalu Masyarakat Jawa Berbahasa Ngoko atau Krama

Pertunjukkan Rama Shinta Modern di Dusun Gunting, Gilangharjo

"JEJOGEDAN" di Pendopo Graha Budaya, Trimurti

Pertunjukkan Rama Shinta Modern di Dusun Gunting, Gilangharjo

Menyajikan data ke- 1-10 dari 332 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Merentangkan Benang Merah Sejarah Bahasa Jawa: Tidak Pernah Ada Bukti Empiris, Seribu Tahun Lalu Masyarakat Jawa Berbahasa Ngoko atau Krama
« Kembali

Tanggal berita : Rabu, 4 April 2018
Dibaca: 880 kali


Para ahli bahasa menyatakan bahwa bahasa Jawa berasal dari bahasa Melayu kuno dan bahasa Jawa kuno (Kawi), kemudian berkembang menjadi bahasa Jawa seperti sekarang. Meskipun demikian, hal ini dipertanyakan Ki Sondong Mandali [Djoko Winarto, 11 Mei 1951−21 Oktober 2015)], penulis kawruh kejawen. Menurut Ki Sondong, andai masyarakat Jawa pada zaman kuno menggunakan bahasa Kawi (Jawa kuno), pastilah ada masyarakat di desa-desa terpencil sekarang ini yang masih menggunakan secara aktif. Kenyataannya, bahasa Kawi atau Jawa kuna malah tidak ada bekasnya sama sekali dalam pergaulan masyarakat. Seandainya ada perubahan, tentu tidak banyak. Semakin terpencil perdesaan di Jawa, bahasa Jawanya semakin medhok.

Bahasa pergaulan orang Jawa sejak zaman kuno hingga sekarang, tetap (ajeg) menggunakan bahasa Jawa yang sekarang. Masyarakat awam bergaul sehari-hari dengan bahasa Jawa ngoko atau krama. Setiap daerah punya bahasa dan dialek setempatnya masing-masing. Mungkin saja terdapat perbedaan, namun cenderung dalam hal perbendaharaan kata, karena sulit mengubah bahasa suatu bangsa yang dapat merata sampai di pelosok-pelosok.

Bahasa Kawi tidak digunakan sebagai bahasa sehari-hari masyarakat awam (kawula alit) Jawa, dan mereka tidak paham sama sekali dengan bahasa tersebut. Bahasa Sanskerta, Melayu kuno dan Kawi, digunakan sebagai lingua franca, artinya bahasa pergaulan antarnegara (kerajaan) di Nusantara. Bahasa tersebut merupakan bahasa ’elit’ (kalangan terbatas saja yang mempergunakan dan memahami), bahkan mungkin digunakan dalam lingkungan terbatas di kraton (bangsawan), atau terkait dengan keagamaan (brahmana).

Menanggapi pendapat Ki Sondong Mandali (Djoko Winarto) tersebut, bahwa bahasa pergaulan masyarakat Jawa sejak zaman kuno hingga sekarang, tetap (ajeg) menggunakan bahasa Jawa yang sekarang (ngoko atau krama), Paksi Raras Alit (pemerhati bahasa Jawa) menyatakan, terkait dengan pengajaran sejarah bahasa Jawa, bahwa selama belum ada bukti lisan (bukti fakta yang patut dan ilmiah), tidak dapat diambil suatu simpulan tentang penggunaan bahasa Jawa dalam percakapan pada zaman dahulu.

Bukti yang sekarang ditemukan adalah bukti tertulis (tulisan) dalam bahasa Jawa kuno dan Sanskerta. Boleh disebut bahwa bahasa Jawa kuno dan Sansekerta memang digunakan untuk kalangan tertentu, seperti bangsawan, dan brahmana. Sedangkan bukti verbal (terucapkan atau rekaman suara), yang menjelaskan bahwa dari dulu, misalnya, pada tahun 1500, atau 1000, masyarakat Jawa menggunakan bahasa ngoko atau kromo, tidak pernah ada bukti empiris. Tidak diketahui mengenai bahasa yang digunakan masyarakat Jawa pada waktu itu. Dengan demikian, diingatkan Paksi Raras Alit mengenai perlunya kehati-hatian terhadap pernyataan yang disampaikan kepada masyarakat, bahwa suatu pendapat tidak dapat dibenarkan tanpa bukti yang empiris atau hanya sebatas dugaan.

Dasar pernyataan Ki Sondong Mandali, dari teori berbahasa bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai wahana berkomunikasi, juga memiliki peran sebagai sarana mempertunjukkan (alat ekspresi) budaya yang mencerminkan bangsa penggunanya. Kecakapan berbahasa suatu bangsa adalah cerminan budaya bangsa yang terwujud dalam sikap berbahasa itu sendiri. Teori yang dimaksud adalah pengertian bahasa yang dirumuskan Panitia Perumus Kurikulum Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan Nasional, untuk sekolah menengah kejuruan, pendidikan menengah kejuruan, pada 2003.(hen/ppsf)

 
° Berita terkait :  
Merosotnya Penggunaan Bahasa Jawa, Laksana Berlayar dengan Kapal Retak
Sekolah Jawa sebagai Upaya Pencerahan terhadap Baca Tulis Aksara Jawa
Menyikapi Bahasa Tutur dan Bahasa Baku dalam Bahasa Jawa
Aksara Jawa Bangun Karakter Generasi Muda
Disbud DIY Akan Bagikan Majalah Berbahasa Jawa Gratis untuk SD di Wilayah DIY
Dinas Kebudayaan DIY Gelar Dialog Publik Gerakan Literasi Aksara Jawa
'Sempulur' Lestarikan Bahasa dan Sastra Jawa
Kesenian Jawa Digelar Sepanjang Malioboro
Kongres Bahasa Jawa Bakal Digelar di Yogyakarta
Peran Penting Panatacara bagi Bahasa Jawa
 
Statistik
00220138
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945