Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
POJOK KAMUS (KAMIS MUSEUM) : Perabotan "PAWON AGENG"

TOT Moekti Seni Rupa 2019

Semangat Desa Semin, Gunungkidul, mengembangkan sumber daya budayanya

Upacara adat rasulan, bersih dusun di Tegalsari, Desa Semin, Gunungkidul

POJOK KAMUS (KAMIS MUSEUM) : Koleksi Museum Monumen Jogja Kembali

PENANGSANG DALAM BAYANGAN

Pemutaran Film di Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta

Pensiunan PLN Gowes Bareng ke Museum Sejarah Purbakala Pleret

"SESAJI NAGARI" ALA KUAETNIKA

Budaya Yogyakarta Menyapa Dunia

Menyajikan data ke- 1-10 dari 465 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Menjaga Semangat Film Danais yang Membawa Harapan (Optimisme) Masyarakat Yogyakarta
« Kembali

Tanggal berita : Selasa, 20 Maret 2018
Dibaca: 3362 kali

Selama ini, terlalu banyak film danais yang dianggap juri sayembara pembuatan film, membawa pesimisme. Karena itu, sekaranglah saatnya kesempatan untuk membawa harapan (optimisme) yang mewarnai film danais. Semangat itu yang selalu dijaga. Secara visual juga menarik, bukan muram, melainkan riang..Bukan menarik secara teks saja.

Dua film dokumenter dan lima film fiksi (masing-masing terdiri dari Tekong Terakhir, Kembalilah dengan Tenang, Salam Aspal Grunjal, Rong,  Loz Jogjakartoz, Tilik, dan Jagawarga), yang lolos dari babak pitch, yang telah dilaksanakan pada Kamis, 15 Maret 2018, mendapat sorotan berarti dari dewan juri sayembara film dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka (pembuat film) harus yakin dengan jalan cerita, dan dipastikan sejak awal. Misalnya, ingin menggambarkan demitologi, ternyata kemudian menguatkan mitos. Walaupun pembuat film boleh mengungkap gagasannya secara luas, mereka harus menjaga nilai-nilai budaya, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Indonesia pada umumnya.

Jangan sampai terungkap pada film mereka, kasar yang keterlaluan, baik pada pernak-pernik, kekerasan, maupun pengungkapan bahasanya. Hindari konten vulgar, termasuk kekerasan (tayang pada televisi dan dinas kebudayaan, menjadi pertimbangan). Meskipun dinilai fasih menuangkan cerita menjadi film, masalah teknis juga tidak perlu dipermasalahkan, tetapi melanggar etika, film seperti itu justru bermasalah.

Pembuat film pun harus tanggap dengan perkembangan sekarang. Logika cerita juga dipertimbangkan. Banyak yang harus dibenahi, misalnya pendalaman konflik, pemilihan properti, pemeranan (casting), dan lain-lain. Bila diperlukan, juga mengambil gambar dengan sudut yang banyak atau bermacam-macam sudut pengambilan. Storyboard untuk adegan laga sangat diperlukan. Kalau tanpa itu, sama dengan shoting tanpa shot list.

Ketika membuat film, memang merupakan kesempatan untuk meluaskan nilai eksperimental, namun disarankan menyewa tenaga ahli, bila hal itu memungkinkan. Tindakan meniru pun boleh saja, namun tidak perlu sampai tampak pada bahasa badan (gestur), kostum, termasuk kelengkapan/peralatannya. Pembuat film harus berani berprakarsa, menggali keanekaragaman budaya, corak, dan warna khas Yogyakarta, bukan membuat ulang yang sudah ada, apalagi yang sudah dibakukan.

Terkait dengan upaya pengendalian anggaran, dan tertib pembuatan film, supervisor  ingin bahwa kesepakatan peserta (pembuat film danais DIY) dengan supervisor, dituangkan pada nota kesepahaman (MoU). Karena itu, mereka boleh protes, kalau tidak ada (peraturan) pada MoU.

Pembuatan film danais mengerucut pada penilaian bahwa suatu film memang pantas dibuat dengan dana keistimewaan. Anggaran pembuatan film disampaikan kepada peserta secara bertahap, setelah mereka melalui sejumlah tahapan supervisi, dan melengkapi seluruh persyaratan administrasi.

Rapat dewan juri (kurator), terdiri dari Dwi Sujanti Nugraheni, Indra Tranggono, dan AjishDibyo (Dyna Herlina Suwarto, S.E., M.Sc., dan Ifa Isfansyah tidak hadir)  dengan supervisor, yaitu Senoaji Julius, Liza Anggraeni, Greg Arya, dan Alia Damaihati (R.M. Altiyanta tidak hadir), pada Senin, 19 Maret 2018, diadakan sebagai masukan catatan kuratorial terhadap tujuh film yang lolos pitch pada sayembara pembuatan film dengan dana keistimewaan DIY 2018. Kegiatan tersebut dihadiri juga Kepala Seksi Seni Kontemporer, merangkap plt. kepala seksi perfilman, Dra. Sri Eka Kusumaning Ayu, dan dilaksanakan di ruang Gatotkaca, lantai tiga, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Pemutaran Film di Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta
Pemutaran Film di Desa/Kelurahan/Kecamatan
Pemutaran Film di Desa/Kelurahan/Kecamatan
Pemutaran film di Desa
BIOSKOP JUMAT
Dari Kampung Cepit, Condongcatur, Mengalir Semangat Persahabatan Manusia dengan Sungai
Cukup Sulit, Pemilihan Proposal Sayembara Pembuatan Film Dana Keistimewaan DIY 2018
Pemutaran Film di Desa Semakin Semarak dengan Kendaraan Khusus Film
Nilai Sebuah Film yang Patut Diperhitungkan, Selain Memenangi Festival
Perfilman sebagai Unggulan Industri Kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta
Menuju Industri Film di Daerah yang Sehat dan Beraneka Ragam
Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang
Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film, demi Karya yang Bermutu
Penyutradaraan: Bicara Tuntutan Jalan Cerita, Bukan Ambisi dan Kebanggaan
Totalitas Peran, Puncak Capaian dalam Seni Peran dan Bernilai Tinggi
Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara
Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum
Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta
Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”
”Ayo, Main”, Anak-anak Punya Hak Bermain
Oleh-oleh Empon-emponan dari Kulon Progo
Upaya Pertemukan Budaya Timur dan Barat Lewat Pertunjukan Setan Jawa di Melbourne
108 Layar di 3 Lokasi, JAFF Targetkan 10 Ribu Penonton
Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 Siap Digelar
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kisahkan Narasi 'Jogja Kembali' yang Terpenggal
Penggarapan Film yang Didanai Danais Telah Mencapai 60 Persen
 
Statistik
00221006
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945