Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Polemik Tanggal dan Tempat Lahir Wage Rudolf Soepratman, Usik Upaya Pelurusan Sejarahnya

Ngayogjazz di Petilasan Selo Gilang

Misteri Topeng Panji

Beda Gaya Surakarta dengan Yogyakarta, Bukan Bahan Olok-olok

Kearifan Jawa dalam Tedhak Sungging, agar Orang Jawa Tidak Kehilangan Jawa-nya

Merentangkan Benang Merah Sejarah Bahasa Jawa: Tidak Pernah Ada Bukti Empiris, Seribu Tahun Lalu Masyarakat Jawa Berbahasa Ngoko atau Krama

Pertunjukkan Rama Shinta Modern di Dusun Gunting, Gilangharjo

"JEJOGEDAN" di Pendopo Graha Budaya, Trimurti

Pertunjukkan Rama Shinta Modern di Dusun Gunting, Gilangharjo

Karawitan Ngesti Budoyo Ngemplak, Srigading

Menyajikan data ke- 1-10 dari 331 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Perfilman sebagai Unggulan Industri Kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta
« Kembali

Tanggal berita : Senin, 18 Desember 2017
Dibaca: 1420 kali

Apapun alasannya, perfilman menjadi bagian dari dunia kreatif (daya cipta). Di mana pun, sekarang ini sedang menjadi pemikiran bahwa kreativitas, bisa didongkrak melalui karya-karya budaya atau karya seni, salah satunya film. Setiap periode pendanaan yang dilakukan, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Drs. Umar Priyono, M.Pd., bercita-cita bahwa perfilman menjadi unggulan (breakthrough) untuk industri kreatif, mengingat dari banyak segi, DIY punya keterbatasan; provinsi yang kecil dan miskin, APBD terkecil di Jawa, bahkan danais-nya terkecil se-Jawa Bali. Walaupun demikian, hal ini diharapkan bukan sebagai penghambat (constraint) mempertahankan semangat untuk pemajuan kebudayaan. Begitu pula good will, political will, dan tekad bersama-sama untuk memajukan kebudayaan.

Ketika mendapat capaian tertinggi (penghargaan), patut disyukuri, dan merupakan pelecut bagi filmmaker, atau siapa pun yang bergerak pada bidang perfilman, untuk makin mengasah kepiawaiannya, dan terus menghasilkan sesuatu yang baru. Dengan gambar, bisa bercerita seribu hal, seribu makna di balik gambar. Dikemukakan kepala dinas, Bekraf (badan ekonomi kreatif) pernah menyebut bahwa membuat film merupakan cara yang sangat kreatif dan mudah dilakukan, kalau ada kompetensi. Meskipun demikian, ada niat dulu, ada semangat, yang justru menurut kepala dinas, nantinya bisa membentuk pandangan baru, juga resonansi baru sebuah identitas.

Daerah Istimewa Yogyakarta tidak perlu sampai percaya diri yang berlebihan untuk berperan dalam kebudayaan, namun diharapkan bisa menjadi inspirasi atau sesuluh (penerang) bagi daerah yang lain, dalam bingkai pemajuan kebudayaan nusantara. Kalau antardaerah di Indonesia sama atau mendekati tingkat kemajuannya, komunitas penggeraknya punya platform yang bisa saling mendekati atau bersaing, Indonesia punya kedudukan kuat di kancah global. Karena itu, jalinan pertemanan, kebersamaan antardaerah ini diharapkan bisa dikembangkan terus. Perlu diperhatikan hal-hal yang secara produktif bisa mendongkrak kebudayaan di nusantara.

Patut diakui bersama bahwa keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan kekuatan masing-masing yang dimiliki daerah, ungkap Suluh Pamuji, peneliti dan programmer, sehingga yang dipakai berbagi adalah pendekatannya, cara mengelola lokalitas, keunikan permasalahan di Yogyakarta, dengan dimensi adat tradisinya, komunitas, dan lain-lain. Ini mengenai cara berbagi pengetahuan.

Butuh waktu sepuluh tahun untuk bisa, ibarat menjentikkan jari (klik), boleh disebut cukup mudah untuk menghasilkan sesuatu yang berarti, dan ternyata sangat luar biasa, tidak ada yang mubazir. Secara mental, daya cipta, dan anggaran, Daerah Istimewa Yogyakarta siap. Meskipun demikian, harus juga dipahamkan kepada komunitas film di daerah lain bahwa tidak terlihat mudah sebenarnya. Masa-masa susah, sepuluh tahun lalu, memang dialami masyarakat perfilman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika sudah beranjak pada sesuatu yang nyaman, tantangan baru datang lagi; akuntabilitas, peningkatan mutu, dan lain-lain.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
BIOSKOP JUMAT
Menjaga Semangat Film Danais yang Membawa Harapan (Optimisme) Masyarakat Yogyakarta
Dari Kampung Cepit, Condongcatur, Mengalir Semangat Persahabatan Manusia dengan Sungai
Cukup Sulit, Pemilihan Proposal Sayembara Pembuatan Film Dana Keistimewaan DIY 2018
Pemutaran Film di Desa Semakin Semarak dengan Kendaraan Khusus Film
Nilai Sebuah Film yang Patut Diperhitungkan, Selain Memenangi Festival
Menuju Industri Film di Daerah yang Sehat dan Beraneka Ragam
Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang
Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film demi Karya yang Bermutu
Penyutradaraan: Bicara Tuntutan Jalan Cerita, Bukan Ambisi dan Kebanggaan
Totalitas Peran, Puncak Capaian dalam Seni Peran dan Bernilai Tinggi
Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara
Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum
Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta
Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”
”Ayo, Main”, Anak-anak Punya Hak Bermain
Oleh-oleh Empon-emponan dari Kulon Progo
Upaya Pertemukan Budaya Timur dan Barat Lewat Pertunjukan Setan Jawa di Melbourne
108 Layar di 3 Lokasi, JAFF Targetkan 10 Ribu Penonton
Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 Siap Digelar
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kisahkan Narasi 'Jogja Kembali' yang Terpenggal
Penggarapan Film yang Didanai Danais Telah Mencapai 60 Persen
 
Statistik
00220130
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945